Berpuasa 17 Jam di Gurun Sahara yang Angek Garang
Padang - Bulan Ramadhan telah memasuki minggu ketiga. Berarti selama itu pula 15 ekspatriat Indonesia dari sebuah BUMN di Indonesia menjalani puasa di tengah Gurun Sahara. Tepatnya di Algeria (dulu Aljazair) yang berada 18 jam penerbangan dari Indonesia.
Mereka harus berhadapan dengan temperatur udara yang luar biasa panas, antara 40-50 derajat celsius. Malam hari pun, temperaturnya berkisar antara 25-35 derajat celsius.
Tak hanya itu, siang di Bulan Juni yang merupakan musim panas di sana lebih panjang dibanding malamnya. Waktu menahan puasa nyaris 17 jam.
“Pengalaman yang luar biasa, menjalankan ibadah puasa sambil bekerja di tengah Gurun Sahara yang sangat panas, angek garang kata orang awak. Malam yang singkat membuat kita harus pintar-pintar membagi waktu makan, ibadah dan istirahat,” ujar Aznaldi Augustia, operation manager salah satu BUMN itu, Rabu (14/6).
Urang awak asal Palupuh Agam itu mengungkapkan Subuh mulai jam 03.50 sedangkan Maghrib jatuh pada jam 19.30. Sementara Isya pukul 21.00 yang lalu dilanjutkan taraweh hingga pukul 22.00.
“Target kami, saat taraweh selesai satu juz per hari. Jadi tarawehnya tanpa ceramah. Selain masalah sertifikasi penceramah dari pemerintah Algeria, teman-reman juga berharap taraweh tidak terlalu panjang, karena esok harus bekerja,” ujarnya.
Aznaldi yang telah satu setengah tahun berada di sana mengungkapkan jam kerja normal mereka di sana selama 12 jam, dari jam 06.00 hingga 18.00 waktu setempat. Mereka dapat istirahat 1,5 jam. Kerja cuma 28 hari dan libur selama 28 hari pula.
Pada bulan puasa ini masa kerja dipotong dua jam tapi tanpa jam istirahat. Karena pulang jam 16.00, jeda waktu menjelang berbuka inilah kami manfaatkan sekali untuk istirahat.
Tantangan lain menjalankan ibadah puasa di sana adalah kelembaban udara yang rendah. Sekitar 30 persen. Akibatnya nyaris tanpa keringat walaupun suhu sangat panas.
Keringat yang keluar dari pori-pori langsung menguap karena rendahnya kelembaban udara. “Kami mengakali puasa untuk tidak terlalu lama terpapar matahari alias bekerja dalam ruangan atau berlindung. Jika tidak bisa dihindari terpapar matahari diusahakan tidak lebih 30 menit lalu masuk ruangan ataupun berlindung,” ungkapnya.
Broadcast atau petunjuk kepada pekerja untuk bekerja selama puasa di bawah suhu panas ini selalu diberikan setiap saat. Bahaya kolaps atau heat stroke mengancam jika tidak mematuhi himbauan ini. “Alhamdulillah, sampai saat ini semua baik-baik saja,” ujarnya.
Perusahaan memberikan satu ruangan VIP untuk kegiatan berbuka. Bagi pekerja Indonesia yang tak terbiasa dengan kulinari Algeria jauh rasanya dari lidah Indonesia maka mereka memutuskan untuk mengelola makanan berbuka puasa sendiri.
Menu berbuka seadanya, nasi ditambah sop, rawon atau gulai daging ayam, kambing atau sapi. Tergantung daging yang dihidangkan restoran pada saat itu. Dengan adanya kemasan sachet sop, rawon, kari dan santan bubuk sekarang, persoalan perut yang rindu masakan Indonesia bisa diatasi.
“Sederhana memang, tapi coba bayangkan bisa mendapatkan gulai ayam atau sop kambing di tengah sahara.. sungguh luar biasa,” ucapnya sambil tertawa bahagia.
Untuk makan sahur, katanya, menu bagi expat Indonesia cuma ada dua pilihan. Mie rebus dari merek lokal atau nasi goreng ala Algeria ditambah telur rebus atau telur dadar. Jika mau kecap atau sambal harus bawa sendiri. Tidak ada yang menjual kecap dan sambal di Algeria.
Pasti pembaca Singgalang ingin tahu seperti apa kulinari Algeria. Singkat kata, masakan Algeria nyaris ‘fakir bumbu’. Hampir tidak ada bumbu rahasia yang dipakai oleh restoran-restoran disini untuk menarik pelanggannya.
Rasanya bersyukur sekali menjadi orang Indonesia yang kaya dengan rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Jadi jika mau kuliner, masuk restoran mana saja rasanya sama. “Alangkah indahnya negeriku, Indonesia yang punya ribuan jenis kuliner,” tegas Alumni Fakultas Teknik Universitas Andalas itu.
Ditambahkan Aznaldi, bulan puasa menjadi momen untuk refleksi terhadap diri. Untuk yang berada jauh dari Indonesia. Di sini kita baru merasakan negeri kita punya segala. Tidak salah kalau orang menyebutnya sorga dunia. Dia hanya berpesan jika anda mau tau rasanya bersyukur jadi orang Indonesia, coba lah hidup beberapa saat di Sahara Afrika. (zul)