Ketika Kebenaran Diuji oleh Hinaan
Ditulis oleh: Zulhendri Zulkifli Imam Said
“Sungguh, kamu pasti akan diuji pada hartamu dan dirimu. Dan sungguh, kamu akan mendengar banyak perkataan yang menyakitkan dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 186)
Jalan menuju kebenaran tidak selalu dibentangkan dengan kemudahan.
Allah telah mengingatkan bahwa manusia akan diuji, baik melalui harta maupun diri. Tidak hanya itu, mereka yang berpegang teguh pada kebenaran juga mungkin harus mendengar perkataan yang menyakitkan, menghadapi hinaan, cemoohan, fitnah, bahkan tekanan yang menguji keteguhan hati.
Rasulullah ï·º sendiri pernah menghadapi ejekan, hinaan, dan celaan dari orang-orang yang menentang dakwah beliau.
Maka jangan heran jika hari ini orang-orang yang berusaha istiqamah di atas syariat juga menghadapi ujian serupa.
Begitulah sunnatullah.
Ujian dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang diuji dengan hilangnya harta. Ada yang kehilangan jabatan, kedudukan, pengaruh, atau penghormatan manusia.
Ada pula yang diuji melalui perkataan.
Satu kalimat yang merendahkan. Satu tuduhan yang tidak benar. Satu hinaan yang sengaja dilontarkan untuk melukai hati.
Semua itu bisa terasa berat.
Namun Allah tidak membiarkan hamba-Nya menghadapi ujian tanpa petunjuk.
Allah memberikan dua bekal utama: sabar dan takwa.
Sabar bukan berarti lemah. Sabar bukan berarti tidak mampu membalas. Sabar adalah kemampuan untuk menahan diri ketika kita sebenarnya memiliki kesempatan untuk membalas.
Takwa adalah kesadaran bahwa setiap perkataan, sikap, dan tindakan kita berada dalam pengetahuan Allah.
Karena itu, jangan membalas hinaan dengan hinaan.
Jangan membalas cacian dengan cacian.
Sebab ketika kita membalas keburukan dengan cara yang sama, kita berisiko kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam sebuah pertengkaran: akhlak.
Kita tidak harus turun ke tempat yang sama hanya karena seseorang berusaha menarik kita ke sana.
Orang yang menghina kita akan mati.
Kita pun akan mati.
Setelah itu, tidak ada lagi yang tersisa selain amal dan balasan dari Allah.
Maka, biarlah manusia berkata apa pun.
Tugas kita adalah menjaga hati, memperbaiki amal, mempertahankan akhlak, dan tetap istiqamah di atas kebenaran.
Sebab orang yang kuat bukanlah orang yang paling keras membalas.
Orang yang kuat adalah mereka yang mampu menjaga lisannya ketika dihina, menjaga hatinya ketika disakiti, dan tetap memilih akhlak mulia ketika memiliki kesempatan untuk membalas.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran dalam menghadapi ujian.
Teguhkanlah hati kami dalam memegang syariat-Mu.
Anugerahkanlah kepada kami akhlak yang mulia ketika menghadapi hinaan dan celaan.
Jangan biarkan hati kami goyah karena perkataan manusia.
Kokohkanlah kami di atas jalan-Mu hingga akhir hayat.
Aamiin.
