Padang - Perbedaan adat perkawinan di Sumbar diangkatkan ke layar kaca oleh
mahasiswa Jurusan
Televisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Ferdinand Almi. Tak terkira bangganya dia saat film karyanya menarik perhatian para juri menjadikannya sebagai nominator Piala Maya 2014.
Salisiah adat judul film hasil garapan bersama
teman-temannya itu dinominasikan untuk kategori Film Daerah Terpilih
2014. Karya sineas muda Sumbar ini terpilih masuk nominasi dalam
festival yang digagas media Film Indonesia. Ajang untuk ketiga kalinya
ini bertema "Cinta Cita Cipta Film Indonesia".
Terpilihnya karya Ferdinand setelah melalui penjurian yang
menggunakan 3 sistem Komite : Komite Seleksi (dari kalangan masyarakat
dan pencinta film), Komite Kategorisasi (dari kalangan pelaku industri
film dan sineas) dan Komite Umum (dari kalangan tokoh masyarakat,
praktisi dan ilmuwan). Ferdinand Almi ketika dihubungi menyampaikan rasa
bangganya atas terpilihnya Film “Salisiah Adaik” masuk dalam nominasi
penghargaan di tingkat nasional. Apalagi flim yang bercerita tentang
perbedaan adat yang dimiliki oleh beberapa daerah di Minangkabau.
“Kita ingin mengangkat sesuatu perbedaan adat yang dimiliki
oleh beberapa daerah di Sumatera Barat, terutama adat perkawinan yang
ada di Pariaman dengan adat di Limapuluh Kota. Apalagi, perbedaan kedua
adat tersebut sangat bertolak belakang satu sama lainnya,” kata
Ferdinand Almi.
Disampaikannya, seperti kata pepatah 'Lain Lubuak Lain
Ikannyo, Lain Padang Lain Ilalang'. Setiap daerah dimanapun memiliki
adat dan tradisi yang berbeda. Hal inilah yang menjadi inspirasinya
sebagai penulis sekaligus sutradara film “SalisiahAdaik” yang diproduksi
oleh Brisickzz Production.
Dijelaskannya film bercerita tentang kisah dua sejoli yang
memiliki tata cara pernikahan yang berbeda. Muslim dan Rosa, dua sejoli
yang memutuskan hubungan cinta diantara mereka berlanjut ke pelaminan.
Muslim adalah bujang dari Pariaman, sementara Rosa adalah
gadis Payakumbuh.
Pernikahan bagi keluarga Muslim dengan adat Pariaman
mengatakan bahwa Muslim harus menerima uang jemputan dari calon istri.
Sedangkan bagi Rosa adatnya tidak mengenal istilah uang jemputan. Rosa
memakai adat Payakumbuh yang menyatakan bahwa Muslim harus melaksanakan
adat sasuduik. Sasuduik adalah kewajiban calon pengantin laki-laki
dalam melengkapi perlengkapan kamar calon istri. Perlengkapan tersebut
mulai dari tempat tidur, lemari, meja rias dan lain sebagainya.
Inilah pangkal polemik diantara keduanya. Bagaimana mereka
berhadapan dengan pusaran dilema itu diolah apik oleh Ferdinand. Dia pun
memilih pemain yang terlibat dalam film ini adalah penduduk asli
Pariaman dan Kabupaten Limapuluh Kota untuk memperkuat dialegtika
masing-masing daerah. Nagari VII Koto Kecamatan Guguak, Kabupaten 50
kota pun menjadi pilihan untuk lokasi syuting, karena daerah tersebut
memiliki alam yang masih asri, dengan rumah adat Minang yang masih
terjaga keutuhannya, begitu pula dengan bangunan-bangunan lain yang
mendukung settingan dan konsep keadaan minang tempo dulu.
Dikatakannya semua crew yqng terlibat adalah mahasiswa
Institut Seni Indonesia Padangpanjang yang mayoritas angkatan 2011 dan
2012. Uniknya lagi, proses pembuatan film Salisiah Adaik tidak memakan
waktu yang lama maupun biaya yang besar. "Film ini awalnya hanya untuk
tugas semester PratikaTerpadu Penciptaan,” sebutnya.
Tidak mau berakhir hanya sebagai tugas, lanjutnya, seluruh
crew “SalisiahAdaik” memutuskan untuk mengadakan pemutaran film perdana
yang bertempat di gedung utama Taman Budaya Sumatra barat, pada 19
Februari lalu dan mengirimkannya ke panitia Piala Maya 2014.
“Malam penghargaan Piala Maya ini akan diselenggarakan pada
tanggal 20 Desember mendatang di Museum Gajah Jakarta. Kami juga
memohon doa dan dukungannya dari civitas ISI Padangpanjang dan
masyarakat Sumatera Barat, agar film kami ini juga bisa menjadi peraih
penghargaan tersebut,” harapnya. (Zul)


2 komentar :
film nya emng di perbolehkan di shere atau gimana ya
ada yg shere di youtube
saya lihat link resmi blom ada
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya