Gun Sugianto Dorong Koperasi Sumbar Naik Kelas, Edukasi dan Solusi Jadi Kunci
PADANG (OKEBANA.COM) — Koperasi bukan sekadar badan usaha dengan papan nama dan gerai. Di baliknya, ada peluang bagi masyarakat untuk menghimpun kekuatan ekonomi, memperluas pasar, memperkuat usaha, dan membangun kesejahteraan secara bersama-sama.
Semangat itulah yang ingin didorong Gun Sugianto, SH., MH., dalam kepemimpinannya di Dewan Koperasi Wilayah (Dekopinwil) Sumatera Barat periode 2025–2030.
Meski baru sekitar empat bulan memimpin, Gun mulai mendorong pendekatan yang menitikberatkan pada edukasi, penguatan kapasitas pengurus, serta pencarian solusi atas persoalan yang dihadapi koperasi di lapangan.
Baginya, membangun gerakan koperasi tidak cukup hanya dengan mendirikan organisasi. Koperasi harus mampu menjalankan kegiatan usaha, menjawab kebutuhan anggota, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Kita harus melaksanakannya sebelum Anda memikirkannya," ujar Gun, sembari berseloroh ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai upayanya menjadikan Sumatera Barat sebagai daerah percontohan koperasi.
Pernyataan tersebut menggambarkan semangat yang ingin dibawanya: bergerak lebih cepat, berani mencari terobosan, dan tidak berhenti pada gagasan.
Koperasi dan Kultur Ekonomi Masyarakat Minangkabau
Gun menilai Sumatera Barat memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk mengembangkan koperasi.
Masyarakat Minangkabau dikenal memiliki tradisi berdagang, berwirausaha, serta membangun jaringan ekonomi yang melampaui batas wilayah. Tradisi tersebut, menurutnya, dapat menjadi landasan untuk memperkuat usaha bersama melalui koperasi.
"Koperasi ini salah satu kegiatan ekonomi juga, tetapi dilakukan oleh sekelompok orang, sesuai prinsip koperasi dan berasaskan kekeluargaan. Ini sangat dekat dengan kultur orang Minang," ungkapnya.
Namun, ia melihat potensi tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kekuatan usaha kolektif.
Banyak pelaku usaha menjalankan bisnis masing-masing, padahal kerja sama melalui koperasi dapat membuka peluang untuk menghimpun modal, memperbesar kapasitas produksi, memperkuat distribusi, dan memperluas akses pasar.
Jika dikelola secara profesional, koperasi juga berpotensi membantu anggotanya menghadapi persoalan yang sulit diselesaikan secara individual, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pemasaran produk.
Tantangannya adalah membangun kepercayaan, meningkatkan kemampuan pengelolaan usaha, serta memastikan bahwa setiap anggota merasakan manfaat dari koperasi yang diikutinya.
Karena itu, Gun bersama jajaran pengurus Dekopinwil Sumbar berupaya memperkuat edukasi agar semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha memahami koperasi sebagai instrumen ekonomi bersama, bukan semata-mata organisasi administratif.
Menghidupkan Kembali Semangat Bung Hatta
Bagi Sumatera Barat, pengembangan koperasi juga memiliki dimensi sejarah. Mohammad Hatta, tokoh proklamator kelahiran Bukittinggi yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, telah lama memperjuangkan koperasi sebagai salah satu fondasi perekonomian rakyat.
Gun menilai warisan pemikiran tersebut perlu diterjemahkan menjadi gerakan ekonomi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
"Sumbar punya modal besar untuk koperasi. Kita punya tokoh koperasi di Indonesia, yakni Bung Hatta. Orang kita, orang Bukittinggi. Mari berupaya mendukung koperasi menjadi soko guru perekonomian daerah ini, bahkan Indonesia," katanya.
Semangat tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui koperasi yang sehat, transparan, profesional, dan mampu memberikan nilai tambah bagi anggotanya.
Dengan demikian, cita-cita menjadikan koperasi sebagai kekuatan ekonomi rakyat tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tercermin dalam aktivitas usaha yang dapat dirasakan manfaatnya.
Koperasi Merah Putih dan Tantangan di Lapangan
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih membuka ruang bagi penguatan kegiatan ekonomi berbasis komunitas. Namun, pembentukan koperasi baru merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan koperasi dapat beroperasi dan berkembang secara berkelanjutan.
Gun mengajak seluruh pemangku kepentingan, terutama insan gerakan koperasi, untuk memanfaatkan peluang dukungan pemerintah secara optimal.
Menurutnya, keberadaan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) perlu diikuti dengan kesiapan pengurus dalam mengelola usaha, membangun kemitraan, dan mengembangkan layanan yang dibutuhkan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya memahami akses dukungan yang tersedia, termasuk peluang kerja sama dengan badan usaha milik negara (BUMN), sesuai ketentuan dan mekanisme program yang berlaku.
"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana pengurus memanfaatkan kemudahan ini dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Tantangan nyata tersebut terlihat dalam audiensi sejumlah pengurus koperasi di kantor Dekopinwil Sumbar pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Pengurus koperasi dari Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat, dan sejumlah daerah lainnya datang menyampaikan perkembangan serta kendala yang mereka hadapi.
Persoalannya beragam. Ada koperasi yang belum memperoleh lahan untuk membangun gerai karena sulitnya mendapatkan tanah di kawasan perkotaan. Ada pula yang telah memiliki lahan, tetapi belum mempunyai kemampuan memadai untuk membangun tempat usaha.
