Nana di Barisan Paskibraka, Orang Tua Bangga
Padang - Melihat anak gadisnya melaksanakan tugas negara untuk menurunkan bendera merah putih, perasaan Ariosda campur aduk. Melintas begitu saja di pikirannya, andaikan papa Janatun Maqwa masih hidup, dia pun akan merasakan bahagia bercampur bangga sebagaimana yang dia rasakan saat ini.
Dari tribun kanan istana negara itu, Bidan Puskesmas Kuranji Padang itu menyaksikan anaknya seolah tanpa kedip. Janatun Maqwa yang akrab dipanggil Nana seolah tak lepas dari pandangan mata nya.
“Nana terlihat anggun dalam kebesaran paskibraka itu. Anak mama sungguh membanggakan,” ujarnya terbata saat dihubungi via telepon usai upacara penurunan bendera merah putih di Istana Negara, Kamis (17/8).
Ariosda mengakui saat menatap Nana dari kejauhan sempat terbayang pula anaknya itu mengenakan seragam Polwan yang dicita-citakannya. “Semoga tercapai cita-citamu nak,” ungkapnya.
Lalu mengalirlah cerita Ariosda seputar keberhasilan anaknya itu berada di barisan pasukan 17 upacara penurunan bendera pusaka 2016 ini. Diungkapkannya, saat nama Nana diumumkan berdasarkan Keputusan Menpora Nomor: /Kemenpora/D.II-1/VII/2016, Ariosda yang baru 7 bulan bertugas di Puskesmas Kuranji telah merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Kegembiraan itu ber alasan. Berdasarkan penilaian banyak pihak termasuk Dr Ali Asmar, Ketua Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah yang menaungi sekolah Nana, badan siswi XI IPA 5 SMA Adabiah itu kurang proporsional.
Ali Asmar sempat meminta Ariosda untuk memberi perhatian lebih terhadap upaya menggenjot makan dan asupan gizi anak gadisnya itu. Tugas yang cukup berat, apalagi untuk seleksi nasional di Jakarta itu Nana bersaing dengan siswi SMAN 6 Pa dang.
Nana yang susah makan harus dikontrol agar badannya proporsional. Hingga 21 Juli lalu, jelang keberangkatan untuk mengikuti seleksi nasional, sang mama harus berupaya ekstra menjaga pola makan Nana dan memotivasi anak gadisnya itu.
“Alhamdulillah, akhirnya Nana terpilih sebagai anggota pasukan pengibar bendera pusaka di istana negara. Sungguh membanggakan. Saya pun sujud syukur kala mendengar nya,” ujar Ariosda.
Dikatakannya, dia memenuhi undangan untuk mengikuti upacara di istana negara. Dia berangkat 15 Agustus sore dengan Citilink. Dia satu pesawat dengan kedua orang tua Muhammad Fachri. Siswa SMAN 3 Batusangkar yang sama lolos dengan Nana menjadi anggota Paskibraka 2016. Bersama keduanya dia mencari penginapan di Jakarta dan berangkat sama-sama pula ke istana negara.
Ariosda mengucapkan terima kasih atas doa keluarga besar Adabiah hingga anaknya bisa memenuhi tugas kenegaraannya. Adabiah pun memfasilitasi ke berangkatannya ke Jakarta dibiayai pulang pergi sebagaimana janji Ketua YSO. Terima kasih juga buat warga Sumbar.
Kehilangan Ayah
Diungkapkan Ariosda, putrinya yang sangat menyukai pelajaran fisika itu ditinggal sang ayah untuk selamanya, tahun lalu. Ayahanda tercinta mening gal dunia saat sedang bertugas di pesisir.
Nana sedih kehilangan Toni Januar, laki-laki yang sangat ia cintai untuk terakhir kali. Ariosda pun sempat goncang jika Nana terganggu konsentrasinya.
Nana juga tak minat dengan profesi ayahnya. Dia takut dengan darah dan aktivitas jahit menjahit.
Ariosda tidak marah apabila buah hati tercinta lebih memilih menjadi Polwan ketimbang profesi yang sama seperti dirinya. Malah Nana selalu diingatkan agar menjaga fisik dan kesehatan badannya.
“Menjadi Paskibraka adalah kemauannya sejak SMP. Melihat di tv bagus sekali,” katanya seraya menam bahkan itu dibuktikan Nana dengan ikut ekstra kurikuler Paskib di sekolah dan latihan sendiri di ru mah.
Semester lalu nilai fisika Nana sempat turun menjadi 8,6. Lantaran mengikuti pembekalan Paskibraka tingkat provinsi. Anaknya itu mengaku sempat terganggu. Setelah dipikir-pikir bahwa ini adalah pengorbanan yang harus ia terima, Nana memilih mengikuti pelajaran tambahan agar keduanya berjalan seimbang.
