Padang - Kesehatan menjadi perhatian utama manusia modern. Sedikit saja keluhan yang dia rasakan, maka dia selalu berusaha mencari tempat pengobatan. Jika penyakit tak kunjung sembuh, kekhawatirannya bertambah.
Ditambah lagi hasil diagnosa dan saran dokter yang begitu meyakinkan agar segera mengobatinya. Disarankan pula untuk segera operasi dengan banyak alasan masuk akal lainnya.
Itulah yang dulunya kerap dirasakan Yenni Khairunnisa. Ibu rumah tangga ini merasakan jantungnya sering berdebar-debar. Bahkan dia beberapa kali sulit bernafas. Ini begitu menyiksanya. “Jika rasa nyeri di dada ini bertambah kuat, Yen sangat sulit bernafas. Seperti mau putus nyawa ini,” ujarnya.
Dia datangi rumah sakit. Kebetulan dilayani dokter muda. Dari diagnosa yang dilakukannya, Yenni disarankan langsung menjalani operasi by pass, pemasangan ring. Keterangan itu jelas bagai petir di siang bolong bagi ibu empat anak ini.
Melintaslah bayangan anak-anaknya. Terutama si sulung yang belum juga mendapat jodoh di usianya yang sudah kepala tiga. Kilasan wajah si anak berganti-ganti dengan keterangan dokter yang sepertinya sangat terinci seputar penyakitnya tersebut. Apa keuntungan dan kerugian jika dia melakukan operasi jantung segera lengkap dengan biaya. Lantaran biaya yang cukup besar, Yenni tentu harus berkoordinasi dengan suami dan anak-anak.
Demi kesehatan sang ibu, anak-anak dan suami Yenni mendukung agar segera dioperasi. Entah suatu keberuntungan, dia gagal menjalani operasi pada hari yang ditentukan. Kondisi tubuhnya tidak memenuhi persyaratan menjalani operasi. Akhirnya diberi obat. Setelah minum obat, sakit Yenni sedikit mereda. Sehingga semakin yakinlah dia telah terkena penyakit jantung.
Di waktu lain saat mendapat keluhan yang sama, dia berobat lagi dan diberi obat lagi. Sakitnya reda dan berulang terus. Tanpa sengaja saat berkunjung ke tempat saudaranya di Pulau Jawa keluhan yang sama terjadi. Dia juga divonis dokter sakit jantung. Bedanya, dia boleh memilih operasi atau minum obat rutin.
Di tempat dia biasa membeli obat, ada kenalannya yang menyarankan agar dia tidak operasi jantung. Syaratnya jaga saja kondisi tubuh dan makanan yang dikonsumsi.
Namun pendapat jauh berbeda tentang penyakitnya disampaikan seorang sinsei. Dia hanya sakit maag. Setelah menjalani beberapa waktu pengobatan, Yenni lebih segar dari biasanya. “Memang mahal harga kesehatan ini. Saya sudah habis biaya berobat sana-sini, tapi ya sudahlah lain kali hati-hati saja,” ujarnya sambil senyum dan minta namanya tidak dipublish.
Layanan kesehatan seperti ini juga dirasakan oleh seorang akuntan publik yang cukup ternama di Kota Padang. Ini malah dilakukan oleh rumah sakit di negara jiran sana. Tanggal 25 November pergi ke Malaka dan harus menjalani biopsi keesokan harinya di Mahkota Malaka. Prostat yang dia derita sejak empat tahun lalu divonis harus dioperasi oleh dokter rumah sakit di Malaka. Padahal gejala prostat seperti kencing sepanjang malam tidak dialaminya. Begitu juga keluhan sakit saat buang air. PSA-nya tinggi.
Bisa memilih operasi yang menelan biaya hingga RM 50.000, atau disinar yang berbiaya RM 30.000. Bisa juga disuntik sekali tiga bulan dengan biaya RM1.000. Agar pengobatan tidak sakit, tambah biaya RM 1.000. “Saya pikir kok lebih mahal operasi prostat dibanding jantung dan ganti ring yang cuma RM 30.000. Itu pun sudah ada discount jasa doktek,” ungkapnya tertawa mengenang kejadian itu.
Karena harus berurusan ke Kuala Lumpur, saya pun mencoba periksa di Prince Scout milik Petronas. Teman menyarankan rumah sakit ini, lebih murah. Kepada dokter disana, akuntan ini bertanya berapa biaya jika dia operasi. Dijelaskan di sana tak perlu operasi karena prostatnya baru 30%. Baru satu pula yang kena. Hanya darah yang terkena bakteri.
Namun dokter itu pun memberi tahu operasi robotik hanya RM 40.000. Cuma kamar yang paling murah RM 250. Dan saat itu hanya tersedia kamar yang RM 2.500.
Sementara saat di Jakarta, ada pula kawan yang bawa ke RS. Husada. Operasi prostat bisa dilakukan hanya dengan biaya Rp30 juta. Sang akuntan pun menjalani MRI di sana.
Saat memeriksa pembukuan klien di Pekanbaru. Ada RS. Santa Maria yang katanya nomor lima di Indonesia dan satu di Sumatera. Teman saya di sana bisa memberikan biaya Rp15 juta. “Wow, sungguh fantastis beda biayanya. Akhirnya saya milih suntik sekali tiga bulan saja. Apalagi teman-teman kongkow saya sesama penderita prostat melarang operasi,” tukasnya.
Saat ditanya kenapa bisa murah, teman tersebut hanya bilang di rumah sakit tersebut, semua dokter dan suplier obat harus menandatangani perjanjian semacam pakta integritas untuk tidak korupsi atau membebani pasien.
Untuk itu dia menyarankan siapapun yang berobat ke Malaysia atau Singapura sekalipun berhati-hatilah. Dia berharap semoga pengalaman berobatnya ini bisa jadi rujukan agar sebelum memilih tempat atau jenis pengobatan, tanya dulu selengkap-lengkapnya.
“Kalau perlu minta second opinion ke dokter atau rumah sakit lain. Bisa juga referensi teman. Sebab ada oknum dokter yang nakal. Dia bilang untung bapak/ibu datang kemari, padahal uang kita yang sedang diincarnya,” ujarnya sambil tertawa. Dia pun mengungkap sejumlah pengalaman dia berobat bersama isterinya di sejumlah rumah sakit termasuk Singapura. Pengalamannya bakal dibukukan agar orang berhati-hati berobat.(zul)
Ditambah lagi hasil diagnosa dan saran dokter yang begitu meyakinkan agar segera mengobatinya. Disarankan pula untuk segera operasi dengan banyak alasan masuk akal lainnya.
Itulah yang dulunya kerap dirasakan Yenni Khairunnisa. Ibu rumah tangga ini merasakan jantungnya sering berdebar-debar. Bahkan dia beberapa kali sulit bernafas. Ini begitu menyiksanya. “Jika rasa nyeri di dada ini bertambah kuat, Yen sangat sulit bernafas. Seperti mau putus nyawa ini,” ujarnya.
Dia datangi rumah sakit. Kebetulan dilayani dokter muda. Dari diagnosa yang dilakukannya, Yenni disarankan langsung menjalani operasi by pass, pemasangan ring. Keterangan itu jelas bagai petir di siang bolong bagi ibu empat anak ini.
Melintaslah bayangan anak-anaknya. Terutama si sulung yang belum juga mendapat jodoh di usianya yang sudah kepala tiga. Kilasan wajah si anak berganti-ganti dengan keterangan dokter yang sepertinya sangat terinci seputar penyakitnya tersebut. Apa keuntungan dan kerugian jika dia melakukan operasi jantung segera lengkap dengan biaya. Lantaran biaya yang cukup besar, Yenni tentu harus berkoordinasi dengan suami dan anak-anak.
Demi kesehatan sang ibu, anak-anak dan suami Yenni mendukung agar segera dioperasi. Entah suatu keberuntungan, dia gagal menjalani operasi pada hari yang ditentukan. Kondisi tubuhnya tidak memenuhi persyaratan menjalani operasi. Akhirnya diberi obat. Setelah minum obat, sakit Yenni sedikit mereda. Sehingga semakin yakinlah dia telah terkena penyakit jantung.
