Rombongan mahasiswa fakultas teknik Universitas Andalas coba mencarikan solusi pendayagunaan fasilitas di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Kelurahan Jati Kecamatan Padang
Timur, Sabtu (28/9). Perwakilan dari HMTE dan HMTL melakukan pengabdian ke pengolahan kompos oleh kelompok sosial masyarakat (KSM) Jati Bergema itu.
Dijelaskan Ahmad secara teori proses aerob pada pengolahan sampah tidak berpengaruh terhadap lingkungan sekitar jika dikelola dengan baik dan punya sanitasi yang baik. Meski letaknya di pemukiman warga. Apalagi program 3R yang dilaksanakan Dinas Prasarana Jalan,Tata Ruang dan Permukiman Sumatra Barat telah diujicobakan di banyak daerah seperti di Jawa.
Menurut mahasiswa angkatan 2010 itu, di Yogyakarta suatu daerah dijadikan perkampungan percontohan. Masyarakatnya bisa hidup dari sampah yang mereka olah sendiri. Bahkan di gapura di pintu masuk ke sana, ada pengumuman pemulung dilarang masuk karena sampah jadi milik penuh masyarakat setempat.
Ahmad bersama Amar, Alan, Puspa, Yega dan kawan-kawan bergandengan tangan dengan rekan mereka dari HMTE. Ada Arif Fadillah, Syaiful, Ari Amrinal dan lainnya datang ke sana lantaran di KSM yang diketuai Azirwan tersebut listriknya tidak berfungsi. Arif dan rekannya merasa pasti ada sesuatu pada kelistrikan yang dimasukkan secara swadaya oleh KSM.
Dari hasil peninjauan Ahmad dan kawan-kawan didapatlah kenyataan komposter itu belum termanfaatkan maksimal. Sampah yang ditambil petugas masih bercampur. Padahal idealnya sampah organik dipisah dengan sampah non organik dan bahan berbahaya (B3).
Kata Ahmad, jika dipisah sampah B3 dibuang ke pembuangan akhir. Sampah anorganik dijual sementara yang organik diolah sebagai kompos. “Hasil penjualan sampah dan kompos itu kan bisa dikembalikan sebagian ke warga jika KSM mengelolanya sebagai bank sampah. Jadi masyarakat sekitar merasa memiliki,” ujarnya.
Para mahasiswa itu menyayangkan alat di TPST yang hanya bisa mengolah 300 kg sampah sementara kapasitas produksinya 1.000 kg (1 ton). Partisipasi masyarakat pun agak rendah. Mereka hanya mau iyuran retribusi sampah Rp5.000 per bulan. Masih banyak yang enggan sambil beralasan tiap membayar PDAM kan sudah dipotong untuk retribusi sampah.
“Padahal jika program 3R ini berhasil menjadikan sampah bermanfaat. Bisa jadi daerah itu jadi percontohan pula di tingkat nasional. Selain itu, ada keuntungan finansial menanti jika sukses mengolah sampah dari kelurahan lain di Kota Padang,” tegas Ahmad. (*)
Dijelaskan Ahmad secara teori proses aerob pada pengolahan sampah tidak berpengaruh terhadap lingkungan sekitar jika dikelola dengan baik dan punya sanitasi yang baik. Meski letaknya di pemukiman warga. Apalagi program 3R yang dilaksanakan Dinas Prasarana Jalan,Tata Ruang dan Permukiman Sumatra Barat telah diujicobakan di banyak daerah seperti di Jawa.
Menurut mahasiswa angkatan 2010 itu, di Yogyakarta suatu daerah dijadikan perkampungan percontohan. Masyarakatnya bisa hidup dari sampah yang mereka olah sendiri. Bahkan di gapura di pintu masuk ke sana, ada pengumuman pemulung dilarang masuk karena sampah jadi milik penuh masyarakat setempat.
Ahmad bersama Amar, Alan, Puspa, Yega dan kawan-kawan bergandengan tangan dengan rekan mereka dari HMTE. Ada Arif Fadillah, Syaiful, Ari Amrinal dan lainnya datang ke sana lantaran di KSM yang diketuai Azirwan tersebut listriknya tidak berfungsi. Arif dan rekannya merasa pasti ada sesuatu pada kelistrikan yang dimasukkan secara swadaya oleh KSM.
Dari hasil peninjauan Ahmad dan kawan-kawan didapatlah kenyataan komposter itu belum termanfaatkan maksimal. Sampah yang ditambil petugas masih bercampur. Padahal idealnya sampah organik dipisah dengan sampah non organik dan bahan berbahaya (B3).
Kata Ahmad, jika dipisah sampah B3 dibuang ke pembuangan akhir. Sampah anorganik dijual sementara yang organik diolah sebagai kompos. “Hasil penjualan sampah dan kompos itu kan bisa dikembalikan sebagian ke warga jika KSM mengelolanya sebagai bank sampah. Jadi masyarakat sekitar merasa memiliki,” ujarnya.
Para mahasiswa itu menyayangkan alat di TPST yang hanya bisa mengolah 300 kg sampah sementara kapasitas produksinya 1.000 kg (1 ton). Partisipasi masyarakat pun agak rendah. Mereka hanya mau iyuran retribusi sampah Rp5.000 per bulan. Masih banyak yang enggan sambil beralasan tiap membayar PDAM kan sudah dipotong untuk retribusi sampah.
“Padahal jika program 3R ini berhasil menjadikan sampah bermanfaat. Bisa jadi daerah itu jadi percontohan pula di tingkat nasional. Selain itu, ada keuntungan finansial menanti jika sukses mengolah sampah dari kelurahan lain di Kota Padang,” tegas Ahmad. (*)