Reformasi Universitas Bung Hatta, SDM Berkualitas Didukung Anggaran dan Fasilitas
Padang - Reformasi
di Universitas Bung Hatta yang diusung Rektor Prof. Dr. Azwar Ananda
dan mendapat dukungan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pembina Bung Hatta,
Zuiyen Rais jelas menuntut sumber daya manusia (SDM) berkualitas,
anggaran dan fasilitas. Asset pun harus terkelola dengan baik,
terencana, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
"SDM
berkualitas memang telah menjadi prioritas kami dan itu akan terus
ditingkatkan seiring reformasi yang telah dicanangkan pada 2017 ini.
Pihak yayasan pun siap dengan anggaran yang dibutuhkan. Termasuk untuk
perbaikan, pemeliharaan dan pengembangan fasilitas penunjangnya," ujar
Wakil Rektor II, Susi Herawati, Selasa (26/7).
Susi
Herawati mengatakan untuk mwnghasilkan lulusan berkualitas, SDM
pengajar tentu harus berkalutas pula. Kini Bung Hatta sudah memiliki 66
doktor. Bagi yang berkualifikasi strata dua (S2), disiapkan dana Rp
1.000.000.000 setiap tahun untuk menyekolahkan mereka hingga mendapatkan
gelar doktoral.
Anggaran
stimulan dari yayasan ini akan diperbesar dengan bertambahnya jumlah
beasiswa yang mampu diraih lewat kiat-kiat yang kini tengah dilaksanakan
Wakil Rektor I Dr. Hendra Suherman. Termasuk memperbanyak tenaga
pengajar yang mampu meraih penelitian Dikti.
Tak
hanya itu, Susi mengungkapkan SDM pengajar berkualitas juga ditempuh
dengan percepatan jumlah guru besar yang juga tengah ditangani Wakil
Rektor I. Jumlah guru besar ini tentu bakal berdampak pada kualitas
pengajaran, bimbingan dan penelitian mahasiswa. Rangking perguruan
tinggi pun bakal terdongkrak naik. Ada badan penjamin mutu dan satuan
tugas pengendali internal.
Hal
ini cukup menjadi perhatian lantaran Ketua Yayasan Prof. Dr. Fachri
Ahmad ingin agar kampus proklamator menjadi research university,
universitas berbasis riset. Dengan banyaknya penelitian, terutama
penelitian yang tepat guna, berdaya guna bagi masyarakat dan bangsa
apalagi dunia akan menunjukkan kualitas lulusan dan kampus ini. Makanya
dosen berkualitas pun ditambah. Rencananya 30 dosen baru bakal direkrut
yayasan.
Dari segi tenaga
kependidikan pun ditingkatkan pula kualitas mereka. Disiplin kerja jadi
sangat prioritas. Mereka bakal dimotivasi untuk bekerja keras, cerdas,
dan tuntas. Ini didukung dengan absensi berbasis IT. Sistem finger print
yang lansung terhubung ke perangkat mobile pimpinan sehingga pimpinan
bisa tahu apakah stafnya hadir atau tidak.
Sistem
yang sama juga diterapkan bagi dosen. Jadi bisa diketahui dosen aktif
mengajar atau tidak. Dosen pun menginputkan absensi mahasiswanya
berbasis web. Dengan cara ini kita bisa mendisipkinkan mahasiswa, karena
jika dalam beberapa menit tenggang waktu yang ditetapkan mereka belum
absen kepada dosennya, sang mahasiswa dianggap tidak hadir.
Sistem
berbasis IT ini sangat eudahkan mahasiswa. Mereka bisa berkomunikasi
dengan pembimbing, mengurus perkuliahan, melihat nilai, bayar uang
kuliah, lihat jadwal dan lainnya dengan memanfaatkan teknologi. "Orang
tua pun sebenarnya bisa mengontrol anaknya dari sistem kita asalkan sang
anak memberikan password akun mereka kepada orang tuanya. Ini
meminimalkan kejadian orang tua yang dibohongi anak sekaitan dengan uang
kuliah dan tetek bengek perkuliahan lainnya. Ini bagian layanan prima
kami," tegas Susi.
Untuk
IT ini yayasan juga mengalokasikan anggaran Rp1,5 miliar hingga Rp2
miliar setiap tahun. Ini demi peningkatan kualitas yang dicita-citakan.
Anggaran bertambah seiring dicanangkannya IT menjadi kompetensi dasar
yang harus dipunyai lulusan Universitas Bung Hatta. IT juga harus
menunjang kompetensi bahasa Inggris dengan TOEFL setara 450. Belum
termasuk anggaran untuk menjadikan akhakul karimah menjadi komponen
ketiga kompetensi yang bakal diikutkan dalam sertifika keahlian
pendamping ijazah (SKPI) mahasiswa Universitas Bung Hatta.
Labor
sebagai konsekwensi lainnya harus dibenahi, dilakukan pemeliharaan dan
pembaharuannya. Labor di universitas merupakan bantuan yang diberikan
dari 2005 hingga 2012. Sudah seharusnya diperbarui. Ini membutuhkan
biaya tak sedikit. Yayasan pun bersiap mendukung perbaikan dan
pembaharuan labor ini. "Kampus kita juga beruntung dapat bantuan
pemerintah dan rakyat Jepang berupa labor pembelajaran bahasa Jepang
beserta studio sulih suara yang moderen. Banyak kegiatan yang bisa
dilakukan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dan SDM kita," ujarnya
dengan mimik bahagia.
Dari
sisi kegiatan kemahasiswaan pun makin banyak beasiswa. Tiap tahun ada
40-60 mahasiswa bidik misi. Yayasan pun membantu biaya pendidikan
mahasiswa bidik misi ini karena pemerintah mengalokasikan Rp2.400.000
untuk masing-masing mereka. Yayasan yang membantu memenuhi uang kuliah
yang berkisar antara Rp5,5 juta hingga Rp7,5 juta.
Uang
kuliah tersebut sudah termasuk biaya pemeliharaan ang pembangunan
sistem IT, labor, KKN, penelitian/skripsi, sidang sarjana dan wisuda dan
lainnya. Mahasiswa pun dijamin kesehatannya. Sakit tinggal memeriksakan
diri ke Klinik Rahmi Hatta di pintu masuk kampus proklamator 1 di Ulak
Karang. Jika harus dirujuk, biaya rumah sakit bakal dibantu kampus
pula.
Kegiatan
kemahasiswaan juga didukung, asalkan membangkitkan potensi sekaligus
menyalurkan minat dan bakat mereka hingga rasa percaya diri dan
kompetensime meningkat. Kegiatan kemahasiswaan yang sesuai ketentuan
kemenristekdikti didukung penuh. Untuk prestasi pun diakomodir. Asalkan
kegiatan mereka jelas dan penggunaan dana kegiatan mereka transparan,
akuntabel dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kami
dukung mahasiswa agar aktif berkegiatan di kampus di bawah koordinasi
Wakil Rektor III. Saya paham mahasiswa yang aktif ini yang banyak justru
banyak berhasil di bidang pekerjaannya karena mampu mengelola diri dan
mampu berkomunikasi dengan baik," pungkasnya seraya menambahkan pustaka
pun kini dilengkapi dengan e-library. Universitas juga berlangganan
jurnal ilmiah hingga mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan bisa
memanfatkannya untuk menambah wawasan keilmuan mereka. (zul)