PENGALAMAN papanya ditolak mengikuti perkuliahan program doktor di sebuah universitas ternama di Kota Bandung, lantaran baru saja mendapat anugerah gelar profesor dari Universitas Andalas, terlintas begitu saja di benak Ir. H. Indra Dwipa, MS.
Kenangan masa kecil (1973) itu terbayang sekilas saat Indra tengah harap-harap cemas menunggu Direktur Pascasarjana Universitas Andalas diwakili Dr. Henmaidi, ST. M.Eng membacakan hasil ujian terbuka program doktor yang diikuti Indra.
“Sungguh saya tidak bisa menahan keharuan ini. Begitu mendengar saya dinyatakan lulus, terlintas saja Papa Djafaruddin dan Mama Nurmahyar yang tidak bisa hadir. Papa yang tamatan UGM ingin melanjutkan pendidikannya hingga program doktor duluya,” ungkap Indra seusai acara.
Kini dia telah meraih gelar doktor di bidang ilmu-ilmu pertanian dengan pemusatan Agronomi. Gelar tersebut juga ingin diraih sang ayah dulunya. Namun gagal, karena, ayah Indra Dwipa telah bergelar profesor lantaran sering menelorkan tulisan ilmiah di bidang pertanian. Berarti, secara tidak langsung dia telah mewujudkan keinginan sang ayah.
“Alhamdulillah saya bisa menunaikan pesan ayah yang senantiasa mewanti-wanti agar anaknya meraih pendidikan setinggi-tingginya. Dengan pendidikanlah kita bisa meraih apa yang kita cita-citakan,” ungkapnya.
Senin (20/10) pagi, Indra berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Karakterisasi Morfologi dan Molekuler Plasma Nutfah Padi Beras Murah Asal Sumatera Barat serta Uji Resistensinya Terhadap Cekaman Biotik dan Abiotik. Dia memperoleh nilai 85 (A). Promotornya, Prof. Dr. Auzar Syarif, MS, Prof. Dr. Ir. Irfan Suliansyah, MS, Dr. Ir. Eti Swasti, MS.
Adapun pengujinya Dr. Ir. Aprisal, MP yang mewakili Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Ir. Rudi Febriamansyah yang merupakan Ketua Prodi Magister Ilmu Pertanian, Dr. Ir.. Gustian, MS, Dr. Ir. Yaherwandi, M.Si. Prof. Dr. Ir. Yunus Musa, M.Sc bertindak sebagai penguji eksternal.
Tak sia-sia Dra. Rustini Apt, M.Si., yang juga tengah mempersiapkan disertasi doktornya di bidang biomedik memberi dukungan dan perhatian penuh baginya. Indra boleh dikata jadi doktor beras merah pertama Sumbar.
Dalam penelitian itu, suami Rustini ini mempelajari respon beberapa genotipe padi beras merah (BM) asal Sumbar terhadap serangan hama wereng coklat dan hama penyakit blast. Dan hal ini dipuji promotornya Auzar Syarif saat menyatakan kelayakan penelitian Indra di hadapan penguji dan peserta ujian terbuka di aula pascasarjana Universitas Andalas Kampus Limau Manis itu.
Indra dengan penelitiannya telah menyelamatkan kekayaan hayati asli Sumbar. Tak banyak yang peneliti yang melakukannya lantaran jenis beras asal Sumbar umumnya hanya dikonsumsi masyarakat daerah ini.
Pengujian ketahanan terhadap wereng coklat dilakukan di rumah kaca dan Laboratorium Bioteknologi Serangga Jurusan Hama dan penyakit Tanaman Universitas Andalas. Sementara respon terhadap serangan blast dilakukan di wilayah endemiknya, di Sitiung Kab. Dharmasraya. Indra pun melakukan uji ketahanan beras merah terhadap cekaman Fe dan Al. Pemilihan Fe dan Al didasarkan jenis tanah di Sumbar umumnya mengandung kedua unsur tersebut.
Dari pengujiannya, didapatlah genotipe yang bagus. Genotipe ini bisa dijadikan plasma nutfah yang bisa digunakan oleh ahli pemuliaan tanaman. Dari plasma nufah yang ada ini bisa dikembangkan secara genetik varietas baru yang punya keunggulan. Genotipe unggul itu diantaranya adalah BM Siarang, BM Jorong Mudiak dan BM Pido Manggih. Ketiganya tahan terhadap serangan blast.
Untuk keracunan Fe, terdapat empat genotip yang toleran yaitu BM Kekuningan, BM Sariak Alahan Tigo, dan BM Gunung Pasir. Sementara yang tahan terhadap keracunan Al adalah BM Jorong Mudiak, BM Perbatasan dan BM Gunung Pasir. Sementara dalam hal produksi padi, BM Talang Babungo, BM Surian dan BM Siarang
Dari keseluruhan pengujian tersebut ayah Ahsan Hafidz ini menyarankan untuk penelitian lebih lanjut tentang resistensi beras merah BM Siarang, BM Perbatasan, BM Gunung Pasir dan BM Jorong Mudiak. Penelitian bisa diarahkan terhadap perubahan mutu atau kualitas beras merahnya sehingga didapat calon-calon bibit untuk merakit genotipe yang lebih unggul.
“Ini bisa dijadikan acuan oleh pemerintah kabupaten/kota yang daerahnya memiliki varietas beras merah. Beras merah layak dibudidayakan lantaran potensial. Beras merah punya nilai gizi, nilai kalori tinggi dan punya vitamin B-kompleks yang lebih tinggi dibanding beras putih. Beras ini juga rendah glukosa hingga bisa dikonsumsi penderita diabetes. Perusahaan makanan bayi terkenal pun menggunakan beras ini untuk produknya,” tegas Indra. (adv)
Kenangan masa kecil (1973) itu terbayang sekilas saat Indra tengah harap-harap cemas menunggu Direktur Pascasarjana Universitas Andalas diwakili Dr. Henmaidi, ST. M.Eng membacakan hasil ujian terbuka program doktor yang diikuti Indra.
