Padang - Kematian ikan di Danau Maninjau pada 2014, hendaknya mendapat perhatian serius. Apalagi kejadiannya terus berulang. Bahkan dampaknya terasa, lantaran terjadi sebelum dan sesudah Hari Raya Idul Fitri 1435 H.Pada tiap kejadian ini, petani ikan keramba di sekitar Danau Maninjau selalu mengalami kerugian yang besar. Apakah hal ini dibiarkan begitu saja kendati sudah menjadi isu nasional?
“Ini sudah berulang-ulang kali pula diingatkan. Saya tulis masalah ini di harian terbitan Sumbar. Namun, tampaknya karena sifat manusia pelupa, maka hal ini harus terjadi kembali,” ujar Ketua Pusat Studi Lingkungan Universitas Bung Hatta (UBH), Prof Nasfryzal Carlo, Sabtu (16/7).
Diungkapkan, banyak komentar tentang penyebab kejadian ini. Ada yang menyatakan akibat adanya belerang yang berasal dari dasar danau naik melalui peristiwa upwelling, ada yang menyatakan karena proses eutrofikasi dan destratifikasi. Pendapat tersebut ada benarnya, tetapi sesungguhnya kematian ikan di danau diakibatkan ulah manusia, termasuk para petani keramba ikan.
Hal ini, kata Carlo, telah diingatkan oleh sang pencipta. Dalam Alquran pada surat Ar-Rum 41 dinyatakan, telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka sendiri, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Ini bermakna betapa eratnya kerusakan lingkungan oleh tangan-tangan manusia.
Carlo yang juga Direktur Pasca Sarjana UBH menegaskan, bahwa kematian ikan di danau diakibatkan kesalahan dari petani ikan sendiri. Umumnya mereka beranggapan bahwa ikan bisa tumbuh cepat jika diberi makan yang banyak. Sementara mereka lupa bahwa kemampuan ikan memakan pelet terbatas dan pemberian pelet secara berlebihan menjadi percuma. Pellet akan mengendap ke dasar danau.
Jika ini terjadi terus menerus akan memperparah kondisi danau. Sebab, air danau terbagi atas tiga strata berdasar temperaturnya, yang lebih dalam disebut strata hipolimnion. Suhunya lebih dingin dan oksigen terlarut di dalamnya sangat rendah. Bahkan cenderung menjadi anaerob (tanpa oksigen), sehingga menjadi racun bagi ikan dan kehidupan air lainnya.
Menurut Carlo, sifat racun ini disebabkan strata hipolimnion ini banyak mengandung asam belerang (H2S), fospat, nitrogen, logam ferum dan mangan, sehingga air menjadi reaktif dan berwarna kuning dan kecoklatan. Kondisi ini makin diperparah oleh pola pemakaian pelet berlebihan oleh peternak ikan keramba. Endapan pelet memperparah sifat racun di strata ini.
Sisa makanan inilah yang akhirnya menjadi sedimen penyebab air danau menjadi eutrofik. Eutrofik adalah proses pengayaan nutrient sedikit demi sedikit, sehingga danau menjadi produktif. Akibatnya kejernihan air menjadi berkurang dan mulai berwarna hijau. Kemudian lama kelamaan akan menjadi hitam dan berbau busuk
Pada perubahan musim panas ke hujan, air danau bergerak. Strata hipolimion yang anaerob tadi bergerak naik ke permukaan dan strata di atas yang disebut epilimnion dan kaya oksigen bergerak turun ke dasar danau yang disebut proses destratifikasi. Kondisi cuaca ekstrem akibat global war-ning mempercepat destratifikasi.
Kejadian secara alamiah inilah yang dikenal masyarakat setempat dengan ‘tubo belerang’. Jika pergerakan antar strata ini berlangsung secara sempurna, maka ikan-ikan aman. Namun jika tidak maka ikan akan mabuk, stress dan bahkan mati. Yang rugi adalah petani ikan keramba.
“Inilah kondisi sesungguhnya yang terjadi. Kematian ikan disebabkan kondisi eutrofik dan pencemaran yang tinggi di Danau Maninjau. Perlu kita sikapi lebih bijak,” tegasnya.
Putra Tanjung Balit, Kabupaten Solok ini menyarankan, pepatah alam takambang jadi guru dihayati dan diterapkan. Jangan hanya slogan. Alam telah memberi tanda-tanda, pelajari hingga bisa diputuskan kapan ikan harus disemai atau dipanen. Jika belum layak panen ikan seyogyanya dipindah dulu keluar danau selama proses destratifikasi terjadi.
Carlo juga mengimbau pengambil keputusan untuk membaca kembali KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) terhadap Kebijakan Pengelolaan Danau Maninjau yang sudah ada sejak tahun 2009. Mereka hendaknya menelaah kembali hasil penelitian lanjutan yang telah dilakukan terhadap Danau Maninjau. Atau perlu membuat kebijakan baru yang strategis dengan membuat proses destratifikasi secara buatan.
Carlo mengklaim hal ini sukses dilakukannya pada se-buah reservoir di Malaysia li-ma belas tahun yang lalu. (zul)
0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya