Dari Sasak Ranah Pasisie Menuju Dunia Kerja Global, Siswa SMKN 1 Dibekali Bahasa Jepang dan Perlindungan Pekerja Migran
PADANG (OKEBANA.COM) — Mimpi bekerja di luar negeri tidak cukup hanya bermodalkan keberanian. Di balik peluang untuk menatap dunia kerja internasional, ada kemampuan bahasa, kompetensi, sertifikasi, kesiapan mental, hingga pemahaman tentang hak dan perlindungan pekerja yang harus dipersiapkan sejak awal.
Kesadaran itulah yang menjadi bagian penting dalam penguatan kompetensi siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Bahasa Jepang dari SMKN 1 Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat.
Para siswa mengikuti pertemuan dan pembinaan intensif di Balai Bahasa Kampus Proklamator I Universitas Bung Hatta (UBH), Padang, Senin, 31 Agustus 2026.
Program tersebut melibatkan Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK), Divisi Layanan Bahasa Asing dan JLPT Universitas Bung Hatta, serta Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat.
Pembinaan diarahkan untuk memperkuat kemampuan Bahasa Jepang sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi sertifikasi Japanese-Language Proficiency Test (JLPT).
Namun, pembekalan tidak berhenti pada kemampuan berbahasa.
Para siswa juga diperkenalkan pada aspek kesiapan bekerja di lingkungan internasional, termasuk pemahaman mengenai prosedur migrasi dan pentingnya menempuh jalur penempatan kerja yang resmi.
Bahasa Jepang sebagai Bekal Masa Depan
Kepala Divisi Layanan Bahasa Asing dan Latihan Kerja UBH, Febian Mawardi, S.S., menjelaskan, pelatihan dirancang untuk memberikan bekal yang lebih luas kepada siswa vokasi.
Kemampuan teknis tetap menjadi bagian penting, tetapi siswa juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja internasional.
Dalam program tersebut, siswa mendapatkan pembelajaran Bahasa Jepang dasar dengan target kemampuan setara Level N5.
Kemampuan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi siswa untuk berkomunikasi ketika nantinya berada di lingkungan profesional Jepang.
Pembelajaran juga dirancang secara terstruktur. Selama 32 kali pertemuan, siswa tidak hanya memperoleh materi bahasa, tetapi juga mendapatkan simulasi serta pemetaan strategi menghadapi ujian JLPT.
Dengan pola pembinaan tersebut, siswa diharapkan tidak sekadar belajar bahasa untuk memenuhi kebutuhan akademik, tetapi memahami tahapan yang diperlukan untuk mendapatkan pengakuan kompetensi melalui sertifikasi.
Tak Kalah Penting: Memahami Jalur Aman Bekerja ke Luar Negeri
Di tengah besarnya peluang kerja internasional, pemahaman mengenai perlindungan pekerja menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Kepala BP3MI Sumatera Barat yang diwakili Dewi Beauty A. S.I., Kom, memberikan pembekalan mengenai prosedur migrasi resmi, hak-hak ketenagakerjaan, serta bentuk perlindungan bagi pekerja Indonesia yang nantinya bekerja di luar negeri.
Materi tersebut menjadi pengingat bahwa peluang bekerja di luar negeri harus ditempuh melalui prosedur yang benar.
Siswa perlu mengetahui bagaimana proses penempatan resmi dilakukan, memahami hak sebagai pekerja, serta mengenali berbagai risiko yang dapat muncul apabila keberangkatan dilakukan melalui jalur nonprosedural.
Dengan pengetahuan tersebut, harapannya siswa tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu mengambil keputusan secara lebih aman dan bertanggung jawab ketika kesempatan bekerja di luar negeri datang.
Dari Sekolah di Pasaman Barat, Menatap Peluang Internasional
Kepala SMKN 1 Sasak Ranah Pasisie, Dr. Desman, S.Pd.I., M.A., mengapresiasi pendampingan yang diberikan UBH dan BP3MI Sumatera Barat.
Menurutnya, kolaborasi tersebut membuka ruang yang lebih luas bagi siswa untuk mengenal peluang karier di tingkat internasional.
Ia melihat pembinaan tersebut sebagai salah satu langkah yang dapat memperkuat kesiapan siswa menghadapi dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kolaborasi ini adalah momentum emas bagi para siswa untuk membuktikan bahwa lulusan daerah mampu bersaing di panggung global,” kata Dr. Desman.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Bung Hatta dan BP3MI Sumbar yang telah menyediakan wadah pelatihan sekaligus memberikan pemahaman mengenai perlindungan dan keamanan karier bagi siswa yang memiliki peluang bekerja di Jepang.
Bagi SMKN 1 Sasak Ranah Pasisie, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi SMK Go Global.
Lebih jauh, program ini menunjukkan bahwa akses menuju dunia kerja internasional tidak selalu harus dimulai dari kota-kota besar.
Dari sekolah di Sasak Ranah Pasisie, Pasaman Barat, siswa-siswa sedang membangun bekal mereka sedikit demi sedikit: belajar bahasa, mengejar sertifikasi, memahami dunia kerja, sekaligus mengenali hak dan perlindungan sebagai calon pekerja migran.
Sebab, ketika kesempatan untuk bekerja di dunia internasional terbuka, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan untuk berangkat.
Yang jauh lebih penting adalah kemampuan untuk berangkat dengan kompetensi, melalui jalur yang benar, dan dengan pengetahuan untuk melindungi diri.
Langkah kecil dari ruang kelas hari ini bisa menjadi bekal untuk perjalanan yang jauh lebih besar di masa depan.
