Kendaraan yang mengkilat sudah jadi suatu tuntutan saat ini, guna menopang penampilan. Percuma rasanya bila penambilan oke, namun kendaraan kusam. Apalagi kotor.
Bahan pengilat inilah yang membuat Acong merasa punya peluang yang besar. “Karena kesibukan, orang mempercayakan kebersihan kendaraannya ke cucian hingga salon motor. Mereka ingin kendaraan mereka kinclong, mengkilap setelah keluar dari sana. Ini peluang bagi yang bisa memproduksi bahan pengkilap kendaraan tersebut,” ujar Acong, pembuat cairan semir ban dan bodi kendaraan di Jalan Hiu, Ulak Karang Padang, Selasa (10/9).
Usaha yang belum setahun dijalaninya ini memberi harapan besar pada Acong. Sejumlah showroom mobil, tempat cucian hingga salon mobil/motor mulai percaya kepada produk di bawah bendera UD. Dukhan ini. Banyak komentar positif yang diterima seputar produknya.
Ada yang bilang semir ban produksinya bisa juga digunakan untuk bodi kendaraan. Padahal sebelumnya mereka tidak mau lantaran pemilik kendaraan melarang. Umumnya beralasan bisa merusak bodi motornya.
Malah ada yang menegaskan, sejak pakai semir ban UD Dukhan, biaya yang harus mereka keluarkan jauh berkurang dibanding memakai merek yang sudah terkenal sekalipun.
Tak heran pria yang akrab dipanggil Acong ini mulai berani mengklaim produk semir ban buatannya tidak kalah dari merek ternama yang beredar di pasaran. Semir ban buatan pria yang telah mulai aneka wirausaha sejak SMA ini, tak hanya mengkilapkan ban. Ban jadi awet karena semir tersebut tidak membuat ban menguning beberapa hari setelah semir dioleskan. Permukaan pun tidak kasar/keras apalagi retak-retak ketika cairan semir mengering.
“Ini berkat cinta kami suami isteri yang bergantian mengaduknya secara manual. Ditambah zikir sembari mengaduk bahan pembuat semir itu,” ujarnya sambil tertawa.
Kilap ban relatif bertahan lebih lama dari yang dihasilkan merek lainnya. Bahkan setelah hujan, bila ban dilap dengan kain atau kanebo, maka kilat ban seolah kembali.
Kilatnya bagaikan baru saja disemir ulang. Tak heran banyak usaha cuci mobil/motor hingga showroom yang memesan produknya.
Acong pun menegaskan, umumnya pegawai bahkan pemilik cucian motor mengaku biaya yang harus dikeluarkan untuk mengkilatkan motor menjadi lebih murah. Biasanya mereka harus memakai semir ban. Sementara untuk mengkilapkan bodi maka harus digunakan cairan lain.
Sedangkan untuk semir ban Dukhan, mereka ataupun pemilik motor tak ragu menggunakan semir ban itu untuk bodi motor mereka. ‘Khasiatnya’ sama.
Bahkan Acong mulai berani mengakses permodalan ke bank. “Alhamdulillah BRI mau mengucurkan kredit buat usaha saya bersama isteri ini,” ujar Acong bahagia.
Kepercayaan bank dijawabnya dengan kedisiplinan membayar pinjaman. Hingga, belum satu tahun dia bisa menambah pinjaman.
Dulu hanya bisa Rp5 juta, kini bisa Rp12 juta. Bahkan bisa lebih jika bisa menjaga kepercayaan bank tersebut.
Seiring bertambahnya jaringan penjualan, Acong mengaku kewalahan dalam memenuhi permintaan konsumennya. Pengadaan barang yang membuatnya kewalahan.
Apalagi rekannya dari komunitas motor ceper yang dia pernah aktif di dalamnya, juga sejumlah toko umumnya menerapkan sistim titip/konsinyasi.
Seiring perkembangan usahanya, banyak pencucian motor/mobil di sejumlah daerah yang minta dalam kemasan 5 liter. Dari kalkulasi, Acong harus menambah modal jika ingin memenuhi permintaan yang mulai meningkat itu.
Hanya saja dia harus sabar jelang lunasnya pinjaman di bank. Atau menerima mereka yang mau memodalinya untuk mengembangkan usaha tersebut.
Meski begitu, Acong juga menjual jasa antaran mobil bagi pembeli atau showroom mobil di Jambi. Bahkan ada juga yang memintanya membawakan mobil yang dibeli konsumen di Jakarta. Jasanya pun digunakan oleh konsumen yang ingin plesiran atau menjalankan bisnis ke berbagai kota di Sumbar.
