Padang - Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang kurang mampu. Anak-anak mereka yang menuntut ilmu di sekolah dasar diberikan makanan tambahan.
"PMTAS yang dilaksanakan sejak tahun 2000 ini terbukti bisa memotivasi anak-anak yang orang tuanya kurang mampu untuk semangat dalam belajar. SD 23 Pegambiran Ampalu yang sukses menjalankan program ini, seluruh lulusannya diterima di SMP Negeri," ujar Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kota Padang yang didampingi Kabid Pemberdayaan Masyarakat, Ermiati, Selasa (6/1).
Dari penelusuran di lapangan, umumnya anak-anak yang orang tuanya kurang mampu mengalami peningkatan minat belajar yang cukup signifikan. Mereka yang tadinya kurang semangat, terlihat letih dan lesu saat belajar di sekolah, tampak lebih ceria. Minimal pada hari yang ditentukan ada makanan tambahan di sekolah, biasanya seluruh anak hadir. Mereka pun lebih ceria dari biasanya.
Cara ini pun diyakini cukup efektif dalam memberdayakan masyarakat ekonomi lemah. Si anak tentu bercerita kepada orang tuanya di rumah tentang apa yang mereka makan hari itu di sekolah. Kandungan gizinya dan bagaimana membuatnya. Sebab mereka juga dijelaskan oleh para guru sebelum menyantap makanan itu bersama-sama.
Berkemungkinan besar orang tuanya bisa pula menyediakan menu tersebut sesekali. Apalagi makanan yang diberikan diolah dari bahan-bahan yang ada di daerah itu. Bisa saja ada bubur kacang padi, makanan olahan dari jagung, ketela pohon, ubi jalar dan sebagainya.
Dijelaskan oleh Muji pemberian makanan tambahan ini terjadwal dengan menu yang berbeda setiap harinya. Daftar menu dari 13 sekolah di Padang yang mendapat PMTAS harus diberikan kepada dinas yang dia pimpin. Sehingga mereka tahu dan bisa mengecek makanan tersebut sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Ada 111 hari makan bagi anak dalam setahun. Tiap kali makan harus mengandung 300 kalori dan 5 gram protein. Dan menu tersebut harus mengandung bahan-bahan lokal yang ada di daerah itu.
"Kami bersyukur, ada partisipasi aktif dari masyarakat. Mereka ada yang menyumbang jagung, ubi kayu atau hasil tani yang mereka panen kepada sekolah. Malah uang sertifikasi guru disumbangkan untuk mendukung program PMTAS di sekolah mereka," ungkap Muji senang.
Didukung PKK
PKK Kota Padang pun mmeberikan dukungan penuh guna keberhasilan PMTAS ini. PKK Kelurahan dan Kecamatan ikut melatih para orang tua murid atau masyarakat sekitar sekolah yang bertugas menyiapkan menu makanan PMTAS ini.
"Mereka yang bertugas itu harus berada dekat sekolah dan rumahnya harus bersih. Meski sangat sederhana. Ini pun memberdayakan masyarakat kurang mampu yang menjadi petugas masak," tegas Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padang, Hj. Harnelli Bahar.
TP PKK Kota Padang kata, Harnelli ikut melakukan evaluasi terhadap menu makanan yang diberikan kepada murid. Murid ditanya pendapatnya terhadap apa yang mereka makan dan dipersilakan meminta menu makanan bahkan petugas yang memasak diganti.
Harnelli mengakui dia dan timnya sering melakukan inspeksi mendadak ke rumah-rumah petugas yang memasak makanan dalam PMTAS. Dia beralasan, bisa jadi rumah petugas itu bersih saat tahu bakal dikunjungi TP PKK atau pejabat terkait lainnya. Dan Harnelli bersyukur petugas-petugas itu memang memprioritaskan kebersihan diri dan lingkungan rumah mereka.
