Inovasi Siswa SMK Semen Padang Dipuji Dirut
Padang - SMK Semen Padang menampilkan inovasi mereka di ajang Semen Indonesia Innovation Award di Grand Inna Muara Padang. Alat pelarut PCB otomatis karya siswa sekolah itu dipuji oleh Dirut PT Semen Padang, Benny Wendri saat berkunjung ke stand mereka.“Positif sekali bisa memperlihatkan inovasi mereka kepada Semen Indonesia Grup. Ini menunjang pembelajaran dan bisa pula dikembangkan untuk industri elektronika. Kita akan selalu mendukung,” ujar Benny.
Dirut muda usia itu juga membanggakan bahwa inovasi tim SMK itu sudah meraih penghargaan bidang teknologi. Mereka juga sudah memperoleh penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Pihaknya juga akan terus mendukung pengembangan alat yang memberi jaminan keamanan kepada anak-anak dalam pelajaran elektonika dan punya peluang pasar pula.
Ketua Yayasan Igasar Semen Padang, Yuzri Boy, terlihat gembira melihat inovasi siswa di lembaga pendidikan yang dia pimpin. Boy juga ikut senang mendengar penjelasan singkat, padat dan lugas dari Nofri Wahyu Chandra dan Daifulah Nofid seputar alat itu kepada rombongan Dirut PT Semen Indonesia Suparni yang berkunjung ke stand mereka, didampingi Direktur Produksi PT Semen Padang, Agus Boing Nurbiantoro.
Boy menyebutnya, “Ini robot anti limbah bahan-bahan berbahaya (B3). Menunjang pembelajaran siswa dan kian mengukuhkan posisi sebagai sekolah adiwiyata.”
Boy menyatakan keberhasilan tersebut wujud besarnya perhatian dan dukungan Dirut beserta jajarannya terhadap sekolah-sekolah yang jadi hasil nyata CSR Semen Padang di bidang pendidikan. Berkat dukungan pimpinan pabrik semen tertua di Indonesia itu pula, sekolah-sekolah sukses menjalankan program kepedulian Semen Padang terhadap lingkungan. Salah satu buahnya, Gubernur Irwan Prayitno berkenan meluangkan waktunya berinteraksi dengan para siswa di lingkungan yayasan awal Februari lalu.
Dijelaskan oleh Kepala SMK Semen Padang Gusriadi yang didampingi Ketua Jurusan Elektronika Industri Desi Selfia, peralatan itu dibuat atas kepedulian mereka terhadap keamanan dan kenyamanan siswa dalam melakukan praktek. Selama ini, siswa jurusan elektronika harus membuat sirkuit kelistrikan di PCB dengan cara manual.
Tak jarang mereka kena cairan ferrichlorit (FeCl3) yang digunakan untuk melarutkan PCB itu.
Cairan itu bisa mengakibatkan rasa gatal di kulit, iritasi pada mata, bersifat korosif alias melarutkan logam. “Logam saja bisa hancur. Bisa dibayangkan jika terus menerus bersentuhan dengan ferriclhorit itu. Padahal siswa harus akrab dengannya untuk keperluan pembuatan rangkaian elektronika,” tegas Gusriadi.
Desi pun menambahkan, berlatar belakang itulah dia dan para siswanya melakukan inovasi. Kontak dengan ferrichlorit harus dibatasi. Tak lain caranya dengan mengotomatisasi proses pelarutan PCB. Penelitiannya diawali setahun lalu. Rancangan sederhana sistem ini pernah ditampilkan di Pameran Kreatifitas siswa yang dilaksanakan Dinas Pendidikan Kota Padang dalam rangka memeriahkan Hardiknas tahun lalu.
Karya siswa ini terus dikembangkan. Kapasitas produksi, efektifitas dan nilai ekonomisnya terus diperbaiki. Waktu lebih cepat, PCB yang diproses lebih banyak, kontrol proses otomatisnya lebih baik. Tak heran karya ini meraih Terbaik I di bidang teknologi di ajang K3 Nasional dan Bulan Mutu PT Semen Padang Februari lalu.
Di ajang ini, Nofri Wahyu Chandra dan kawan-kawan kembali optimis membawa karya mereka yang terus disempurnakan itu. Bahkan kini alat itu bisa dipakai secara otomatis dan manual. Pengontrolannya pun lebih ciamik. (zul)