Ketika AI Makin Pintar, Wakil Ketua DPRD Sumbar Muhammad Iqra Chissa Putra Ingatkan Pentingnya Kehangatan Keluarga
PADANG (OKEBANA.COM) — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin mudah diakses. Berbagai pertanyaan bisa dijawab dalam hitungan detik. Namun, di tengah kemajuan teknologi itu, ada satu hal yang tetap membutuhkan kehadiran manusia: kehangatan keluarga.
Orang tua bukan sekadar pemberi nafkah, anak bukan hanya tanggung jawab pendidikan, dan rumah bukan sekadar tempat beristirahat. Keluarga juga menjadi ruang bagi setiap anggotanya untuk didengar, dipahami, dan memperoleh dukungan emosional.
Pesan itulah yang disampaikan Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhammad Iqra Chissa Putra, saat menyosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Sumatera Barat Nomor 17 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga di Gedung Pertemuan DPD Partai Golkar Kota Padang, Minggu (18/10/2026).
Iqra, yang juga menjabat Ketua DPD Partai Golkar Kota Padang, mengatakan pemilihan tema ketahanan keluarga dilatarbelakangi keprihatinannya terhadap persoalan perceraian yang menjadi perhatian di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang.
Menurutnya, ketahanan keluarga perlu mendapat perhatian bersama karena keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, menjaga kesejahteraan anggotanya, serta membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
"Keluarga merupakan rumah paling nyaman. Tempat berkeluh kesah, membangun bahtera kehidupan, menjadi benteng dari pengaruh luar, serta membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik," ujarnya.
Ketika Teknologi Menjadi Tempat Bertanya, Orang Tua Tetap Dibutuhkan
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Anak-anak kini dapat memperoleh informasi dengan cepat melalui internet dan berbagai aplikasi berbasis AI.
Namun, kemudahan memperoleh jawaban tidak selalu berarti anak mendapatkan pemahaman emosional yang mereka butuhkan.
Iqra mencontohkan perubahan kebiasaan antargenerasi. Jika dahulu anak cenderung bertanya kepada orang tua ketika menghadapi persoalan sehari-hari, kini teknologi menjadi salah satu tempat mereka mencari jawaban.
Perubahan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bagi orang tua agar tidak kehilangan kedekatan dengan anak di tengah perkembangan teknologi.
"Dari sisi pengetahuan kita kalah jauh dengan AI. Hanya sisi emosional yang tidak ada pada AI dan itu yang harus diperkuat untuk membangun ketahanan keluarga," katanya.
Pernyataan itu menempatkan komunikasi dan kedekatan emosional sebagai bagian penting dalam pengasuhan. Teknologi dapat membantu menyediakan informasi, tetapi perhatian, kasih sayang, keteladanan, dan kemampuan memahami perasaan anak tetap membutuhkan keterlibatan manusia.
Karena itu, orang tua perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita anak, memahami persoalan yang mereka hadapi, serta membangun komunikasi yang terbuka di rumah.
Iqra mengaku dirinya baru menjalani kehidupan berkeluarga selama lima tahun. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari refleksinya tentang pentingnya menjaga komunikasi antara suami dan istri serta membangun hubungan yang dekat dengan anak.
Ia mengingatkan bahwa pemenuhan kebutuhan ekonomi dan pendidikan saja belum cukup. Anak juga membutuhkan kehadiran emosional orang tua agar merasa aman dan nyaman di lingkungan keluarga.
Salah satu kebiasaan sederhana yang ia dorong adalah mempertahankan tradisi makan bersama.
Di tengah kesibukan pekerjaan dan penggunaan gawai, waktu makan bersama dapat menjadi kesempatan bagi anggota keluarga untuk saling bercerita, bertukar pengalaman, dan mempererat hubungan.
| Foto bersama peserta sosialisasi. |
Ketahanan Keluarga Tidak Bisa Dipisahkan dari Ekonomi
Selain komunikasi dan pola pengasuhan, kondisi ekonomi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun keluarga yang tangguh.
Kebutuhan hidup, biaya pendidikan, dan berbagai pengeluaran rumah tangga dapat menjadi sumber tekanan apabila tidak diimbangi kemampuan mengelola keuangan serta dukungan yang memadai.
Iqra mendorong masyarakat untuk memanfaatkan program pemerintah daerah yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi dan peningkatan keterampilan.
Menurutnya, akses terhadap pelatihan, pengembangan kemampuan, dan peluang usaha dapat membantu keluarga meningkatkan kemandirian ekonomi.
Perhatian tersebut juga perlu diberikan kepada perempuan yang menjadi kepala keluarga.
Ia menyoroti kondisi perempuan yang harus menjalankan tanggung jawab ekonomi sekaligus memastikan kebutuhan anggota keluarganya tetap terpenuhi setelah menghadapi perceraian.
Bagi perempuan dalam situasi tersebut, dukungan tidak cukup hanya berupa kepedulian sosial. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha, dan memperoleh akses terhadap program pemberdayaan ekonomi.
Dukungan yang tepat diharapkan dapat memperluas kesempatan mereka membangun kehidupan yang lebih mandiri dan layak.
Perda Harus Dirasakan Manfaatnya oleh Keluarga
Sosialisasi Perda Nomor 17 Tahun 2018 menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa ketahanan keluarga bukan semata-mata urusan pribadi, melainkan juga bagian dari upaya membangun kesejahteraan sosial.
Namun, pemahaman terhadap regulasi perlu berjalan beriringan dengan upaya nyata. Komunikasi yang sehat di rumah, pengasuhan yang penuh perhatian, ketahanan ekonomi, serta dukungan terhadap keluarga yang menghadapi persoalan merupakan bagian dari pekerjaan bersama.
Di sisi lain, pelaksanaan kebijakan ketahanan keluarga membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga sosial, lingkungan masyarakat, hingga keluarga itu sendiri.
Program pemberdayaan ekonomi perlu menjangkau kelompok yang membutuhkan. Edukasi pengasuhan perlu mengikuti perubahan zaman. Sementara itu, keluarga yang menghadapi persoalan sosial maupun ekonomi membutuhkan akses terhadap bantuan dan pendampingan yang sesuai.
Dalam kesempatan tersebut, Iqra juga mengingatkan pentingnya rasa syukur dalam menjalani kehidupan keluarga.
"Terpenting adalah sikap syukur kita terhadap rezeki yang diterima. Sesuatu itu akan nikmat terasa jika sesuai porsinya," ujarnya, disambut tawa para peserta.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan keluarga tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilan yang dimiliki. Kemampuan mengelola kebutuhan, saling menghargai, dan menjaga hubungan juga memiliki arti penting dalam kehidupan bersama.
Pada akhirnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang berusaha menyelesaikan persoalan melalui komunikasi, kepedulian, tanggung jawab, dan dukungan yang tepat.
Ketika teknologi terus berkembang dan tantangan hidup semakin beragam, rumah diharapkan tetap menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga untuk merasa diterima, dihargai, dan dikuatkan.
Sebab, di balik kemajuan teknologi dan kesibukan mengejar kesejahteraan, kebutuhan manusia untuk didengar dan disayangi tetap menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang harmonis.
Satu manfaat yang bisa dirasakan dari kegiatan itu adalah terjaring beberapa orang yang rencananya bakal berkonsultasi dengan Riri Juswira, ST, M.CIO, kepala UPTD Dinas P3AP2KB Sumbar. Materi ketahanan keluarga yang disampaikannya membuat perempuan yang selama ini memendam beban, seakan mendapatkan saluran pelepasannya.
"Alhamdulillah dari dua sesi sosialisasi kita mendapatkan ibu rumah tangga yang memendam permasalahan keluarga mereka. Rencananya mereka akan berkonsultasi ke kantor atau ke Puspaga. Ini manfaat yang dirasakan masyarakat dengan adanya sosialisasi ini," ujar Riri. (Zul)