Padang - Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, pergencar upaya memotivasi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Sumbar. Mengawali pekan ini, pengusaha makanan dari enam daerah diberi pemahaman pentingnya memproduksi makanan enak lagi sehat.
Dalam kegiatan di Rocky Plaza Hotel Bukittinggi itu, dinas menggandeng BPOM Sumbar dan Kripik Balado Mahkota. Hadir dalam acara itu 40 pengusaha makanan dari Padang Panjang, Payakumbuh, Pasaman, Tanah Datar, Limapuluh Kota dan Bukittinggi.
“Minangkabau terkenal dengan makanan khasnya yang enak dan nikmat. Namun itu tak akan ada artinya jika tidak menyehatkan. Apalagi tahun depan, kita sudah memasuki era Masyarakat Eknomi ASEAN (MEA),” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar diwakili oleh Kabid Pemberdayaan Usaha Koperasi, Junaidi, Selasa (23/9).
Junaidi menegaskan, pemberlakuan MEA pasti berdampak kepada produk-produk Sumbar, termasuk makanan olahan. Jika produsen makanan olahan kita tidak siap, maka bisa jadi banyak diantara mereka bakal menjadi penonton di daerahnya sendiri, menyaksikan membanjirnya produk negara ASEAN di pasar-pasar kita.
Kadinas Koperindag Kota Bukittinggi Muhammad Epi Idris memaparkan pentingnya jaringan usaha. UMKM umumnya memiliki banyak keterbatasan. Permasalahan yang mereka hadapi secara umum adalah rendahnya akses dan pangsa, penguasaan teknologi, sumber daya manusia, produktifitas dan daya saing.
Hal ini diperparah lagi dengan pengelolaan usaha secara tradisional dengan kemampuan pemasaran terbatas. Mereka juga belum atau kurang memiliki legalitas formal.
Cara mengatasinya, katanya, membentuk kelompok usaha. Lebih baik lagi jika pengusaha makanan membentuk kelembagaan koperasi yang kuat. Lewat kelompok atau koperasi aneka usaha, bisa saling berbagi informasi, teknologi dan peningkatan kemampuan SDM. Sebab, tak semua punya kesempatan mendapat kesempatan ikut pelatihan.
Merlinda Agustin dari Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat dan Pelayanan Kesehatan Sumbar, memaparkan tentang pentingnya menghindari penggunaan bahan-bahan berbahaya dalam memproduksi makanan.
Bahan berbahaya berdampak bagi kesehatan konsumen. Pemakaian dalam jangka panjang sejumlah bahan berbahaya bisa merusak generasi muda Indonesia. Bagi produsen sendiri, berakibat pada turunnya kepercayaan konsumen, produk melemah daya saingnya. Malah, produsen jujur dan bertanggung jabaw pun terimbas getahnya.
Linda mengimbau pelaku usaha bidang makanan menghindari pemakaian boraks (pengawet), Siklamat (pemanis buatan) dan formalin (pengawet orang mati), rhodamin B (pewarna sintetis). Linda mengupas tuntas bahan, ciri dan bahaya penggunaannya. “Penting memperhatikan komposisi, kadaluarsa dan label halal jika ingin menghasilkan makanan enak dan sehat,” pungkas Linda.
Sementara Arismen dari Kripik Balado Mahkota, menguraikan strategi pemasaran dan pengembangan usaha. Mulai dari penamaan unik bagi produk, pengenalan ke masyarakat, pemberian potongan harga di iven tertentu, melakukan inovasi hingga membentuk jaringan usaha. (zul)

0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya