Berkat Kampus, Olga Bisa Kerja di Jepang
Padang - Serasa ingin cepat berada di Jepang. Begitulah keinginan Olga Awaliyah setelah dia dinyatakan
Betapa sulung dari dua bersaudara ini takkan seperti itu.
Dia sudah mendengar cerita bahagia temannya yang lebih dulu berangkat ke
Jepang dan bekerja di FET System Inc yang punya 38 jaringan hotel di
seantero Jepang.
Sang pendahulu bernama Rudiolfo Juvi itu menceritakan
bagaimana dia kerja pada pusat kota di kawasan Gunung Fujiyama. Tiap
karyawan hotel itu diberi kamar di lingkungan hotel lengkap dengan home
theatrenya. Jadi tidak perlu keluar uang membayar sewa kamar atau
apartemen dan juga tak perlu keluar uang buat transportasi. Makan pagi
ditanggung pula.
"Pasti menyenangkan. Membayangkannya saja sudah
membahagiakan, apalagi jika sudah berada di sana. Tak sabar rasanya
untuk bisa segera berada di Jepang," ujar dara yang akrab dipanggil Olga
itu.
Tak hanya itu, Olga juga diberitahu pimpinan dan rekan
kerjanya sangat care. Kesulitan yang dihadapi seputar dialek dan bahasa
sehari-hari, dibantu sebaik-baiknya oleh rekan kerja. Begitu pula yang
menyangkut pekerjaan. Pokoknya menyenangkan.
Olga menyebut tak sia-sia penantiannya terhadap pekerjaan
yang telah dia ikuti seleksinya dua tahun lalu, kala dia berada di
semester 7 dulu. Penantiannya berbuah manis. Sekarang tinggal mengurus
visa dan harus berangkat 31 Juli ini karena tanggal 1 Agustus Olga harus
masuk kerja. Dengan demikian Olga tidak perlu mengurus izin kerja yang
memang sangat ketat bagi pekerja asing yang mengisi sektor usaha di
Negeri Sakura itu. Semua perizinan telah diurus perusahaan, hanya butuh
penantian yang lama.
Olga mengakui, awalnya dia sempat berfikir tentang
fasilitasi kerja yang diupayakan kampusnya ini mirip dengan perusahaan
penyalur tenaga kerja untuk jadi TKI dan bekerja di pelosok. Celakanya
lagi, TKI ini lebih banyak bekerja di sektor usaha yang orang Jepang
sendiri tak mau terjun ke sana. Begitu yang berkecamuk di fikirannya
saat kampus membuka kesempatan kerja ini dua tahun lalu.
Belum lagi dana yang diminta penyalur tenaga kerja ke
Jepang itu biasanya cukup besar. Minimal punya dana Rp30 juta dan harus
pula punya cadangan, minimal untuk 3 bulan ke depan. Malah ada yang
disuruh menyediakan jaminan jika tidak punya uang tunai sebanyak yang
diminta penyalur.
Namun keberangkatan Rudolfo, mengubah semua image yang
memenuhi fikiran Olga. Cerita indah, foto-foto yang bercerita tentang
kerja dan keseharian lingkungan kerja yang dikirimkan Rudolfo ternyata
beda 180 derajat dari bayangan semula. Di sana mereka langsung bekerja
dengan pendapatan 180 ribu yen per bulan.
Dan jika lembur, mereka
dibayar setara Rp100.000 per jam. Makin menyenangkan kabar bahwa libur
pun diberikan delapan hari dalam sebulan.
Kepada mantan Ketua Jurusan Sastra Jepang Universitas Bung
Hatta yang kini sudah jadi Wakil Rektor III, Dr Diana Kartika, Olga
berterima kasih sekali. Begitu juga Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr
Elfiondri. Dia pun menemui Rektor Prof Dr Niki Lukviarman. Olga
menyatakan kebangaannya atas kesempatan kerja yang diusahakan kampus
bukan isapan jempol, bukan memberi harapan palsu dan tidak sembarangan
memilih sektor kerja yang dimasuki mahasiswa atau alumninya.
"Moga ini
berlanjut hingga makin banyak rekan atau adik almamater yang
berkesempatan menata masa depan di Jepang," ungkap Olga penuh harap.
Nan paling akan dikenang Olga adalah proses penerimaan dia
di perusahaan asing tersebut. Anak sukung dari dua bersaudara itu ikut
seleksi, ikut pelatihan perhotelan selama dua bulan dan menunggu
panggilan kerja selagi diuruskan perizinannya.
Kalau ditotal semua hanya
butuh Rp8,5 juta untuk kerja di sana. Itu pun Olga belum mampu
membayarnya. Nyaris biayanya ditalangi dulu oleh Prodi Sastra Bahasa
Jepang.
Kepada Prodi saat bertemu rektor, Olga berjanji akan
melunasi kewajibannya setelah bekerja nanti. Dia bakal mengingat
kebaikan kampus dan menjaga nama baiknya. Olga juga akan membagi
pengalaman kerjanya di sana hingga makin banyak rekan atau adik
almamater yang bekerja di Jepang dengan fasilitasi Kampus Proklamator.
Olga menyebut berkah yang diterimanya ini diyakini mampu
membangkit batang terandam keluarganya. Ayahnya Ahmad Hudari (48) yang
berprofesi sebagai Sopir SMP Lubuk Basung dan mamanya Kusmarianti (46)
yang sehari-harinya membantu suami dengan membuka warung kecil di rumah
mereka, sangat bahagia saat diberitahu anaknya sudah mendapat kepastian
kerja di perusahaan perhotelan. Nun jauh di negeri matahari terbit.
Diterbitkan di Harian Singgalang Edisi Jumat (22/7) 2016 pada halaman 5

