Header Ads

  • Breaking News

    Murid TK Hauriyah Halum Diajar Belanja di Pasar Tradisional

    Padang - Kesibukan orangtua bekerja membuat mereka tak sempat membawa anaknya ke pasar
    tradisional. Sebab, para ibu yang bekerja umumnya menyempatkan diri berbelanja saat pulang atau pada jam istirahat kantor.

    Ini menjadi perhatian Kepala TK Hauriyah Halum, Nina Ramayenda beserta para teacher di TK itu. Mereka menggagas kunjungan ke pasar tradisional untuk mengisi tema pelajaran tentang pekerjaan.

    “Kita ingin mengenalkan pada anak dimana mereka bisa mendapatkan bahan makanan yang diolah mama/ibu mereka. Dengan cara ini, anak bisa lebih menghargai makanan yang dibuatkan oleh orangtua mereka,” ungkap Nina, Rabu (11/2).

    Dikatakan Nina, di pasar tradisional anak-anak pasti menemui orang yang menjual bahan makanan itu, bisa pedagang atau petani yang langsung menjualkan hasil panennya ke pasar. Dengan membawa mereka ke pasar, anak tahu berapa harga yang harus dibayar untuk makanan. Mereka pun merasakan lelahnya ibu mereka keliling sambil bawa sayuran, cabe dan lainnya yang telah dibeli.

    Di Pasar Alai yang mereka kunjungi, Selasa (10/2), anak-anak sangat menikmati pelajaran mereka hari itu. Mereka dibekali uang Rp10.000 oleh orangtua masing-masing dan diberi kantong plastik atau tas belanja.
    Mereka pandai pula memilih makanan apa yang dibeli dan kepada siapa membelinya. Umumnya mereka beli tahu, tempe, telur, sayuran. Terlihatlah anak-anak yang suka tahu tempe berebutan menyerbu pedagangnya. Anak yang pernah dibawa orangtuanya belanja di Pasar Alai itu, menunjukkan temannya dimana bisa beli ini dan itu.

    Para pedagang di sana terlihat juga menikmatinya. Pedagang menyapa anak-anak agar membeli dagangannya. “Balilah sayua amak gai,” katanya.

    Pedagang pun ada yang mencandai mereka. Malah juga ada anak gadis atau ibu muda yang berdagang di pasar tersebut memberitahu apa yang mereka jual dan apa manfaatnya. “Jadi guru dadakanlah pedagang itu  bagi anak kami,” ujar Nina sambil tertawa.

    Cuma, giliran masuk ke tempat pedagang ikan, anak-anak tidak mau beli. Mereka beralasan ikannya basah, banyak airnya. Bisa busuk nanti. Sebuah ungkapan yang disambut tawa pedagang ikan yang kebetulan mendengar celotehannya. Padahal memegang-megang ikan yang katanya bau itu, mereka betah berlama-lama.

    Nina juga menegaskan dengan membebaskan anak membeli bahan makanan, sayuran yang disenanginya, maka anak pasti tidak rewel lagi ketika makan. Dan terbukti, anak-anak umumnya meminta mama atau neneknya memasakkan bahan makanan yang telah mereka beli itu. Dan mereka makan malam dengan apa yang mereka beli pagi harinya.

    “Sebenarnya, kami berencana memasak bersama di sekolah seusai belanja di pasar. Namun waktunya tidak memungkinkan. Jadilah para mama yang dipaksa memasakkannya. Para mama banyak yang cerita pagi tadi,” jelas istri M. Rozi itu.

    Aska memaksa neneknya memasak telur dan diberi cabe yang telah dia beli.  Begitu juga dengan Mama Taki yang harus memasak tahu dan tempe yang dibeli anaknya. Namunlelahnya terobati melihat sang anak begitu lahap memakan makanan itu. (zul)
    OKEBANA.COM merupakan anggota resmi dari Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) dengan nomor register 003/REG/DPN-ASANTARA/VII/2026.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728