Headlines News :
Home » , , » Keanehan pada Petani di Indonesia

Keanehan pada Petani di Indonesia

Written By zulfadli on Selasa, 18 Juni 2013 | 07.57



Menurut Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, MS, peneliti dari Laboratorium Biologi Tanah dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, petani di Indonesia adalah orang teraneh. Seenaknya membuang pupuk yang dihasilkan dari pabrik mereka dan rela membeli pupuk dari pabrikan lainnya.

Sang profesor dalam penelitiannya menemukan fakta bahwa pabrik terbesar dan terbaik dalam hal pupuk dimiliki oleh petani di Indonesia, yakni lahan mereka sendiri. Pupuknya pun bersifat organik. Dan, semakin dipakai, tanahnya semakin subur.

Sementara pupuk yang dibelinya dari berbagai pabrik pupuk seperti pabrik Pupuk Sriwijaya, Pupuk Iskandar Muda, Petrokimia Gresik merupakan pupuk an organik. Padahal mereka tahu pupuk  anorganik itu semakin dipakai kadarnya terus meningkat dan berakibat kepada kesuburan tanah mereka. Di beberapa daerah pupuk anorganik itu mahal bahkan sulit mendapatkannya.

Menurut perhitungan Tualar, tiap tahun petani membuang sekitar 80,02 juta ton jerami. Sesuatu jumlah yang fantastis. Mereka seenaknya membakar jerami yang sedianya merupakan pupuk alami yang disediakan tuhan buat mereka. Selain mencemarkan udara, pembakaran jerami pun mengakibatkan mikroorganisme yang diperlukan pun mati.

Padahal jika jerami dikelola dengan baik, bakal mendatangkan keuntungan bagi petani itu sendiri. Bagaimana caranya? Tualar punya teknologinya  yang dia namakan teknologi intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) untuk meningkatkan efisiensi pemupukan dan produksi padi.

Teknologi ini diperkenalkan pada kelompok tani di lingkungan KUKMI Sumbar beberapa waktu lalu di Inna Muara Padang. Kelompok tersebut beruntung lantaran Ketua DPP KUKMI, DR. HM Azwir Dainy Tara proaktif membawa teknologi itu ke Sumbar.

Yang menjadi narasumber waktu itu adalah asisten Tualar, Heri Muhammad Syafari. “Penelitiannya telah dilakukan sejak 2006 dan sejak 2008 telah menampakkan hasil. Bisa mencapai 9 ton per hektar,” ujar Heri yang juga Dosen UNPAD.

Kata Heri teknologi IPAT-BO sudah dikenalkan di tujuh provinsi dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Selain hasil panen yang lebih banyak, teknologi IPAT-BO juga menurunkan kebutuhan pupuk anorganik hingga 50%.

Bahkan di daerah yang kurang air sekalipun seperti di Pulau Rote Nusa Tenggara Timur, teknologi IPAT-BO pun berhasil mendatangkan hasil yang lebih baik. Jumlah bibit yang ditanam pun hanya satu per titik tanam. Bukan tiga atau lebih seperti yang dilakukan petani kita selama ini. (*)
Share this article :

0 komentar :

Posting Komentar

Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya


 
Support : Bisnis UKM | Kemenkop | Okebana RSS | Sentra UKM

Copyright © 2012. Okebana - All Rights Reserved
Template Dimodifikasi Oleh Zulfadli
Wartawan Harian Singgalang