“Sungguh saya tidak bisa menahan keharuan ini. Begitu mendengar saya dinyatakan lulus, terlintas saja Papa Djafaruddin dan Mama Nurmahyar yang tidak bisa hadir. Papa yang tamatan UGM ingin melanjutkan pendidikannya hingga program doktor duluya,” ungkap Indra seusai acara.
Kini dia telah meraih gelar doktor di bidang ilmu-ilmu pertanian dengan pemusatan Agronomi. Gelar tersebut juga ingin diraih sang ayah dulunya. Namun gagal, karena, ayah Indra Dwipa telah bergelar profesor lantaran sering menelorkan tulisan ilmiah di bidang pertanian. Berarti, secara tidak langsung dia telah mewujudkan keinginan sang ayah.
“Alhamdulillah saya bisa menunaikan pesan ayah yang senantiasa mewanti-wanti agar anaknya meraih pendidikan setinggi-tingginya. Dengan pendidikanlah kita bisa meraih apa yang kita cita-citakan,” ungkapnya.
Senin (20/10) pagi, Indra berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Karakterisasi Morfologi dan Molekuler Plasma Nutfah Padi Beras Murah Asal Sumatera Barat serta Uji Resistensinya Terhadap Cekaman Biotik dan Abiotik. Dia memperoleh nilai 85 (A). Promotornya, Prof. Dr. Auzar Syarif, MS, Prof. Dr. Ir. Irfan Suliansyah, MS, Dr. Ir. Eti Swasti, MS.
Adapun pengujinya Dr. Ir. Aprisal, MP yang mewakili Rektor Universitas Andalas, Prof. Dr. Ir. Rudi Febriamansyah yang merupakan Ketua Prodi Magister Ilmu Pertanian, Dr. Ir.. Gustian, MS, Dr. Ir. Yaherwandi, M.Si. Prof. Dr. Ir. Yunus Musa, M.Sc bertindak sebagai penguji eksternal.
Tak sia-sia Dra. Rustini Apt, M.Si., yang juga tengah mempersiapkan disertasi doktornya di bidang biomedik memberi dukungan dan perhatian penuh baginya. Indra boleh dikata jadi doktor beras merah pertama Sumbar.
Dalam penelitian itu, suami Rustini ini mempelajari respon beberapa genotipe padi beras merah (BM) asal Sumbar terhadap serangan hama wereng coklat dan hama penyakit blast. Dan hal ini dipuji promotornya Auzar Syarif saat menyatakan kelayakan penelitian Indra di hadapan penguji dan peserta ujian terbuka di aula pascasarjana Universitas Andalas Kampus Limau Manis itu.
Indra dengan penelitiannya telah menyelamatkan kekayaan hayati asli Sumbar. Tak banyak yang peneliti yang melakukannya lantaran jenis beras asal Sumbar umumnya hanya dikonsumsi masyarakat daerah ini.
Pengujian ketahanan terhadap wereng coklat dilakukan di rumah kaca dan Laboratorium Bioteknologi Serangga Jurusan Hama dan penyakit Tanaman Universitas Andalas. Sementara respon terhadap serangan blast dilakukan di wilayah endemiknya, di Sitiung Kab. Dharmasraya. Indra pun melakukan uji ketahanan beras merah terhadap cekaman Fe dan Al. Pemilihan Fe dan Al didasarkan jenis tanah di Sumbar umumnya mengandung kedua unsur tersebut.
Dari pengujiannya, didapatlah genotipe yang bagus. Genotipe ini bisa dijadikan plasma nutfah yang bisa digunakan oleh ahli pemuliaan tanaman. Dari plasma nufah yang ada ini bisa dikembangkan secara genetik varietas baru yang punya keunggulan. Genotipe unggul itu diantaranya adalah BM Siarang, BM Jorong Mudiak dan BM Pido Manggih. Ketiganya tahan terhadap serangan blast.
Untuk keracunan Fe, terdapat empat genotip yang toleran yaitu BM Kekuningan, BM Sariak Alahan Tigo, dan BM Gunung Pasir. Sementara yang tahan terhadap keracunan Al adalah BM Jorong Mudiak, BM Perbatasan dan BM Gunung Pasir. Sementara dalam hal produksi padi, BM Talang Babungo, BM Surian dan BM Siarang
Dari keseluruhan pengujian tersebut ayah Ahsan Hafidz ini menyarankan untuk penelitian lebih lanjut tentang resistensi beras merah BM Siarang, BM Perbatasan, BM Gunung Pasir dan BM Jorong Mudiak. Penelitian bisa diarahkan terhadap perubahan mutu atau kualitas beras merahnya sehingga didapat calon-calon bibit untuk merakit genotipe yang lebih unggul.
“Ini bisa dijadikan acuan oleh pemerintah kabupaten/kota yang daerahnya memiliki varietas beras merah. Beras merah layak dibudidayakan lantaran potensial. Beras merah punya nilai gizi, nilai kalori tinggi dan punya vitamin B-kompleks yang lebih tinggi dibanding beras putih. Beras ini juga rendah glukosa hingga bisa dikonsumsi penderita diabetes. Perusahaan makanan bayi terkenal pun menggunakan beras ini untuk produknya,” tegas Indra. (adv)

0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya