Potensi 29.000 MW, Dimanfaatkan Hanya 4 Persen
Padang - Potensi panas bumi (geothermal) Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Jumlahnya mencapai 29.000 MWh, atau setara 40 persen cadangan panas bumi dunia. Sayangnya potensi ini baru dimanfaatkan 4 persen saja.
“Letak geografis Indonesia yang berada pada jalur gunung api, membuat Indonesia memiliki potensi panas bumi yang melimpah, setara 40 persen cadangan panas bumi dunia. Jumlah setara 29.000 MW ini dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan penghasil listrik,” terang Prof . DR. Maizar Rahman Ketua Dewan Riset Kementerian ESDM saat jadi pemateri dalam kuliah umum 'Tantangan Energi Global dan Indonesia' di Aula Caraka Gedung B Kampus I Universitas Bung Hatta Ulak Karang Padang, Kamis (10/8).
Dikatakan Maizar yang juga Gubernur Organisasi Negara Pengekspor Minyak OPEC (2005-2008) dan Komisaris Pertamina (2006-2010) tersebut, pemerintah hanya mampu membeli Rp900/KwH.
“Sementara biaya produksinya mencapai Rp1.300/KwH sehingga investornya menjadi bingung. Di sinilah perlu kebijakan pemerintah untuk mendukung pengembangan energi ini,” terangnya lagi.
Ditegaskannya pada tahun 2100 nanti, dunia dan Indonesia tak akan bergantung lagi pada energi fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam. Namun sudah semuanya menggunakan energi matahari. Energi matahari adalah energi masa depan Indonesia. "Untuk itu, kebijakan pengembangan terhadap energi terbarukan ini amat diperlukan," ujarnya.
Wakil Dekan FTI, Yusrizal Bakar mengatakan kuliah umum ini menjadi sangat penting karena isu yang diketengahkan masih sangat hangat diperbincangkan, Dari segi kebijakan, pemerintah telah mengundangkan Perpres No.5/20016 tentang kebijakan energy nasional.
“Tujuannya untuk menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri. Beberapa sasaran kebijakan yang secara rinci diatur dalam Perpres itu adalah pada tahun 2025 terwujudnya elastisitas energy di bawah 1. Juga pengurangan porsi BBM dalam komposisi energy primer hingga 20 % dan optimalisasi bahan bakar batu bara dan gas masing-masing 33 % dan 30 % serta sisanya dengan menumbuhkan sumber energy terbarukan.
Untuk mencapai sasaran tersebut ada dua kebijakan yakni mengatur penyediaan, pemanfaatan, kebijakan harga dan konservasi alam serta kebijakan pendukung yang mengarah ke pengembangan infrastruktur, kemitraan pemerintah dan swasta serta pemberdayaan masyarakat,” tutupnya.
Kuliah umum yang diadakan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri (FTI) UBH dan diikuti 60 peserta juga melibatkan siswa SMA. Ada 30 pelajar dari SMA 3 Padang dan sebagian mahasiswa tingkat akhir FTI.
Suci Amalia Pratiwi dan M. Ridho Hidayat, siswa SMA 3 yang berkesempatan mengikuti kuliah umum tersebut menyatakan kebanggaannya diundang mengikuti kuliah umum yang diadakan PTS ternama tersebut.
“Bisa menambah pengalaman dan pengetahuan dengan ikut serta dalam kuliah umum ini. Jadi tau juga bagaimana kampus UBH tersebut. Programnya juga bagus,” tutur siswi manis kelas X tersebut.
Senada dengan itu, Ridho Hidayat menyatakan dengan mengundang pelajar, UBH akan semakin dikenal sehingga menjadi pilihan kampus tempat mereka menimba ilmu ke jenjang perguruan tinggi nantinya.
Hadir juga dalam kesempatan itu Ketua Jurusan Teknik Mesin UBH Khaidir M. Eng. (zul)
“Letak geografis Indonesia yang berada pada jalur gunung api, membuat Indonesia memiliki potensi panas bumi yang melimpah, setara 40 persen cadangan panas bumi dunia. Jumlah setara 29.000 MW ini dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan penghasil listrik,” terang Prof . DR. Maizar Rahman Ketua Dewan Riset Kementerian ESDM saat jadi pemateri dalam kuliah umum 'Tantangan Energi Global dan Indonesia' di Aula Caraka Gedung B Kampus I Universitas Bung Hatta Ulak Karang Padang, Kamis (10/8).
Dikatakan Maizar yang juga Gubernur Organisasi Negara Pengekspor Minyak OPEC (2005-2008) dan Komisaris Pertamina (2006-2010) tersebut, pemerintah hanya mampu membeli Rp900/KwH.
“Sementara biaya produksinya mencapai Rp1.300/KwH sehingga investornya menjadi bingung. Di sinilah perlu kebijakan pemerintah untuk mendukung pengembangan energi ini,” terangnya lagi.
Ditegaskannya pada tahun 2100 nanti, dunia dan Indonesia tak akan bergantung lagi pada energi fosil seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam. Namun sudah semuanya menggunakan energi matahari. Energi matahari adalah energi masa depan Indonesia. "Untuk itu, kebijakan pengembangan terhadap energi terbarukan ini amat diperlukan," ujarnya.
Wakil Dekan FTI, Yusrizal Bakar mengatakan kuliah umum ini menjadi sangat penting karena isu yang diketengahkan masih sangat hangat diperbincangkan, Dari segi kebijakan, pemerintah telah mengundangkan Perpres No.5/20016 tentang kebijakan energy nasional.
“Tujuannya untuk menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri. Beberapa sasaran kebijakan yang secara rinci diatur dalam Perpres itu adalah pada tahun 2025 terwujudnya elastisitas energy di bawah 1. Juga pengurangan porsi BBM dalam komposisi energy primer hingga 20 % dan optimalisasi bahan bakar batu bara dan gas masing-masing 33 % dan 30 % serta sisanya dengan menumbuhkan sumber energy terbarukan.
Untuk mencapai sasaran tersebut ada dua kebijakan yakni mengatur penyediaan, pemanfaatan, kebijakan harga dan konservasi alam serta kebijakan pendukung yang mengarah ke pengembangan infrastruktur, kemitraan pemerintah dan swasta serta pemberdayaan masyarakat,” tutupnya.
Kuliah umum yang diadakan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri (FTI) UBH dan diikuti 60 peserta juga melibatkan siswa SMA. Ada 30 pelajar dari SMA 3 Padang dan sebagian mahasiswa tingkat akhir FTI.
Suci Amalia Pratiwi dan M. Ridho Hidayat, siswa SMA 3 yang berkesempatan mengikuti kuliah umum tersebut menyatakan kebanggaannya diundang mengikuti kuliah umum yang diadakan PTS ternama tersebut.
“Bisa menambah pengalaman dan pengetahuan dengan ikut serta dalam kuliah umum ini. Jadi tau juga bagaimana kampus UBH tersebut. Programnya juga bagus,” tutur siswi manis kelas X tersebut.
Senada dengan itu, Ridho Hidayat menyatakan dengan mengundang pelajar, UBH akan semakin dikenal sehingga menjadi pilihan kampus tempat mereka menimba ilmu ke jenjang perguruan tinggi nantinya.
Hadir juga dalam kesempatan itu Ketua Jurusan Teknik Mesin UBH Khaidir M. Eng. (zul)