"Alhamdulillah mereka memperhatikan kebersihan rumahnya. Rumahnya sangat sederhana, namun tertata. Kita senang di sana dan tak risih mencoba makanan yang mereka sajikan," ujar isteri Walikota Padang Periode 2014-2019 itu. (zul)
"PMTAS yang dilaksanakan sejak tahun 2000 ini terbukti bisa memotivasi anak-anak yang orang tuanya kurang mampu untuk semangat dalam belajar. SD 23 Pegambiran Ampalu yang sukses menjalankan program ini, seluruh lulusannya diterima di SMP Negeri," ujar Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kota Padang yang didampingi Kabid Pemberdayaan Masyarakat, Ermiati, Selasa (6/1).
Dari penelusuran di lapangan, umumnya anak-anak yang orang tuanya kurang mampu mengalami peningkatan minat belajar yang cukup signifikan. Mereka yang tadinya kurang semangat, terlihat letih dan lesu saat belajar di sekolah, tampak lebih ceria. Minimal pada hari yang ditentukan ada makanan tambahan di sekolah, biasanya seluruh anak hadir. Mereka pun lebih ceria dari biasanya.
Cara ini pun diyakini cukup efektif dalam memberdayakan masyarakat ekonomi lemah. Si anak tentu bercerita kepada orang tuanya di rumah tentang apa yang mereka makan hari itu di sekolah. Kandungan gizinya dan bagaimana membuatnya. Sebab mereka juga dijelaskan oleh para guru sebelum menyantap makanan itu bersama-sama.
Berkemungkinan besar orang tuanya bisa pula menyediakan menu tersebut sesekali. Apalagi makanan yang diberikan diolah dari bahan-bahan yang ada di daerah itu. Bisa saja ada bubur kacang padi, makanan olahan dari jagung, ketela pohon, ubi jalar dan sebagainya.
Dijelaskan oleh Muji pemberian makanan tambahan ini terjadwal dengan menu yang berbeda setiap harinya. Daftar menu dari 13 sekolah di Padang yang mendapat PMTAS harus diberikan kepada dinas yang dia pimpin. Sehingga mereka tahu dan bisa mengecek makanan tersebut sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Ada 111 hari makan bagi anak dalam setahun. Tiap kali makan harus mengandung 300 kalori dan 5 gram protein. Dan menu tersebut harus mengandung bahan-bahan lokal yang ada di daerah itu.
"Kami bersyukur, ada partisipasi aktif dari masyarakat. Mereka ada yang menyumbang jagung, ubi kayu atau hasil tani yang mereka panen kepada sekolah. Malah uang sertifikasi guru disumbangkan untuk mendukung program PMTAS di sekolah mereka," ungkap Muji senang.
Didukung PKK
PKK Kota Padang pun mmeberikan dukungan penuh guna keberhasilan PMTAS ini. PKK Kelurahan dan Kecamatan ikut melatih para orang tua murid atau masyarakat sekitar sekolah yang bertugas menyiapkan menu makanan PMTAS ini.
"Mereka yang bertugas itu harus berada dekat sekolah dan rumahnya harus bersih. Meski sangat sederhana. Ini pun memberdayakan masyarakat kurang mampu yang menjadi petugas masak," tegas Ketua Tim Penggerak PKK Kota Padang, Hj. Harnelli Bahar.
TP PKK Kota Padang kata, Harnelli ikut melakukan evaluasi terhadap menu makanan yang diberikan kepada murid. Murid ditanya pendapatnya terhadap apa yang mereka makan dan dipersilakan meminta menu makanan bahkan petugas yang memasak diganti.
Harnelli mengakui dia dan timnya sering melakukan inspeksi mendadak ke rumah-rumah petugas yang memasak makanan dalam PMTAS. Dia beralasan, bisa jadi rumah petugas itu bersih saat tahu bakal dikunjungi TP PKK atau pejabat terkait lainnya. Dan Harnelli bersyukur petugas-petugas itu memang memprioritaskan kebersihan diri dan lingkungan rumah mereka.
"Alhamdulillah mereka memperhatikan kebersihan rumahnya. Rumahnya sangat sederhana, namun tertata. Kita senang di sana dan tak risih mencoba makanan yang mereka sajikan," ujar isteri Walikota Padang Periode 2014-2019 itu. (zul)
0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya