Padang - Pemerintah Kota Padang komit untuk menjadikan kota ini sebagai daerah tujuan wisata yang nyaman dan berkesan. Kawasan Gunung Padang bakal dikembangkan dengan merangkul masyarakat sekitar. Mereka nantinya tergabung dalam Badan Pengelola Wisata Daerah.
“Pada Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang itu nantinya masyarakat sekitar akan memegang peranan penting. Mereka ikut mengelola dan tentu saja wajib menjaga kenyamanan dan keamanan di objek itu,” ujar Asisten Ekbang Kesra Sekdako Padang, Eyviet Azmar usai membuka seminar sinergitas antara pemerintah, swasta dan masyarakat, Selasa (18/11).
Eyviet mengungkapkan ide pembentukan badan ini dilontarkan Wakil Walikota Padang, Emzalmi menjelang membuka seminar itu. Wawako punya pikiran demikian setelah berinteraksi intens dengan pengelola objek wisata di Bali saat ikut ke Sumbar Expo.
Dikatakannya, kendala terbesar masalah keamanan dan kenyamanan di objek wisata kemungkinan besar disebabkan masyarakat merasa ditinggalkan. Kini, lewat badan yang akan dibentuk masyarakat yang jadi garda terdepan dalam pengembangannya. Pembangunan Lapau Panjang Cimpago merupakan cikal bakal pengelolaan objek wisata pantai, heritage, kota tua dan marina yang terpadu dan komprehensif.
Kepala Bappeda, Hervan Bahar menyokong pernyataan Eyviet. Seminar ini merupakan upaya untuk mempercepat terwujudnya visi dan misi serta program prioritas di sektor pariwisata daerah ini.
Diungkapkan Hervan, pihaknya telah menyelenggarakan Focus Discussion Group (FGD) pada 24 November lalu. Dalam FGD bertema ‘Quo Vadis pariwisata Kota Padang’ tersebut sangat mengemuka sorotan terhadap lemahnya sinergi antara pemerintah, swasta dan masyarakat.
Kelemahan tersebut berakibat hasil yang diperoleh belum optimal. Sebagai jalan keluarnya, Bappeda mengangkat seminar yang coba memfasilitasi sinergitas tersebut.
Dari seminar ini, kata Hervan, diharapkan didapat masukan buat solusi permasalahan dalam pengembangan pariwisata Padang. Terjadi pula peningkatan dukungan masyarakat. Sebab penggagas wisata berbasis masyarakat (anak nagari) ikut jadi narasumber.
Dalam seminar yang juga diikuti oleh PHRI, ASITA, praktisi kepariwisataan, akademisi, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan Bundo Kanduang penggagas Kampung Wisata Budaya Limau Manis Padang, Dasrul. Dia menceritakan bagaimana kiatnya membuhul berbagai potensi wisata seni, budaya, sejarah dan wisata alam di Pauh.
“Pauh punya banyak potensi yang bisa dikembangkan sebagai wusata minat khusus. Sebagai anak nagari saya dan teman-teman terpanggil untuk menjadikannya unggulan daerah kami,” ujarnya.
Pria yang juga Excecutive Producer di Padang TV ini menjelaskan, wisatawan yang datang ke Padang bisa menjadikan Pauh sebagai alternatif utama kunjungan. “Wisatawan bakal menikmati suguhan agrowisata, permainan anak nagari seperti silat, randai dan permainan tradisional lainnya. Mereka bisa pula merasakan kehidupan sehari-hari warga kami,” pungkasnya. (zul)
“Pada Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang itu nantinya masyarakat sekitar akan memegang peranan penting. Mereka ikut mengelola dan tentu saja wajib menjaga kenyamanan dan keamanan di objek itu,” ujar Asisten Ekbang Kesra Sekdako Padang, Eyviet Azmar usai membuka seminar sinergitas antara pemerintah, swasta dan masyarakat, Selasa (18/11).
Eyviet mengungkapkan ide pembentukan badan ini dilontarkan Wakil Walikota Padang, Emzalmi menjelang membuka seminar itu. Wawako punya pikiran demikian setelah berinteraksi intens dengan pengelola objek wisata di Bali saat ikut ke Sumbar Expo.
Dikatakannya, kendala terbesar masalah keamanan dan kenyamanan di objek wisata kemungkinan besar disebabkan masyarakat merasa ditinggalkan. Kini, lewat badan yang akan dibentuk masyarakat yang jadi garda terdepan dalam pengembangannya. Pembangunan Lapau Panjang Cimpago merupakan cikal bakal pengelolaan objek wisata pantai, heritage, kota tua dan marina yang terpadu dan komprehensif.
Kepala Bappeda, Hervan Bahar menyokong pernyataan Eyviet. Seminar ini merupakan upaya untuk mempercepat terwujudnya visi dan misi serta program prioritas di sektor pariwisata daerah ini.
Diungkapkan Hervan, pihaknya telah menyelenggarakan Focus Discussion Group (FGD) pada 24 November lalu. Dalam FGD bertema ‘Quo Vadis pariwisata Kota Padang’ tersebut sangat mengemuka sorotan terhadap lemahnya sinergi antara pemerintah, swasta dan masyarakat.
Kelemahan tersebut berakibat hasil yang diperoleh belum optimal. Sebagai jalan keluarnya, Bappeda mengangkat seminar yang coba memfasilitasi sinergitas tersebut.
Dari seminar ini, kata Hervan, diharapkan didapat masukan buat solusi permasalahan dalam pengembangan pariwisata Padang. Terjadi pula peningkatan dukungan masyarakat. Sebab penggagas wisata berbasis masyarakat (anak nagari) ikut jadi narasumber.
Dalam seminar yang juga diikuti oleh PHRI, ASITA, praktisi kepariwisataan, akademisi, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan Bundo Kanduang penggagas Kampung Wisata Budaya Limau Manis Padang, Dasrul. Dia menceritakan bagaimana kiatnya membuhul berbagai potensi wisata seni, budaya, sejarah dan wisata alam di Pauh.
“Pauh punya banyak potensi yang bisa dikembangkan sebagai wusata minat khusus. Sebagai anak nagari saya dan teman-teman terpanggil untuk menjadikannya unggulan daerah kami,” ujarnya.
Pria yang juga Excecutive Producer di Padang TV ini menjelaskan, wisatawan yang datang ke Padang bisa menjadikan Pauh sebagai alternatif utama kunjungan. “Wisatawan bakal menikmati suguhan agrowisata, permainan anak nagari seperti silat, randai dan permainan tradisional lainnya. Mereka bisa pula merasakan kehidupan sehari-hari warga kami,” pungkasnya. (zul)
0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya