Padang - Lelaki bernama Hendri ini masih muda. Umurnya sekitar 38 tahun. Namun siapa sangka sepak terjangnya mampu menggerakkan warga Komplek Pondok Pinang di Kelurahan Lubuk Buaya, Koto Tangah Padang.
Sejumlah fasilitas komplek terus dilengkapi di masa kepemimpinannya. Semua dilakukannya demi kemajuan atau bersama warga Pondok Pinang. Cemoohan orang kala dia diangkat menjadi Ketua RW IX Kelurahan Lubuk Buaya itu sekitar 1,5 tahun lalu dijadikannya pelecut semangat untuk membuktikan bahwa anak muda pun bisa berbuat, minimal untuk komplek perumahan di mana dia tinggal.
Dia rancang pembangunan 100 hari. Tata kelola RW jadi sasaran pertamanya. Dia sulap garase mobilnya sebagai kantor. “Ini untuk memudahkan warga mengurus keperluannya. Ruang terpisah dari urusan keluarga ini menjadikan warga leluasa mengadukan masalahnya, memberikan usulan, termasuk informasi ‘rahasia’ kepada RW-nya,” ujar Hendri.
Hendri pun meningkatkan silaturrahmi antar warga. Arisan RT diaktifkan, arisan baralek, kongsi kematian pun dibentuk. Secara berangsur kantor pemuda diperbaiki hingga jadi representatif seperti saat ini.
Bangunan kantor itu sekaligus digunakan sebagai balai pertemuan warganya. Taman di jalan utama dibenahi, sehingga di sore hari atau libur, banyak masyarakat kumpul di taman yang juga ada fasilitas olahraganya, taman dan wahana bermain anak-anak.
Jalan dan drainase komplek jadi sasaran berikutnya. Secara bertahap jalan komplek dibenahi. Awalnya dari swadaya warga. Jalan yang mampu mengubah bentuk komplek itu membuka mata, semua warga yang terdiri dari 186 KK itu semangat untuk menyelesaikan jalan yang total panjangnya 1000 meter.
Agar cepat, Hendri minta bantuan dari kolega atau pihak lain yang sifatnya tidak mengikat. Pertemanannya yang cukup luas ditambah pula jaringan para tokoh masyarakat yang tinggal disana dalam waktu satu tahun sudah 90 persen yang siap. “Ini lantaran warga semangat bergotong royong (goro). Tiap goro ratusan orang ikut serta. Sudah dibuktikan oleh para tamu atau pejabat yang datang bertamu kemari,” ujarnya.
Sampah yang merisaukan sebagian komplek yang lain, malah jadi berkah bagi warga. Mereka bisa memanfaatkan sampah organik untuk tanaman di pekarangan mereka. Pupuk organik cair yang bisa saja dijual Rp15.000 per botolnya, tidak boleh dijual. Pupuk itu untuk memenuhi kebutuhan internal.
Sampah dikelola dengan baik. Ada petugas yang menjemput sampah ke rumah-rumah. Warga hanya dikenai iuran bulanan Rp 15.000. Dari iuran bulanan terbeli pula becak motor sebagai kendaraan pengangkut sampah. Sampah organik dimanfaatkan lantaran pondok pinang punya komposter (alat pembuat kompos).
Saat ini warga Pondok Pinang tengah membangun shelter 6 tingkat di halaman Masjid An Nur. Bangunan yang baru menyelesaikan tingkat kedua ini bisa memuat 1000-an warga di atasnya. BNPB telah mengacungi jempol soal kualitas pondasi dan bangunan. Malah dijanjikan bantuan.
Kabar dari staf Camat Koto Tangah Padang yang menyatakan Dasa Wisma mereka anyelir 1 hingga anyelir 8 bakal mewakili Padang ke tingkat Sumbar sedikit mengobat kegundahan akibat SMS yang dari staf camat yang lain yang menyebutkan mereka kalah dalam lomba RW berprestasi. Ini cukup jadi pembicaraan warga lantaran kebiasaan selama ini bila dasa wiswa juara I maka RW pun pasti juara 1. Namun hal itu tidak membuat ricuh lantaran Hen dri dan aparatnya cepat tanggap.
Alhamdulillah, semua ini tercapai gara-gara si Popi Bercinta di 100 hari kerja sebagai RW baru di sini, ujar suami Desi yang punya toko peralatan jahit di Pasar Lubuk Buaya ini sambil senyum simpul.
Dia langsung meminta untuk tidak langsung berfikir negatif terhadap pernyataannya perubahan di komplek ini akibat Popi Bercinta. Bukan lantaran Popi berbuat negatif lalu dipajaki untuk memberikan semen dan kebutuhan komplek ini.
Popi bercinta, kata Hendri adalah gerakan membangun komplek yang mereka Cintai. Popi berarti pondok pinang. Sedangkan bercinta adalah singkatan dari bersih, cinta damai, indah dan tertata. Popi bercinta juga jadi nama laman facebook dan twitternya. Sehingga kesadaran warga dibangkitkan dengan cara ini. Artinya, jika warga ingin kompleknya bagus, maka Popi harus Bercinta. (zul)

0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya