Header Ads

  • Breaking News

    Berkat Kampus, Olga Bisa Kerja di Jepang

     
    Olga Alawiyah bersama Rektor Universitas Bung Hatta Prof Dr Niki Lukviarman (kiri), Dekan FIB Dr Elfiondri dan Wakil Rektor III Dr Diana Kartika usai melapor seputar kesempatan kerja yang diterimanya di jaringan perhotelan milik FET System Inc.



    Padang - Serasa ingin cepat berada di Jepang. Begitulah keinginan Olga Awaliyah setelah dia dinyatakan
    diterima bekerja di salah satu perusahaan, perhotelan di Jepang.

    Betapa sulung dari dua bersaudara ini takkan seperti itu. Dia sudah mendengar cerita bahagia temannya yang lebih dulu berangkat ke Jepang dan bekerja di FET System Inc yang punya 38 jaringan hotel di seantero Jepang. 

    Sang pendahulu bernama Rudiolfo Juvi itu menceritakan bagaimana dia kerja pada pusat kota di kawasan Gunung Fujiyama. Tiap karyawan hotel itu diberi kamar di lingkungan hotel lengkap dengan home theatrenya. Jadi tidak perlu keluar uang membayar sewa kamar atau apartemen dan juga tak perlu keluar uang buat transportasi. Makan pagi ditanggung pula.

    "Pasti menyenangkan. Membayangkannya saja sudah membahagiakan, apalagi jika sudah berada di sana. Tak sabar rasanya untuk bisa segera berada di Jepang," ujar dara yang akrab dipanggil Olga itu.
    Tak hanya itu, Olga juga diberitahu pimpinan dan rekan kerjanya sangat care. Kesulitan yang dihadapi seputar dialek dan bahasa sehari-hari, dibantu sebaik-baiknya oleh rekan kerja. Begitu pula yang menyangkut pekerjaan. Pokoknya menyenangkan.

    Olga menyebut tak sia-sia penantiannya terhadap pekerjaan yang telah dia ikuti seleksinya dua tahun lalu, kala dia berada di semester 7 dulu. Penantiannya berbuah manis. Sekarang tinggal mengurus visa dan harus berangkat 31 Juli ini karena tanggal 1 Agustus Olga harus masuk kerja. Dengan demikian Olga tidak perlu mengurus izin kerja yang memang sangat ketat bagi pekerja asing yang mengisi sektor usaha di Negeri Sakura itu. Semua perizinan telah diurus perusahaan, hanya butuh penantian yang lama. 

    Olga mengakui, awalnya dia sempat berfikir tentang fasilitasi kerja yang diupayakan kampusnya ini mirip dengan perusahaan penyalur tenaga kerja untuk jadi TKI dan bekerja di pelosok. Celakanya lagi, TKI ini lebih banyak bekerja di sektor usaha yang orang Jepang sendiri tak mau terjun ke sana. Begitu yang berkecamuk di fikirannya saat kampus membuka kesempatan kerja ini dua tahun lalu.

    Belum lagi dana yang diminta penyalur tenaga kerja ke Jepang itu biasanya cukup besar. Minimal punya dana Rp30 juta dan harus pula punya cadangan, minimal untuk 3 bulan ke depan. Malah ada yang disuruh menyediakan jaminan jika tidak punya uang tunai sebanyak yang diminta penyalur.

    Namun keberangkatan Rudolfo, mengubah semua image yang memenuhi fikiran Olga. Cerita indah, foto-foto yang bercerita tentang kerja dan keseharian lingkungan kerja yang dikirimkan Rudolfo ternyata beda 180 derajat dari bayangan semula. Di sana mereka langsung bekerja dengan pendapatan 180 ribu yen per bulan.

    Dan jika lembur, mereka dibayar setara Rp100.000 per jam. Makin menyenangkan kabar bahwa  libur pun diberikan delapan hari dalam sebulan.

    Kepada mantan Ketua Jurusan Sastra Jepang Universitas Bung Hatta yang kini sudah jadi Wakil Rektor III, Dr Diana Kartika, Olga berterima kasih sekali. Begitu juga Dekan Fakultas Ilmu Budaya Dr Elfiondri. Dia pun menemui Rektor Prof Dr Niki Lukviarman. Olga menyatakan kebangaannya atas kesempatan kerja yang diusahakan kampus bukan isapan jempol, bukan memberi harapan palsu dan tidak sembarangan memilih sektor kerja yang dimasuki mahasiswa atau alumninya.

    "Moga ini berlanjut hingga makin banyak rekan atau adik almamater yang berkesempatan menata masa depan di Jepang," ungkap Olga penuh harap.

    Nan paling akan dikenang Olga adalah proses penerimaan dia di perusahaan asing tersebut. Anak sukung dari dua bersaudara itu ikut seleksi, ikut pelatihan perhotelan selama dua bulan dan menunggu panggilan kerja selagi diuruskan perizinannya. 

    Kalau ditotal semua hanya butuh Rp8,5 juta untuk kerja di sana. Itu pun Olga belum mampu membayarnya. Nyaris biayanya ditalangi dulu oleh Prodi Sastra Bahasa Jepang.

    Kepada Prodi saat bertemu rektor, Olga berjanji akan melunasi kewajibannya setelah bekerja nanti. Dia bakal mengingat kebaikan kampus dan menjaga nama baiknya. Olga juga akan membagi pengalaman kerjanya di sana hingga makin banyak rekan atau adik almamater yang bekerja di Jepang dengan fasilitasi Kampus Proklamator.

    Olga menyebut berkah yang diterimanya ini diyakini mampu membangkit batang terandam keluarganya. Ayahnya Ahmad Hudari (48) yang berprofesi sebagai Sopir SMP Lubuk Basung dan mamanya Kusmarianti (46) yang sehari-harinya membantu suami dengan membuka warung kecil di rumah mereka, sangat bahagia saat diberitahu anaknya sudah mendapat kepastian kerja di perusahaan perhotelan. Nun jauh di negeri matahari terbit.

    Keduanya sangat bersyukur dan minta Olga kerja dengan sebaik-baiknya. "Pikirkan saja pekerjaanmu dan masa depanmu. Kerja yang baik karena ini menyangkut nama negara, kampus, diri dan keluargamu. Insya Allah ayah dan ibu baik-baik saja di kampung, nak," ujar Olga mengulangi petuah ayahnya saat merajuk karena akan berpisah dalam waktu cukup lama dengan orang yang sangat dihormati dan disayanginya itu. (zul)

    Diterbitkan di Harian Singgalang Edisi Jumat (22/7) 2016 pada halaman 5
    OKEBANA.COM merupakan anggota resmi dari Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) dengan nomor register 003/REG/DPN-ASANTARA/VII/2026.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728