Di waktu lain saat mendapat keluhan yang sama, dia berobat lagi dan diberi obat lagi. Sakitnya reda dan berulang terus. Tanpa sengaja saat berkunjung ke tempat saudaranya di Pulau Jawa keluhan yang sama terjadi. Dia juga divonis dokter sakit jantung. Bedanya, dia boleh memilih operasi atau minum obat rutin.
Di tempat dia biasa membeli obat, ada kenalannya yang menyarankan agar dia tidak operasi jantung. Syaratnya jaga saja kondisi tubuh dan makanan yang dikonsumsi.
Namun pendapat jauh berbeda tentang penyakitnya disampaikan seorang sinsei. Dia hanya sakit maag. Setelah menjalani beberapa waktu pengobatan, Yenni lebih segar dari biasanya. “Memang mahal harga kesehatan ini. Saya sudah habis biaya berobat sana-sini, tapi ya sudahlah lain kali hati-hati saja,” ujarnya sambil senyum dan minta namanya tidak dipublish.
Layanan kesehatan seperti ini juga dirasakan oleh seorang akuntan publik yang cukup ternama di Kota Padang. Ini malah dilakukan oleh rumah sakit di negara jiran sana. Tanggal 25 November pergi ke Malaka dan harus menjalani biopsi keesokan harinya di Mahkota Malaka. Prostat yang dia derita sejak empat tahun lalu divonis harus dioperasi oleh dokter rumah sakit di Malaka. Padahal gejala prostat seperti kencing sepanjang malam tidak dialaminya. Begitu juga keluhan sakit saat buang air. PSA-nya tinggi.
Bisa memilih operasi yang menelan biaya hingga RM 50.000, atau disinar yang berbiaya RM 30.000. Bisa juga disuntik sekali tiga bulan dengan biaya RM1.000. Agar pengobatan tidak sakit, tambah biaya RM 1.000. “Saya pikir kok lebih mahal operasi prostat dibanding jantung dan ganti ring yang cuma RM 30.000. Itu pun sudah ada discount jasa doktek,” ungkapnya tertawa mengenang kejadian itu.
Karena harus berurusan ke Kuala Lumpur, saya pun mencoba periksa di Prince Scout milik Petronas. Teman menyarankan rumah sakit ini, lebih murah. Kepada dokter disana, akuntan ini bertanya berapa biaya jika dia operasi. Dijelaskan di sana tak perlu operasi karena prostatnya baru 30%. Baru satu pula yang kena. Hanya darah yang terkena bakteri.
Namun dokter itu pun memberi tahu operasi robotik hanya RM 40.000. Cuma kamar yang paling murah RM 250. Dan saat itu hanya tersedia kamar yang RM 2.500.
Sementara saat di Jakarta, ada pula kawan yang bawa ke RS. Husada. Operasi prostat bisa dilakukan hanya dengan biaya Rp30 juta. Sang akuntan pun menjalani MRI di sana.
Saat memeriksa pembukuan klien di Pekanbaru. Ada RS. Santa Maria yang katanya nomor lima di Indonesia dan satu di Sumatera. Teman saya di sana bisa memberikan biaya Rp15 juta. “Wow, sungguh fantastis beda biayanya. Akhirnya saya milih suntik sekali tiga bulan saja. Apalagi teman-teman kongkow saya sesama penderita prostat melarang operasi,” tukasnya.
Saat ditanya kenapa bisa murah, teman tersebut hanya bilang di rumah sakit tersebut, semua dokter dan suplier obat harus menandatangani perjanjian semacam pakta integritas untuk tidak korupsi atau membebani pasien.
Untuk itu dia menyarankan siapapun yang berobat ke Malaysia atau Singapura sekalipun berhati-hatilah. Dia berharap semoga pengalaman berobatnya ini bisa jadi rujukan agar sebelum memilih tempat atau jenis pengobatan, tanya dulu selengkap-lengkapnya.
“Kalau perlu minta second opinion ke dokter atau rumah sakit lain. Bisa juga referensi teman. Sebab ada oknum dokter yang nakal. Dia bilang untung bapak/ibu datang kemari, padahal uang kita yang sedang diincarnya,” ujarnya sambil tertawa. Dia pun mengungkap sejumlah pengalaman dia berobat bersama isterinya di sejumlah rumah sakit termasuk Singapura. Pengalamannya bakal dibukukan agar orang berhati-hati berobat.(zul)
0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya