Pelabuhan Muaro Padang Bakal Berubah, Maritim Center Ditargetkan Groundbreaking Desember 2026
PADANG (OKEBANA.COM) — Wajah kawasan pesisir Padang berpeluang mengalami perubahan. Pelabuhan Muaro Padang yang selama ini menjadi salah satu akses perjalanan menuju Kepulauan Mentawai direncanakan mendapat pembenahan, seiring upaya mengintegrasikan kawasan pelabuhan dengan destinasi wisata Kota Tua dan Batang Arau.
Rencana tersebut mengemuka saat Wali Kota Padang Fadly Amran mendampingi Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Dony Oskaria, meninjau Pelabuhan Muaro Padang hingga kawasan Kota Tua, Selasa (27/10/2026).
Peninjauan itu turut dihadiri Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, anggota DPRD Sumatera Barat Verry Mulyadi, anggota DPRD Kota Padang Wahyu Hidayat dan Rachmad Wijaya, Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa, Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang Yenni Yuliza, serta Manajer Komersial dan Kepatuhan Bisnis PT Pelindo Regional 2 Teluk Bayur Ade Hilman.
Agenda tersebut berfokus pada rencana revitalisasi dermaga, peningkatan kualitas pelayanan penumpang, serta pengembangan wisata maritim yang terhubung dengan kawasan bersejarah Kota Padang.
Fasilitas Dermaga Jadi Perhatian
Di balik potensi wisata maritim yang dimiliki Padang, kualitas fasilitas pelabuhan menjadi salah satu hal yang perlu dibenahi.
Dony Oskaria mengungkapkan, Pelabuhan Muaro Padang melayani sekitar 500 hingga 1.000 wisatawan setiap hari, dengan mayoritas penumpang melakukan perjalanan menuju Kepulauan Mentawai.
Menurutnya, jumlah pengguna layanan tersebut perlu diimbangi dengan fasilitas yang memadai agar masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih baik.
“Dermaga ini melayani hampir 500 hingga 1.000 wisatawan setiap hari, rata-rata menuju Mentawai, tetapi fasilitas yang ada belum mencerminkan kualitas layanan publik yang baik. Karena itu, kita akan mendorong perbaikan dan renovasi dermaga tersebut,” kata Dony.
Pernyataan itu menegaskan pentingnya pembenahan infrastruktur pelabuhan, terutama karena kawasan tersebut menjadi salah satu titik penting mobilitas wisatawan menuju Mentawai.
Peningkatan fasilitas diharapkan tidak hanya memperbaiki tampilan fisik dermaga, tetapi juga mendukung kenyamanan penumpang dan keteraturan pelayanan.
Meski demikian, rincian mengenai anggaran, desain pembangunan, serta jadwal pelaksanaan revitalisasi dermaga belum disampaikan dalam keterangan kegiatan tersebut.
Maritim Center Masuk Tahap Lelang
Selain revitalisasi dermaga, pengembangan kawasan Muaro Padang juga mencakup rencana pembangunan Maritim Center.
Manajer Komersial dan Kepatuhan Bisnis PT Pelindo Regional 2 Teluk Bayur, Ade Hilman, menyampaikan bahwa proses lelang pembangunan fasilitas tersebut telah dimulai.
Proyek itu ditargetkan memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Desember 2026. Namun, pelaksanaannya tetap mempertimbangkan hasil lelang dan persetujuan kantor pusat.
“Pada prinsipnya, kami mendukung program Pemko Padang dalam mengembangkan kawasan Kota Tua dan Muaro Padang. Terkait pemanfaatan lahan berstatus Hak Pengelolaan (HPL), kami juga telah menjalin kerja sama,” ujar Ade.
Ia menjelaskan, pengembangan kawasan direncanakan meliputi pembangunan Maritim Center, penanganan sungai dan drainase, serta penataan kawasan secara menyeluruh melalui satu rencana induk atau master plan.
Penataan tersebut diharapkan dapat memperkuat daya tarik Muaro Padang sebagai destinasi wisata sekaligus menciptakan lingkungan kawasan yang lebih representatif.
Target pembangunan Maritim Center menjadi salah satu perkembangan yang patut dicermati. Namun, target groundbreaking tidak serta-merta berarti seluruh pekerjaan pembangunan akan selesai dalam waktu dekat.
Kota Tua dan Batang Arau Bakal Terintegrasi
Rencana pengembangan Muaro Padang tidak berdiri sendiri. Kawasan Kota Tua dan Batang Arau turut masuk dalam arah penataan yang disampaikan dalam peninjauan tersebut.
Dony mengatakan, pengembangan kawasan akan diarahkan untuk mengintegrasikan terminal penumpang Mentawai Fast dengan Maritim Center, termasuk penataan armada kapal wisata.
Pada saat yang sama, revitalisasi Kota Tua dan kawasan Batang Arau direncanakan menjadi bagian dari pengembangan wisata maritim yang lebih terintegrasi.
Pendekatan ini membuka peluang bagi wisatawan untuk menikmati lebih banyak destinasi di Kota Padang, bukan hanya menjadikan kota tersebut sebagai titik keberangkatan menuju Mentawai.
Keterhubungan antarkawasan juga berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi di sekitar destinasi, terutama bagi pelaku usaha kuliner, pedagang, penyedia jasa transportasi, dan usaha kecil yang melayani pengunjung.
Namun, manfaat tersebut akan bergantung pada pelaksanaan pembangunan, aksesibilitas antarlokasi, kualitas pengelolaan, dan keterlibatan masyarakat setempat.
Penataan kawasan juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan serta karakter bangunan bersejarah agar pengembangan wisata tidak menghilangkan identitas kawasan Kota Tua.
Fadly Amran Kaitkan dengan Jelajah Padang
Wali Kota Padang Fadly Amran menyebut, pengembangan Muaro Padang hingga Kota Tua sejalan dengan Program Unggulan Pemerintah Kota Padang, yakni Jelajah Padang.
Program tersebut berfokus pada pengembangan potensi kawasan pesisir dan destinasi wisata kota.
Fadly menilai posisi Muaro Padang sebagai pintu keberangkatan menuju Kepulauan Mentawai memiliki potensi strategis untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Pengembangan kawasan Muaro Padang hingga Kota Tua diharapkan memperkuat daya tarik wisata maritim sekaligus mendukung Padang menuju kota gastronomi dunia. Kami berterima kasih kepada Bapak Dony Oskaria dan Andre Rosiade, serta PT Pelindo dan semua pihak yang turut memperjuangkan rencana ini,” ujar Fadly.
Pengembangan wisata maritim tersebut juga berpotensi melengkapi daya tarik Padang sebagai kota yang memiliki kekayaan kuliner dan kawasan bersejarah.
Meski begitu, keberhasilan program tidak cukup diukur dari pembangunan fasilitas baru. Kualitas pelayanan, kemudahan akses, kebersihan kawasan, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat juga menjadi aspek penting dalam menilai hasil penataan.
Masyarakat Menanti Dampak Nyata
Bagi masyarakat, revitalisasi pelabuhan dan penataan kawasan wisata memiliki arti yang lebih luas daripada perubahan bangunan.
Penumpang membutuhkan fasilitas yang nyaman dan pelayanan yang tertata. Pelaku usaha berharap aktivitas wisata dapat membuka peluang ekonomi. Sementara itu, kawasan bersejarah membutuhkan pengelolaan yang mampu menjaga karakter lokal sekaligus mendukung kegiatan pariwisata.
Jika rencana tersebut terlaksana secara terintegrasi, Muaro Padang berpeluang berkembang menjadi kawasan yang menghubungkan mobilitas penumpang, wisata maritim, sejarah kota, dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Akan tetapi, peluang itu tetap memerlukan tindak lanjut yang jelas, mulai dari tahapan pembangunan, kepastian pelaksanaan proyek, hingga pengelolaan kawasan setelah fasilitas tersedia.
Transparansi proses pembangunan dan pelibatan masyarakat juga penting agar perubahan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan pengguna pelabuhan dan warga sekitar.
Untuk saat ini, perhatian tertuju pada perkembangan proses lelang Maritim Center yang ditargetkan memasuki tahap groundbreaking pada Desember 2026, serta tindak lanjut rencana revitalisasi dermaga.
Apabila terealisasi sesuai rencana, pengembangan tersebut dapat menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat wisata maritim Kota Padang.
Namun, hasil akhirnya akan ditentukan oleh sejauh mana rencana itu diwujudkan menjadi fasilitas yang lebih baik, kawasan yang tertata, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.