“Kalau ada waktu luang Nana pergi ke ruang guru. Tanya-tanya materi saat putrinya itu tak masuk,” ungkapnya. (zul)
Dari tribun kanan istana negara itu, Bidan Puskesmas Kuranji Padang itu menyaksikan anaknya seolah tanpa kedip. Janatun Maqwa yang akrab dipanggil Nana seolah tak lepas dari pandangan mata nya.
“Nana terlihat anggun dalam kebesaran paskibraka itu. Anak mama sungguh membanggakan,” ujarnya terbata saat dihubungi via telepon usai upacara penurunan bendera merah putih di Istana Negara, Kamis (17/8).
Ariosda mengakui saat menatap Nana dari kejauhan sempat terbayang pula anaknya itu mengenakan seragam Polwan yang dicita-citakannya. “Semoga tercapai cita-citamu nak,” ungkapnya.
Lalu mengalirlah cerita Ariosda seputar keberhasilan anaknya itu berada di barisan pasukan 17 upacara penurunan bendera pusaka 2016 ini. Diungkapkannya, saat nama Nana diumumkan berdasarkan Keputusan Menpora Nomor: /Kemenpora/D.II-1/VII/2016, Ariosda yang baru 7 bulan bertugas di Puskesmas Kuranji telah merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Kegembiraan itu ber alasan. Berdasarkan penilaian banyak pihak termasuk Dr Ali Asmar, Ketua Yayasan Syarikat Oesaha Adabiah yang menaungi sekolah Nana, badan siswi XI IPA 5 SMA Adabiah itu kurang proporsional.
Ali Asmar sempat meminta Ariosda untuk memberi perhatian lebih terhadap upaya menggenjot makan dan asupan gizi anak gadisnya itu. Tugas yang cukup berat, apalagi untuk seleksi nasional di Jakarta itu Nana bersaing dengan siswi SMAN 6 Pa dang.
Nana yang susah makan harus dikontrol agar badannya proporsional. Hingga 21 Juli lalu, jelang keberangkatan untuk mengikuti seleksi nasional, sang mama harus berupaya ekstra menjaga pola makan Nana dan memotivasi anak gadisnya itu.
“Alhamdulillah, akhirnya Nana terpilih sebagai anggota pasukan pengibar bendera pusaka di istana negara. Sungguh membanggakan. Saya pun sujud syukur kala mendengar nya,” ujar Ariosda.
Dikatakannya, dia memenuhi undangan untuk mengikuti upacara di istana negara. Dia berangkat 15 Agustus sore dengan Citilink. Dia satu pesawat dengan kedua orang tua Muhammad Fachri. Siswa SMAN 3 Batusangkar yang sama lolos dengan Nana menjadi anggota Paskibraka 2016. Bersama keduanya dia mencari penginapan di Jakarta dan berangkat sama-sama pula ke istana negara.
Ariosda mengucapkan terima kasih atas doa keluarga besar Adabiah hingga anaknya bisa memenuhi tugas kenegaraannya. Adabiah pun memfasilitasi ke berangkatannya ke Jakarta dibiayai pulang pergi sebagaimana janji Ketua YSO. Terima kasih juga buat warga Sumbar.
Kehilangan Ayah
Diungkapkan Ariosda, putrinya yang sangat menyukai pelajaran fisika itu ditinggal sang ayah untuk selamanya, tahun lalu. Ayahanda tercinta mening gal dunia saat sedang bertugas di pesisir.
Nana sedih kehilangan Toni Januar, laki-laki yang sangat ia cintai untuk terakhir kali. Ariosda pun sempat goncang jika Nana terganggu konsentrasinya.
Nana juga tak minat dengan profesi ayahnya. Dia takut dengan darah dan aktivitas jahit menjahit.
Ariosda tidak marah apabila buah hati tercinta lebih memilih menjadi Polwan ketimbang profesi yang sama seperti dirinya. Malah Nana selalu diingatkan agar menjaga fisik dan kesehatan badannya.
“Menjadi Paskibraka adalah kemauannya sejak SMP. Melihat di tv bagus sekali,” katanya seraya menam bahkan itu dibuktikan Nana dengan ikut ekstra kurikuler Paskib di sekolah dan latihan sendiri di ru mah.
Semester lalu nilai fisika Nana sempat turun menjadi 8,6. Lantaran mengikuti pembekalan Paskibraka tingkat provinsi. Anaknya itu mengaku sempat terganggu. Setelah dipikir-pikir bahwa ini adalah pengorbanan yang harus ia terima, Nana memilih mengikuti pelajaran tambahan agar keduanya berjalan seimbang.
“Kalau ada waktu luang Nana pergi ke ruang guru. Tanya-tanya materi saat putrinya itu tak masuk,” ungkapnya. (zul)