Bahkan, koperasi yang sudah memiliki gerai masih menghadapi tantangan dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan program koperasi tidak cukup diukur dari jumlah organisasi yang terbentuk. Ketersediaan tempat usaha, modal kerja, tata kelola, jaringan pemasok, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar juga menjadi faktor penting.
Tidak Harus Menunggu Gerai Permanen
Menghadapi berbagai persoalan tersebut, Gun menyatakan bahwa Dekopinwil berupaya memberikan edukasi, motivasi, dan alternatif solusi kepada pengurus koperasi.
Salah satu opsi yang didorong adalah memanfaatkan bangunan sewa sebagai tempat usaha sementara apabila pembangunan gerai permanen belum memungkinkan.
Pendekatan ini dapat menjadi alternatif untuk memulai kegiatan usaha lebih awal, sepanjang perhitungan biaya, kelayakan usaha, dan kemampuan koperasi telah dipertimbangkan secara matang.
Dengan demikian, keterbatasan sarana tidak serta-merta membuat koperasi berhenti bergerak. Pengurus tetap dapat memetakan kebutuhan anggota, menjajaki pemasok, membangun kemitraan, serta menguji peluang pasar.
"Kita bahas satu per satu. Kita edukasi, kita motivasi, dan kita berikan solusi," kata tokoh muda Muhammadiyah tersebut.
Gun juga menyebutkan bahwa Sumatera Barat telah tercatat sebagai daerah keempat tercepat dalam pembentukan koperasi Merah Putih, dengan 1.265 koperasi terbentuk dan 135 di antaranya telah beroperasi.
Angka tersebut disampaikan Gun dalam keterangannya. Untuk memberikan gambaran yang utuh kepada masyarakat, data mengenai jumlah koperasi, status operasional, serta posisi Sumatera Barat perlu dipastikan kembali melalui sumber resmi terkait.
Meski demikian, tantangan berikutnya jelas: mendorong koperasi yang telah terbentuk agar benar-benar menjalankan usaha yang produktif dan berkelanjutan.
Sinergi Koperasi Membuka Peluang bagi Petani
Penguatan koperasi juga berpeluang menciptakan hubungan usaha yang saling mendukung antarkoperasi.
Wakil Ketua Dekopinwil Sumbar yang mendampingi Gun, Budi, mengatakan bahwa pertemuan dengan pengurus koperasi tidak hanya menjadi ruang untuk menyampaikan persoalan, tetapi juga membuka kesempatan membangun sinergi.
Ia mencontohkan pengembangan biochar yang melibatkan KKMP di Lubuk Minturun bersama koperasi di Pasaman Barat.
Biochar merupakan material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pemanasan bahan organik dengan pasokan oksigen terbatas. Salah satu bahan bakunya dapat berupa limbah pertanian, termasuk tongkol jagung.
Produk ini berpotensi dimanfaatkan untuk memperbaiki karakteristik tanah dan membantu pengelolaan air, bergantung pada bahan baku, proses produksi, serta kondisi tanah tempat penggunaannya.
Menurut Budi, peluang pengembangan biochar perlu ditangkap oleh koperasi, terutama di wilayah yang memiliki kegiatan pertanian dan ketersediaan bahan baku.
"Kita melihat peluang bagus yang bisa ditangkap koperasi di Sumbar, terutama di daerah yang banyak petani. Petani bisa terbantu dari sisi pengelolaan tanah, sekaligus memiliki peluang menjual limbah pertanian untuk diolah menjadi biochar," jelasnya.
Apabila dikembangkan dengan standar produksi dan pengujian yang memadai, pengolahan limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang usaha baru.
Rantai manfaatnya juga berpotensi melibatkan banyak pihak: petani sebagai pemasok bahan baku, koperasi sebagai pengelola atau penghubung usaha, serta pengguna produk di sektor pertanian.
Meski begitu, manfaat biochar bagi tanaman tidak dapat disamaratakan. Kualitas produk, jenis tanah, karakteristik tanaman, dan cara penggunaannya perlu diperhatikan sebelum manfaatnya dapat dipastikan.
Dari Jumlah Koperasi Menuju Kekuatan Ekonomi Rakyat
Bagi Gun Sugianto dan jajaran Dekopinwil Sumbar, cita-cita menjadikan Sumatera Barat sebagai daerah percontohan koperasi merupakan pekerjaan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah, pengurus koperasi, pelaku usaha, petani, dan masyarakat perlu membangun kerja sama yang berorientasi pada kebutuhan anggota serta keberlanjutan usaha.
Koperasi yang kuat bukan hanya koperasi yang memiliki gedung, gerai, atau struktur kepengurusan lengkap. Kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan mengelola usaha secara sehat, menjaga kepercayaan anggota, menciptakan nilai tambah, dan membagikan manfaat sesuai prinsip koperasi.
Di Sumatera Barat, tradisi berdagang dan semangat kebersamaan merupakan modal yang dapat dikembangkan. Namun, modal sosial itu perlu disertai tata kelola profesional, transparansi, perencanaan usaha, serta evaluasi yang terukur.
Upaya edukasi, motivasi, dan pencarian solusi yang dilakukan Dekopinwil menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan gerakan koperasi bukan sekadar berapa banyak koperasi yang didirikan, melainkan berapa banyak yang mampu bertahan, berkembang, dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
Jika potensi tersebut dapat dikelola melalui kerja sama yang konsisten, koperasi berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Sumatera Barat sekaligus meneruskan cita-cita Bung Hatta tentang kemandirian ekonomi rakyat. (Zulfadli/Dedek)