“Inilah yang membantu roda usaha saya tetap bergerak. Moga Allah membukakan jalan rezeki yang lebih baik buat kami,” harapnya. (zul)
Bahan pengilat inilah yang membuat Acong merasa punya peluang yang besar. “Karena kesibukan, orang mempercayakan kebersihan kendaraannya ke cucian hingga salon motor. Mereka ingin kendaraan mereka kinclong, mengkilap setelah keluar dari sana. Ini peluang bagi yang bisa memproduksi bahan pengkilap kendaraan tersebut,” ujar Acong, pembuat cairan semir ban dan bodi kendaraan di Jalan Hiu, Ulak Karang Padang, Selasa (10/9).
Usaha yang belum setahun dijalaninya ini memberi harapan besar pada Acong. Sejumlah showroom mobil, tempat cucian hingga salon mobil/motor mulai percaya kepada produk di bawah bendera UD. Dukhan ini. Banyak komentar positif yang diterima seputar produknya.
Ada yang bilang semir ban produksinya bisa juga digunakan untuk bodi kendaraan. Padahal sebelumnya mereka tidak mau lantaran pemilik kendaraan melarang. Umumnya beralasan bisa merusak bodi motornya.
Malah ada yang menegaskan, sejak pakai semir ban UD Dukhan, biaya yang harus mereka keluarkan jauh berkurang dibanding memakai merek yang sudah terkenal sekalipun.
Tak heran pria yang akrab dipanggil Acong ini mulai berani mengklaim produk semir ban buatannya tidak kalah dari merek ternama yang beredar di pasaran. Semir ban buatan pria yang telah mulai aneka wirausaha sejak SMA ini, tak hanya mengkilapkan ban. Ban jadi awet karena semir tersebut tidak membuat ban menguning beberapa hari setelah semir dioleskan. Permukaan pun tidak kasar/keras apalagi retak-retak ketika cairan semir mengering.
“Ini berkat cinta kami suami isteri yang bergantian mengaduknya secara manual. Ditambah zikir sembari mengaduk bahan pembuat semir itu,” ujarnya sambil tertawa.
Kilap ban relatif bertahan lebih lama dari yang dihasilkan merek lainnya. Bahkan setelah hujan, bila ban dilap dengan kain atau kanebo, maka kilat ban seolah kembali.
Kilatnya bagaikan baru saja disemir ulang. Tak heran banyak usaha cuci mobil/motor hingga showroom yang memesan produknya.
Acong pun menegaskan, umumnya pegawai bahkan pemilik cucian motor mengaku biaya yang harus dikeluarkan untuk mengkilatkan motor menjadi lebih murah. Biasanya mereka harus memakai semir ban. Sementara untuk mengkilapkan bodi maka harus digunakan cairan lain.
Sedangkan untuk semir ban Dukhan, mereka ataupun pemilik motor tak ragu menggunakan semir ban itu untuk bodi motor mereka. ‘Khasiatnya’ sama.
Bahkan Acong mulai berani mengakses permodalan ke bank. “Alhamdulillah BRI mau mengucurkan kredit buat usaha saya bersama isteri ini,” ujar Acong bahagia.
Kepercayaan bank dijawabnya dengan kedisiplinan membayar pinjaman. Hingga, belum satu tahun dia bisa menambah pinjaman.
Dulu hanya bisa Rp5 juta, kini bisa Rp12 juta. Bahkan bisa lebih jika bisa menjaga kepercayaan bank tersebut.
Seiring bertambahnya jaringan penjualan, Acong mengaku kewalahan dalam memenuhi permintaan konsumennya. Pengadaan barang yang membuatnya kewalahan.
Apalagi rekannya dari komunitas motor ceper yang dia pernah aktif di dalamnya, juga sejumlah toko umumnya menerapkan sistim titip/konsinyasi.
Seiring perkembangan usahanya, banyak pencucian motor/mobil di sejumlah daerah yang minta dalam kemasan 5 liter. Dari kalkulasi, Acong harus menambah modal jika ingin memenuhi permintaan yang mulai meningkat itu.
Hanya saja dia harus sabar jelang lunasnya pinjaman di bank. Atau menerima mereka yang mau memodalinya untuk mengembangkan usaha tersebut.
Meski begitu, Acong juga menjual jasa antaran mobil bagi pembeli atau showroom mobil di Jambi. Bahkan ada juga yang memintanya membawakan mobil yang dibeli konsumen di Jakarta. Jasanya pun digunakan oleh konsumen yang ingin plesiran atau menjalankan bisnis ke berbagai kota di Sumbar.
“Inilah yang membantu roda usaha saya tetap bergerak. Moga Allah membukakan jalan rezeki yang lebih baik buat kami,” harapnya. (zul)
0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya