Fauzi Perkuat Cinta Kasih Antar Warga
Padang - Senyum sumringah merekah di wajah penghuni Perumahan Cinta Kasih. Mereka bergembira
setelah dua warga yang mendatangkan resah meminta maaf dan membuat perjanjian di hadapan penghuni komplek.
Betapa tidak, pertemuan pagi Minggu (1/5) itu mampu meredam emosi warga yang nyaris terpancing oleh kedua orang tersebut. Satu telah membuat pernyataan tak bertanggung jawab pada sebuah media terbitan Padang. Dan satunya lagi mengancam warga. Dia menebar ancaman sambil berkeliling.
"Alhamdulillah, kini kami merasa lega dengan adanya pertemuan yang diiringi saling memaafkan di antara warga perumahan ini," ujar Ketua RT1/RW3 Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Padang, Herman Rajo Sampono, Minggu (1/5).
Dikatakan Herman, warga komplek telah sampai pada kesepakatan akan mengusir keduanya. Bahkan si penebar ancaman mungkin dihakimi secara beramai-ramai lalu diusir.
Warga tidak bisa menerima kenyataan perumahan mereka mendapat tudingan yang tidak-tidak dan jadi konsumsi publik selama empat kali penerbitan pada salah satu media yang berkantor di Lubuk Buaya, tak jauh dari permukiman mereka.
"Kami berterima kasih sekali Pak Fauzi Bahar mau menjernihkan persoalan. Dipaparkannya di hadapan kami semua kronologis pendirian perumahan serta perjanjian yang mengikat. Makin jelas hak dan kewajiban para penghuni komplek. Jadi RW dan RT bisa makin tegas," ujarnya.
M. Rafiq, Syarifuddin, Mardison (Mak Inggih) menambahkan kewajiban iuran Rp30.000 per bulan sudah jadi kesepakatan sejak awal menempati rumah ini. Kerja membersihkan atau memilah sampah di unit pengelola sampah milik Yayasan Buddha Tzu Chi adalah bentuk kepedulian sosial warga.
Kerja di sana sekali sebulan, dari jam 10.00 sampai pukul 11.30. Pulangnya diberi ransum pula. Warga tidak mampu diberi sembako pula. "Kami membantu yayasan dengan tenaga karena itu yang kami bisa. Tak ada kerja paksa. Tak ada sanksi jika tak pergi," ujar Syarifuddin yang kesal tak bisa ikut pilah sampah setelah jantungnya bermasalah dan diberi cincin.
Fauzi Bahar yang datang selaku Ninik Mamak Koto Tangah dan menggandeng Kol Inf (purn) Amir Syarifuddin, Ibrani Dt Tianso dan Kapolsek Koto Tangah Kompol Jon Hendri pun merasa lega bisa mendamaikan kekisruhan yang bisa.mengundang rusuh ini. Jadi sebelum berbuat anarkis, mereka difasilitasi, diingatkan lagi perjanjian dengan Yayasan Buddha Tzu Chi selaku pengelola perumahan.
"Saya datang selaku ninik mamak yang tahu ikhwal pendirian perumahan ini pada 2011 lalu. Lama bantuan ini terkatung-katung di Tanjung Priok dan harus bayar sewa. Jika tidak dibantu Buddha Tzu Chi barang-barang ini akan karatan di sana," ungkapnya.
Bantuan pasca gempa 2009 dari seorang warga Dubai bernama Dr. Azmi ini dialamatkan ke Jakarta. Tak ada biaya tambahan ke Padang, sehingga terlantar di Tanjung Priok. Dan harus bayar sewa per hari jika masih ada di pelabuhan itu. Seiring waktu, sewa ini membengkak sekira Rp800 juta.
Pemko waktu itu jelas tak punya dana untuk itu, dan menggandeng Yayasan Buddha Tzu Chi. Akhirnya sampailah bantuan itu di Padang dan disimpan di Bandara Tabing dan Teluk Bayur.
Untuk membangunnya, Pemko berhasil menyediakan lahan di Lubuk Buaya dan menggandeng Tzu Chi. Dan pihak mereka mengucurkan bantuan Rp3 miliar. Akibatnya bantuan untuk 50 rumah bisa ditingkatkan menjadi 100 rumah. Perumahan itu pun tak boleh menyatu di bagian belakangnya.
Syarat penghuni adalah korban bencana, mau membayar iuran Rp1.000 per hari atau Rp30.000 sebulan, tidak mengubah bentuk fisik bangunan, tidak membawa orang lain tinggal di sana,
Izin tinggal selama tiga tahun dan diperpanjang jika memenuhi hak kewajiban yang disepakati. Sebenarnya izin ini berakhir pada April 2016, dan harusnya diperpanjang dua bulan lalu sesuai kesepakatan sebelum menempati rumah. Namun pihak Tzu Chi selaku pengelola masih memberi kelonggaran.
"Harusnya kita syukuri, bantuan dari saudara kita di Dubai sana bisa termanfaatkan dengan dukungan Buddha Tzu Chi. Uang mereka itu berasal dari olah sampah dan iyuran bulanan dari 57 negara di dunia. Apa salahnya kita ikut kerja sosial mengolah sampah dan beriyur agar makin banyak manusia korban bencana dari negara lain terbantu pula. Kita pun berperan melestarikan lingkungan," urai Fauzi tegas.
Kepada warga yang memadati jalan utama komplek itu, Fauzi mengajak bersyukur dan perkust silaturahmi. Anggap iuran itu sewa, dimana mencari rumah dengan sewa Rp30.000 sebulan. Bahkan dia mewanti-wanti warga jika tidak mau patuh aturan dalam perjanjian yang dia tandatangani waktu jadi walikota dulu, silakan bangun atau cari rumah sewa sendiri.
Kedua warga pemicu masalah, Sudirman dan Ikrar Dinata di hadapan warga mengutarakan sebab ketidaktahuannya mendatangkan masalah. Dia minta maaf dan membuat pernyataan di atas meterai.
Sekretaris Buddha Tzu Chi Kantor Penghubung Padang, Rukiat Tasib didampingi Irwan Tjioe dan sejumlah pengurus yang hadir saat itu juga berbinar bahagia. Mereka berharap perdamaian hari ini menjadi pelajaran bagi semua.
Sebenarnya bisa saja Tzu Chi membawa masalah ini ke jalur hukum. Lalu menuntut pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mencemarkan nama baik Tzu Chi. "Namun pimpinan kami Widya Kasuma Laurenzi ingin menempuh jalur kekeluargaan. Kita harus selesaikan dengan penuh cinta kasih persoalan di Perumahan Cinta Kasih Lubuk Buaya ini. Moga bisa jadi contoh dan spirit untuk dunia," ujarnya. (zul)