Kado 101 Tahun, STIA Adabiah Kerjasama dengan Perguruan Tinggi Philipina
Padang - Upaya Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah meningkatkan mutu lembaga pendidikan yang dikelolanya terus terlihat. Jelang usia 101 ini yayasan, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Adabiah (STIA) dan System Technologi Institute (STI) Education Service Group Philippines menanda tangani kesepakatan kerjasama.
"Ini kado indah diultah ke-101 Adabiah. Siswa SMA Adabiah pun menorehkan prestasi sebagai pasukan pengibar bendera pusaka di istana negara," ujar Ketua Yayasan Syarikat Oesaha, Dr Ali Asmar usai penandatanganan Nota Kesepakatan (memorandum of understanding, MoU), Selasa (16/8).
Dari kerjasama ini, STIA dan STI akan berkolaborasi menggejar keunggulan akademik. Kerjasama ini akan menguntungkan kedua belah pihak.
Lulusan STIA bisa mendapat penawaran program S2 di bidang administrasi bisnis dan administrasi publik ke STI West Negros University Philippines.
Nantinya STIA bisa melaksanakan program S2 juga dengan lama pendidikan empat semester. Semester satu dan dua di Padang dan dua semester terakhir di sekolah tinggi pelaksana program pascasarjana di bawah naungan STI Philippina. "Jadi Mahasiswa kami berkemungkinan besar bisa doubel degree nantinya," ujar Sekdaprov Sumbar itu.
Ali Asmar menegaskan hal-hal terkait teknis pelaksanaannya akan dibicarakan lebih detil. Pengaturan kurikulum, program studi dan pengelolaan keuangannya akan dibicarakan lebih lanjut. Ada memorandum of aggrement antara kedua belah pihak yang akan segera ditindaklanjuti oleh Ketua STIA Rusdi Lubis dan Wakilnya Dr. Rafles yang merintis kerjasama ini.
Menurut Ali Asmar, kerjasama ini amat berdampak positif bagi Adabiah. STIA bisa meningkat mutunya dan bisa mempertahankan akreditasi A. Selain itu, lulusan SMA Adabiah dan SMA Adabiah dua punya kesempatan besar dapat beasiswa ke sekolah tinggi dan universitas dalam jaringan STI.
Vice Presiden STI Education Service Group Phillipines, Dr Theodoro Lloydon Bautista PhD, mengatakan senang dengan adanya kerjasama ini. Dia bermimpi Philipina dan Indonesia bisa saling berbagi dan bekerjasama menjngkatkan mutu pendidikan di kedua negara. Bahkan kalau bisa seluruh perguruan tinggi negara ASEAN punya mutu lembaga pendidikan setara.
Makanya Lloyjdon dan isterinya Marjorie A Bautista berkeinginan memasukkan anaknya ke ITB. Anaknya yang bernama Nigo itu diharapkan jadi bagian dari impian besarnya itu. Meningkatkan mutu 77 sekolah tinggi dan universitas di bawah naungan STI dan perguruan tinggi yang menjalin kerjasama dengan STI.
Lloydon yang membimbing Dr Rafles saat menyelesaikan disertasinya di Philipina dulu menyatakan sangat terkesan dengan Adabiah. Dia tertarik dengan cerita Rafles seputar kiprah lembaga pendidikan yang telah berusia lebih satu abad itu. Lembaga yang mengutamakan karakter, nasionalisme dan ada untuk anak negeri. (zul)
