Menurut Prof. Dr.
Ir. Tualar Simarmata, MS,
peneliti dari Laboratorium Biologi Tanah dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran,
Bandung, Jawa Barat, petani di Indonesia adalah orang teraneh. Seenaknya
membuang pupuk yang dihasilkan dari pabrik mereka dan rela membeli pupuk dari
pabrikan lainnya.
Sang profesor dalam
penelitiannya menemukan fakta bahwa pabrik terbesar dan terbaik dalam hal pupuk
dimiliki oleh petani di Indonesia, yakni lahan mereka sendiri. Pupuknya pun bersifat
organik. Dan, semakin dipakai, tanahnya semakin subur.
Sementara pupuk yang
dibelinya dari berbagai pabrik pupuk seperti pabrik Pupuk Sriwijaya, Pupuk Iskandar
Muda, Petrokimia Gresik merupakan pupuk an organik. Padahal mereka tahu
pupuk anorganik itu semakin dipakai
kadarnya terus meningkat dan berakibat kepada kesuburan tanah mereka. Di beberapa daerah pupuk anorganik itu mahal bahkan sulit mendapatkannya.
Menurut perhitungan Tualar,
tiap tahun petani membuang sekitar 80,02 juta ton jerami. Sesuatu jumlah yang
fantastis. Mereka seenaknya membakar jerami yang sedianya merupakan pupuk alami
yang disediakan tuhan buat mereka. Selain mencemarkan udara, pembakaran jerami
pun mengakibatkan mikroorganisme yang diperlukan pun mati.
Padahal jika jerami
dikelola dengan baik, bakal mendatangkan keuntungan bagi petani itu sendiri.
Bagaimana caranya? Tualar punya teknologinya
yang dia namakan teknologi intensifikasi padi aerob terkendali
berbasis organik (IPAT-BO) untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan produksi padi.
Teknologi ini
diperkenalkan pada kelompok tani di lingkungan KUKMI Sumbar beberapa waktu lalu
di Inna Muara Padang. Kelompok tersebut beruntung lantaran Ketua DPP KUKMI, DR.
HM Azwir Dainy Tara proaktif membawa teknologi itu ke Sumbar.
Yang menjadi
narasumber waktu itu adalah asisten Tualar, Heri Muhammad Syafari. “Penelitiannya
telah dilakukan sejak 2006 dan sejak 2008 telah menampakkan hasil. Bisa
mencapai 9 ton per hektar,” ujar Heri yang juga Dosen UNPAD.
Kata Heri teknologi IPAT-BO sudah dikenalkan di tujuh
provinsi dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Selain hasil panen yang
lebih banyak, teknologi IPAT-BO juga menurunkan kebutuhan pupuk anorganik
hingga 50%.
Bahkan di daerah yang kurang air sekalipun seperti di Pulau
Rote Nusa Tenggara Timur, teknologi IPAT-BO pun berhasil mendatangkan hasil
yang lebih baik. Jumlah bibit yang ditanam pun hanya satu per titik tanam.
Bukan tiga atau lebih seperti yang dilakukan petani kita selama ini. (*)
0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya