HMTE dan HMTL Unand Lakukan Pengabdian Mandiri
Mahasiswa fakultas teknik Universitas Andalas dari himpunan mahasiswa teknik elektro (HMTE) dan himpunan mahasiswa teknik lingkungan (HMTL) lakukan pengabdian masyarakat di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur, Sabtu (28/9).
Di sana ada tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) itu dikelola oleh kelompok sosial masyarakat (KSM) Jati Bergema.
“Kami ingin melihat dari dekat bagaimana teknologi dan proses yang digunakan untuk mengolah sampah di kelurahan itu. Sejauh mana pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar,” ujar ketua rombongan HMTL, Ahmad Rifki.
Ahmad bersama Amar, Alan, Puspa, Yega dan kawan-kawan bergandengan tangan dengan rekan mereka dari HMTE. Ada Arif Fadillah, Syaiful, Ari Amrinal dan lainnya datang ke sana lantaran di KSM yang diketuai Azirwan tersebut listriknya tidak berfungsi. Arif dan rekannya merasa pasti ada sesuatu pada kelistrikan yang dimasukkan secara swadaya oleh KSM.
Diungkapkan Arif, dia dan teman-teman akan memeriksa KWH hingga jaringan listrik di sana. Saat melakukan pengecekan terhadap kwH terlihat kening mereka berkerut. Terlihat memandang penuh tanya satu sama lain. Kwh digital tersebut menunjukkan open sirkuit pada mode periksa. Ada kemungkinan rusak pada saluran rumah alias daya listrik tidak masuk. Akhirnya ditemukan ada yang salah di kwH-nya. Daya listrik yang masuk dari jaringan PLN 220W sementara yang keluar dari Kwh 12 W. Tentu saja tidak bisa menggerakkan peralatan di sana. Azirwan diminta melaporkannya ke PLN.
Dari hasil peninjauan Ahmad dan kawan-kawan mendapatkan pula kesimpulan yang bakal mereka bawa DKP Kota Padang yang bertanggungjawab atas pembinaan. Sebab ada penentangan dari warga yang mengaku bernama Edi. Edi merasa keberadaan TPST hanya mendatangkan bau busuk dan nyamuk. (zul)
Di sana ada tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) itu dikelola oleh kelompok sosial masyarakat (KSM) Jati Bergema.
“Kami ingin melihat dari dekat bagaimana teknologi dan proses yang digunakan untuk mengolah sampah di kelurahan itu. Sejauh mana pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar,” ujar ketua rombongan HMTL, Ahmad Rifki.
Ahmad bersama Amar, Alan, Puspa, Yega dan kawan-kawan bergandengan tangan dengan rekan mereka dari HMTE. Ada Arif Fadillah, Syaiful, Ari Amrinal dan lainnya datang ke sana lantaran di KSM yang diketuai Azirwan tersebut listriknya tidak berfungsi. Arif dan rekannya merasa pasti ada sesuatu pada kelistrikan yang dimasukkan secara swadaya oleh KSM.
Diungkapkan Arif, dia dan teman-teman akan memeriksa KWH hingga jaringan listrik di sana. Saat melakukan pengecekan terhadap kwH terlihat kening mereka berkerut. Terlihat memandang penuh tanya satu sama lain. Kwh digital tersebut menunjukkan open sirkuit pada mode periksa. Ada kemungkinan rusak pada saluran rumah alias daya listrik tidak masuk. Akhirnya ditemukan ada yang salah di kwH-nya. Daya listrik yang masuk dari jaringan PLN 220W sementara yang keluar dari Kwh 12 W. Tentu saja tidak bisa menggerakkan peralatan di sana. Azirwan diminta melaporkannya ke PLN.
Dari hasil peninjauan Ahmad dan kawan-kawan mendapatkan pula kesimpulan yang bakal mereka bawa DKP Kota Padang yang bertanggungjawab atas pembinaan. Sebab ada penentangan dari warga yang mengaku bernama Edi. Edi merasa keberadaan TPST hanya mendatangkan bau busuk dan nyamuk. (zul)