Rusdi Bais Menerima Satyalencana Wira Karya
Padang - Tak terkira senangnya hati Rusdi Bais, wartawan
senior Sumbar menerima Satyalencana Wira Karya. Rasa haru dan bangga
jadi menyatu saat orang nomor satu di republik ini menyematkan tanda
jasa bagi mereka yang berjasa bagi negara.Apalagi di dalam memperjuangkan ekonomi kerakyatan untuk menjadi sokoguru perekonomian Indonesia, dan dia satu-satunya orang Sumbar yang beroleh penghargaan tersebut tahun ini.
Halaman kantor Gubernur Jambi jadi saksi lelehan air mata
bahagia di pipi Rusdi. Lebih membahagiakan ketimbang menerima
penghargaan Bhakti Koperasi lima tahun lalu di Jakarta.
Betapa tidak, dengan penghargaan satyalencana ini, berarti
menilai pengorbanan, perjuangan Rusdi dalam hal perkoperasian dan tumbuh
kembang UMKM di Sumbar mendapat apresiasi baik dari negara. Dan ia
bertekad, ini bukan akhir dari upayanya memberikan pemikiran, pembinaan
hingga pendampingan terhadap koperasi dan UMKM Sumbar.
"Ada sebersit haru sekaligus bahagia yang membuncah di dada
saat penyematan Satyalencana oleh Presiden Joko Widodo. Penghargaan ini
saya persembahkan untuk Sumbar. Moga semua kalangan makin bersemangat
menjadikan koperasi maju, tangguh dan mandiri," ujar Rusdi Bais usai
upacara peringatan Hari Koperasi Nasional ke -69 di Kantor Gubernur
Jambi Jalan A.Yani Telanai Pura, Jambi.
Dikatakan Rusdi, Satyalencana itu hasil kerja bersama
pegiat dan anggota gerakan koperasi di Sumbar. Dia meraihnya berkat
bantuan semua pihak.
Diakuinya, dia semula senantiasa mengkritisi koperasi.
Tulisannya terasa pedas dan memerahkan telinga gerakan koperasi. Namun
kini dia berbalik, kritikan pedas tanpa diiringi perubahan tak akan ada
gunanya. Lebih baik dia berada di gerbong mereka yang memperjuangkan
badan usaha yang dikelola bersama untuk kesejahteraan seluruh anggotanya
itu.
Perlahan tapi pasti, pemikiran bernas seputar pengembangan
koperasi menghiasi media tempatnya bekerja, Singgalang. Lalu Mimbar
Minang, koran yang dia dirikan setelah keluar dari Singgalang pada 1998.
Keakrabannya dengan koperasi mulai berbuah manis pada 2003.
Dia didaulat jadi juara penulisan tentang perkoperasian yang
diselenggarakan Kementerian Koperasi dan UKM. Tak tanggung-tanggung.
Suami Diani Roza ini jadi penulis terbaik di bidang perkoperasian tiga
tahun berturut-turut.
Padahal pria kelahiran 7 November 1957 itu tak pernah
mengikuti kursus jurnalistik, apalagi pendidikan formal kewartawanan.
Dia bisa karena cinta terhadap profesinya.
Di 2003 itu, Rusdi juga menerima Adikarya Pariwisata dari
Menteri Seni, Budaya dan Pariwisata karena telah berupaya keras
menyuarakan pencegahan kehancuran terumbu karang di perairan Indonesia
dan Sumbar khususnya.
Menulis Buku
Bersama rekan-rekan wartawan di Harian Singgalang, Rusdi ikut menulis Profil Rendang Sumatera Barat. Buku yang memuat kisah produsen makanan terlezat dunia versi CNN ini diterbitkan tahun 2011.
Bersama rekan-rekan wartawan di Harian Singgalang, Rusdi ikut menulis Profil Rendang Sumatera Barat. Buku yang memuat kisah produsen makanan terlezat dunia versi CNN ini diterbitkan tahun 2011.
Di tahun yang sama, Rusdi menukiskan Kisah Inspiratif
Wirausahawan Minangkabau berjudul : Berjuang & Berkembang Bersama
101 UKM Mitra Binaan PT Semen Padang.
Tiga tahun berikutnya, Rusdi menulis tentang kisah heroik
25 pengusaha perempuan. Buku itu dinerinya judul "Ibu-ibu Tangguh
Sumatera Barat.
Di 2015, anak Tanah Sirah Lubuk Begakung itu dipercaya
sebagai editor kumpukan pidato Gubernur Sumbar, Ketua MUI dan Ketua
LKAAM Sumbar. Buku itu berjudul "Membangun Ekonomi Rakyat Bersama
Koperasi".
Juga akan segera terbit "Geliat Menguak Kabut". Buku ini
profil 50 UMKM Kota Padang. Segera disusul buku "Anak Pelabuhan" yang
berisi biografi Syafrizal alias Bujang dan buku Lima Tahun KJKS BMT Kota
Padang.
Persentuhan dengan Singgalang
Awal perkenalan dengan Rusdi dengan H Basril Djabar (HBD) berlangsung di pesawat yang mereka tumpangi dari Changi International Airport Singapura ke Bandara Tabing Padang padaawal September 1983. Singkat cerita, HBD mempercayainya sebagai Kepala Perwakilan Pemasaran Harian Singgalang di Malaysia dan Singapura.
Awal perkenalan dengan Rusdi dengan H Basril Djabar (HBD) berlangsung di pesawat yang mereka tumpangi dari Changi International Airport Singapura ke Bandara Tabing Padang padaawal September 1983. Singkat cerita, HBD mempercayainya sebagai Kepala Perwakilan Pemasaran Harian Singgalang di Malaysia dan Singapura.
Rusdi juga didaulat sebagai koresponden lepas Harian
Singgalang untuk wilayah tugas seluruh bagian kedua negara jiran itu.
Sejak itu, mulailah Rusdi balega dengan dengan menyandang dua kamera
sekaligus. Oktober 1983, terbit tulisan perdana yang dikirimkannya
dengan tulisan tangan. Judulnya "Anak Magek, Agam Diselamatkan di
Seremban". Ini awal profesinya sebagai wartawan.
Empat tahun melanglangbuana di semenanjung Malaya hingga ke
Thailand, Rusdi merasa kewajiban merantaunya bisa diakhiri. Dia mudik
ke Padang dan menetap di kota ini hingga sekarang.
Rusdi yang awalnya manggaleh sedari kecil hingga ke
Malaysia dan buka usaha restoran di sana, setibanya di Padang kembali
menekuni usaha. Kini bidang leveransir yang ditekuninya. Kedai nasi juga
dibukanya.
Dan pada 1989, Rusdi resmi bergabung ke Singgalang sebagai
reporter lepas. Di koran yang jadi universitasnya wartawan lokal dan
nasional asal Sumbar ini benar-benar mendidik Rusdi jadi wartawan
profesional. Edi Suardi yang akrab disapa Mak Etek adalah satu dari
sekian guru besarnya. Dan, Rusdi menatap masa depannya di luar
Singgalang sejak 1998.
Diterbitkan di Harian Singgalang Edisi Jumat (22/7) 2016 Halaman 1