Header Ads

  • Breaking News

    Gunakan Barang Bekas Sebagai Media Belajar

    Padang - Pendidikan anak usia dunia (PAUD) merupakan waktu emas dalam membentuk kepribadian anak. Di tempat  inilah anak diajar  mandiri, ulet dan berkarakter. Butuh tenaga pengajar dan media pembelajaran yang menunjang keperluan itu.

    Kedua faktor ini amat dirasakan Kepala TK Hauriyah Halum, Nina Ramayenda. Sulit mendapat tenaga pengajar yang mampu menanamkan nilai-nilai kepada anak dan dipercaya oleh sang anak.

    Dia harus menabung 18 tahun untuk mewujudkan TK dengan metode pembelajaran yang dia inginkan. Untuk memperingati ultah kedua inilah dia ingin berbagi bersama TK lainnya di Sumatera Barat.

    “Di ultah kedua ini kami merancang acara melibatkan pengelola, pendidik, anak dan orang tua. Karena keterpaduan itulah yang membuat pendidikan anak usia dini lebih berhasil,” ujar Nina, Rabu (16/4).

    Untuk pendidik dan pengelola PAUD, ada seminar dan workshop yang direncanakan diberikan Dewi Utama Faizah (dari Kementerian Pendidikan) dan Tatty Elmira (Ketua Aliansi Selamatkan Anak Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan di Rumah Walikota Padang.

    Acara yang diprogramkan, pada Sabtu (27/4) tersebut dilanjutkan dengan workshop pemanfaatan barang bekas sebagai media belajar yang menyenangkan. Kegiatan ditujukan kepada guru, kepala sekolah dan umum serta mahasiswa se-Sumbar.

    Selain mahasiswa yang hanya dipungut Rp80.000, maka peserta dibebankan biaya Rp100.000. Adapun bahan seperti gunting, cutter, lem, kertas, krayon juga disediakan peserta.

    Sedangkan bagi anak TK atau PAUD, ada lomba finger painting dan lomba membuat mainan dari barang bekas. Kedua kegiatan ini pun dilaksanakan di palanta. Dengan Rp20.000, anak TK atau PAUD berhak mengikuti lomba finger printing. Namun hanya kertas dan kanji yang disediakan panitia.

    Dengan insert yang sama, anak TK/PAUD bersama orangtuanya bebas berkreasi dan berekspresi pada barang bekas. Peserta bebas membawa barang bekas yang mereka butuhkan untuk keperluan lomba. Misalnya kotak susu, botol air mineral dan bahan pendukung lainnya.

    Pembuatan mainan dari bahan bekas inilah tujuan utama dari kegiatan ultah Hauriyah Halum. Nina merasakan sekali manfaat barang bekas yang biasa disebut sampah itu sebagai mainan atau hiasan sewaktu berkunjung ke Fajar Hidayah beberapa waktu lalu.

    Berbekal ide itulah, Nina dan Ketua Yayasan Muhammad Rozi yang tak lain suaminya ingin berbagi dengan TK atau PAUD lain. Bahwa dari sampah bisa dibuat mainan dan media belajar yang murah meriah. Anak-anak bisa diajak membuat mainan yang mereka suka.

    “Jadi, selama ini kita memandang barang bekas itu sampah. Sebenarnya bukan. Dengan kreativitas bisa jadi media belajar bahkan bisa jadi sumber penghasilan,” kata Nina. (zul)
    OKEBANA.COM merupakan anggota resmi dari Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) dengan nomor register 003/REG/DPN-ASANTARA/VII/2026.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728