Keputusan untuk beralih ke wirausaha awalnya diakui teramat sulit oleh Doni Hendri. Biasanya setiap bulan telah jelas gaji yang diterima dari tempatnya mengabdi.
Yang paling sulit itu menurut Doni adalah meninggalkan Rumah Zakat Cabang Padang yang dia ikut merintisnya pada 2005 lalu. Kebersamaan dengan rekan kerja selalu mengalihkan Doni untuk tetap pada pekerjaannya.Namun, keinginan menjadi wirausahawan sukses selalu menggedor relung hati bapak tiga anak ini. Diakuinya semangat itu menyelinap dari rutinitasnya memberdayakan para dhuafa yang menjadi binaan Rumah Zakat, tempatnya bekerja.
“Mereka punya semangat berusaha yang tinggi. Mereka yakin dalam melakukan apa yang mereka bisa, soal rezeki Allah penentunya,” ungkapnya. Sambil bekerja, Doni mulai menekuni usaha kecil-kecilan.
Menjualkan batagor milik orang pun dia lakoni. Untung yang diperoleh, memecutnya untuk lebih serius dalam usaha penjualan batagor tersebut. Keuntungan makin berlipat saat dia mendapat kesempatan berusaha di dalam area sekolah Adzkia.
Sayangnya, dia tak bisa lama menikmati manisnya jerih payah tersebut. Dia tak bisa lagi berjualan di sana lantaran tempat tersebut mau dipakai buat koperasi sekolah tersebut. Berbagai usaha lain dicoba, namun kegagalan selalu datang menerpa. Buka kedai kecil-kecilan di komplek perumnas Air Tawar pun dicobanya.
Tapi saat usaha mulai menampakkan hasil, dia kembali harus gigit jari. Si empunya kedai menaikkan sewa yang menurut hitung-hitungan kasar sulit baginya mendapat untung bagi perputaran usahanya.
Kesabaran ayah dari Zidni, Saqilla dan Tazkia ini mempertemukannya dengan seorang pembuat kacang telur. Anak pemilik usaha mendapat bantuan beasiswa pendidikan Rumah Zakat.Pria yang memelihara jambang ini melihat usaha tersebut cukup potensial. Kacang telur tersebut laris. Untuk dibina perekonomiannya, ternyata kurang memenuhi syarat lantaran belum dikelola dengan baik. Produsennya kadang buat kadang tidak, lantaran sering sakit-sakitan.
Dari sanalah mulai terbuka jalan baginya. Sang ibu yang gembira anaknya bisa melanjutkan pendidikannya, bermurah hati membuka rahasia asal kalau berhasil jangan lupakan dia. Doni mulai belajar, learning by doing. Tiap kunjungan kesana dapat ilmu, kemudian dipraktekkan dan hasilnya dicicipi ‘sang guru’.
Saat hasil belajar hampir mendekati rasa dan mutu produk gurunya, semangat Doni timbul lagi. Dia mulai menitipkan kacang telur buatannya ke kedai-kedai minuman/makanan di pinggir jalan. Dia memberi merek dari perpaduan nama ketiga anaknya, Niqita.
Sembari menunaikan pekerjaan utama, dia menitipkan kacang telur Niqita di kedai yang dilaluinya sepanjang jalan menuju tempat para dhuafa yang dapat bantuan dari rumah zakat. “Alhamdulillah kacang telur saya mulai mendapatkan konsumen. Permintaan dari hari ke hari makin meningkat,” ungkapnya.
Doni pun kembali dihadapkan pada kondisi dimana dia harus memilih. Kembangkan usaha atau tetap bekerja namun menjadikan usaha kacang telur niqita sebagai sambilan saja. Dengan keyakinan yang mantap setelah berpikir dan shalat, pada 2011 Doni mengundurkan diri dari pekerjaannya. Seluruh sahabat menyayangkan keputusan itu.
Namun dia tetap pada pendirian semula dan terus berusaha meyakinkan anak dan isterinya terhadap konsekwensi keputusan yang diambil. Perlahan-lahan usaha Doni mulai memuaskan hasilnya. Kini dia bisa menjualkan 400 bungkus kacang per hari. Dia yang biasanya harus pula jadi marketing, sekarang bisa lega. Satu karyawan telah dipercaya untuk itu hingga ia bisa fokus pada produksi.
Lantaran biasa memberdayakan, sembari berusaha, sejumlah pelaku UKM dia rangkul. Mereka bernaung dalam wadah Forum Silaturahmi dan komunikasi UKM (Fosko UKM). “Sudah 25 orang pelaku UKM yang ikut. Dan alhamdulillah sejauh ini kami bisa bersatu. Kami ikut pameran dalam Padang Fair 2013 ini hasil kesepakatan bersama,” bebernya, Selasa (11/6).
Menurut dia, anggota Fosko bergantian menjaga stand. Mereka juga harus ikut mempromosikan produk anggota kepada pengunjung stand. Bahkan mereka pun menggantang asa untuk bisa punya outlet sendiri untuk memasarkan produk anggota Fosko. (zul)
0 komentar :
Posting Komentar
Masukan Anda amat berarti untuk pengembangan web ini selanjutnya