Keceriaan terpancar dari wajah semua orang yang hadir di aula Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato, Kalumbuk Padang. Terlebih 12 orang yang mengenakan stelan jas hitam dan kemeja putih di sudut kanan depan aula tersebut.
Mereka didandani sedemikian rupa untuk menghadapi hari istimewa tersebut. Rabu (26/12) mereka ‘diwisuda’ atau diterminasi setelah menjalani pendidikan dan pelatihan di panti itu.
“Alhamdulillah kita kembali bisa melepas 12 siswa yang telah dianggap mandiri. Mereka sekarang punya keterampilan dan diharapkan bisa mandiri,” ujar Abdul Gafar, Kadinas Sosial Provinsi Sumbar.
Menurut Abdul, memang jumlahnya kecil dibanding jumlah penyandang netra di daerah ini. Namun itulah kemampuan sarana dan prasarana yang dimiliki pemerintah yang hanya sanggup mendidik 50 orang. “Kita harapkan dengan adanya keterlibatan pihak swasta, kian banyak penyandang disabilitas netra yang bisa kita didik agar mandiri,” ujarnya.
Ali Yusmar, salah seorang kerabat kelayan yang diterminasi hari itu menyatakan sangat bahagia. Sepupunya yang dulu kurang percaya diri, sekarang berubah menjadi pribadi yang tegar dan punya keterampilan buat penopang kehidupannya.
Hal yang sama juga dirasakan Jamaldi. Kakak dari Dodi Putra, lulusan terbaik tahun ini. Diakuinya, Dodi yang menderita low vision tiba-tiba ketika di SMK sempat hilang kepercayaan dirinya. Apalagi segala upaya untuk mengembalikan penglihatan adiknya itu seakan sia-sia.
“Kami sekeluarga jelas bangga. Sekarang Dodi berubah jadi ceria dan hari ini ia menjadi yang terbaik dan dapat tawaran kerja pula,” ujar Jamaldi, dosen IAIN Imam Bonjol.
Dodi yang berencana membuka praktik sendiri di Pekanbaru berharap agar rekan-rekannya di panti kian termotivasi bahwa mereka punya potensi. “Kita pun bisa menjadi tangan di atas,” ujarnya ketika diwawancara wartawan.
Dibekali peralatan
Menurut Kepala PSBN Tuah Sakato, Heni Yunida, mereka yang diterminasi dibekali dengan toolkit atau perlengkapan praktik. Toolkit tersebut terdiri dari dipan shiatsu, dipan massage lengkap dengan kasur dan bantalnya. Mereka juga diberi peralatan penunjang klinik pijat mereka nantinya.
Dikatakannya, semua peralatan diberikan oleh Dinas Sosial Sumbar. Namun kendati telah punya peralatan, mereka akan terkendala dana untuk sewa tempat praktik. “Kita harapkan kepada dinas terkait di kabupaten kota bisa memfasilitasinya,” ujar Heni. (zulfadli)
Mereka didandani sedemikian rupa untuk menghadapi hari istimewa tersebut. Rabu (26/12) mereka ‘diwisuda’ atau diterminasi setelah menjalani pendidikan dan pelatihan di panti itu.
“Alhamdulillah kita kembali bisa melepas 12 siswa yang telah dianggap mandiri. Mereka sekarang punya keterampilan dan diharapkan bisa mandiri,” ujar Abdul Gafar, Kadinas Sosial Provinsi Sumbar.
Menurut Abdul, memang jumlahnya kecil dibanding jumlah penyandang netra di daerah ini. Namun itulah kemampuan sarana dan prasarana yang dimiliki pemerintah yang hanya sanggup mendidik 50 orang. “Kita harapkan dengan adanya keterlibatan pihak swasta, kian banyak penyandang disabilitas netra yang bisa kita didik agar mandiri,” ujarnya.
Ali Yusmar, salah seorang kerabat kelayan yang diterminasi hari itu menyatakan sangat bahagia. Sepupunya yang dulu kurang percaya diri, sekarang berubah menjadi pribadi yang tegar dan punya keterampilan buat penopang kehidupannya.
Hal yang sama juga dirasakan Jamaldi. Kakak dari Dodi Putra, lulusan terbaik tahun ini. Diakuinya, Dodi yang menderita low vision tiba-tiba ketika di SMK sempat hilang kepercayaan dirinya. Apalagi segala upaya untuk mengembalikan penglihatan adiknya itu seakan sia-sia.
“Kami sekeluarga jelas bangga. Sekarang Dodi berubah jadi ceria dan hari ini ia menjadi yang terbaik dan dapat tawaran kerja pula,” ujar Jamaldi, dosen IAIN Imam Bonjol.
Dodi yang berencana membuka praktik sendiri di Pekanbaru berharap agar rekan-rekannya di panti kian termotivasi bahwa mereka punya potensi. “Kita pun bisa menjadi tangan di atas,” ujarnya ketika diwawancara wartawan.
Dibekali peralatan
Menurut Kepala PSBN Tuah Sakato, Heni Yunida, mereka yang diterminasi dibekali dengan toolkit atau perlengkapan praktik. Toolkit tersebut terdiri dari dipan shiatsu, dipan massage lengkap dengan kasur dan bantalnya. Mereka juga diberi peralatan penunjang klinik pijat mereka nantinya.
Dikatakannya, semua peralatan diberikan oleh Dinas Sosial Sumbar. Namun kendati telah punya peralatan, mereka akan terkendala dana untuk sewa tempat praktik. “Kita harapkan kepada dinas terkait di kabupaten kota bisa memfasilitasinya,” ujar Heni. (zulfadli)

0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya