TP PKK Sumbar Giat Sosialisasikan Pola Asuh di Era Digital
Padang - Dampak negatif dunia digital terhadap perkembangan mental dan karakter anak dan masyarakat mulai meresahkan kita. Dunia komunikasi begitu sangat terbuka kepada siapa saja dan dari mana saja, apapun dapat diperoleh dari “mbah Google”. Parahnya perilaku buruk dan tindakan asusilayang mereka klik di internet, dipraktekkan tanpa pandang usia. Hal ini sangat menakutkan dan meresahkan kita sebagai orang tua. Masyarakat harus terus mendorong pembuat kebijakan untuk segera mencarikan solusi bagaimana menghadapi efek negatif perkembangan dunia digital ini.
"Tak dipungkiri memang, era digital jelas mempengaruhi parenting atau gaya pola asuh, dimulai dari cara berinteraksi, cara berprilaku dan sikap orang tua terhadap anak, cara menerapkan aturan, nilai/norma budaya, dan cara memberikan kasih sayang kepada anak. Pola asuh yang salah akan membentuk kepribadian yang tidak baik," ujar Ny Wati Nasrul Abit, Jumat (16/12).
Sehubungan dengan ini, TP PKK Provinsi Sumatera Barat telah menggelar acara seminar parenting (9 Desember 2016), yang dibuka dengan resmi oleh ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sumbar Ny. Hj. Nevi Irwan Prayitno.
Untuk memberikan informasi dan solusi kepada masyarakat bagaimana pola asuh anak yang baik, sikap orang tua, keluarga, dan masyarakat dalam menanggapi perilaku-perilaku buruk anak, Tim Penggerak PKK Sumbar telah mengadakan seminar parenting. Dari seminar diharapkan bagaimana semua pihak berperan aktif untuk membersihkan lingkungan dan mendidik anak-anak serta melindungi mereka dari perbuatan yang tidak baik dan terhindar dari perilaku asusila/tindakan kekerasan seksual sekaligus mencarikan solusinya.
Dikatakan Wati, seminar ini ditujukan untuk Tim Penggerak PKK Kabupaten/Kota se-Provinsi Sumatera Barat dan organisasi wanita yang ada di Sumatera Barat. Sebab PKK merupakan mitra pemerintah dalam mensosialisasikan hal-hal berkenaan dengan keluarga kepada kaum ibu.
Kader PKK nantinya diharap jadi garda terdepan dalam memperluas informasi yang berhubungan dengan gebrakan revolusi mental yang dicanangkan pemerintah untuk membangun mental positif masyarakat Indonesia yang berbasis karakter. Ke,uarga harus disadarkan bahwa anak sebagai tunas bangsa harus tumbuh kembang dengan baik, Para orang tua harus memberikan perhatian dengan penuh cinta dan kasih sayang. Upaya keras harus dilakukan agar issue-issue seputar tindakan kekerasan seksual terhadap anak, bahaya video game, dampak buruk media sosial, perilaku menyimpang, ketidak santunan dalam berkomunikasi dan tindakan-tindakan buruk lainnya tidak akan terjadi.
Pada seminar yang dilaksanakan pada 9 Desember lalu, dihadirkan narasumber yang berkompeten Seperti Prof. Dr. H. Irwan Prayitno sebagai keynote speaker dan juga Gubernur Sumatera Barat, Ny. Hj. Nevi Zuairina Irwan Prayitno, Dr. Hj. Aan Rohana, Dr. Hj. Yusrita Yanti dan Hj. Jumaiyah. Para narasumber memaparkan informasi, fakta-fakta, tekhnik parenting, dan solusi bagaimana seharusnya seorang anak dididik secara cerdas dan berkarakter dengan basis agama yang kuat, anak-anak di didik berpikir logis dan analitis serta beretika, mampu menilai dan membedakan hal yang baik dan buruk. Pendidikan anak tidak hanya tanggung jawab orang tua atau guru di sekolah saja tapi tanggung jawab semua pihak untuk benar-benar tergerak hatinya berperan lebih aktif dalam mendidik dan menumbuhkembangkan anak menjadi unggul, cerdas, dan berkarakter.
Dari hasil paparan narasumber dan diskusi bersama peserta yang berjumlah 100 orang, diusulkan sejumlah tindakan untuk dilakukan secara serius, yaitu (1) meningkatkan peran orang tua untuk mendidik anak-anak berprilaku baik berbasis agama yang kuat, mendidik anak untuk bisa hafiz Alquran dan memahami makna yang ada dalam Alquran untuk dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.; (2) mendidik anak-anak sampai kapanpun, sampai cucu, dan cicit. (3) meningkatkan peran aktif masyarakat untuk peduli memberikan contoh yang terbaik, (4) meningkatkan peran pemerintah untuk mendidik anak-anak usia dini (PAUD), anak-anak remaja/generasi muda melalui kegiatan-kegiatan positif, (5) meningkatkan peran dunia usaha dalam membimbing dan mengarahkan generasi muda untuk bertindak dinamis, positif, dan inovatif melalui kegiatan olah raga, seni, dan budaya, (6) melibatkan peran seluruh organisasi wanita dan instansi yang ada untuk membentuk organisasi agamis dengan kegiatan-kegiatan positif. (7) Membangun karakter dengan prinsip budaya Minang “Adat bersandi syarak Syarak bersandi kitabullah” budaya Minang sebagai cerminan karaker berbasis agama Islam. (8) meningkatkan gaya pola asuh yang benar yang didukung oleh peran “Neli” nenek lincah dan kakek dalam mendidik cucu, tidak “memanjakan” sehingga merusak pribadi, perilaku dan karakter anak cucu tersebut. Anak cucu tidak dibuat bingung utk memilih yg benar dan yg salah karena berbeda konsep antara ibu/ayah dan nenek/kakek. (9) mendidik anak untuk mampu berkomunikasi positif dengan mengutamakan ungkapan emosi positif, mengembangkan strategi komunikasi positif dengan mengajak anak untuk berpikir dulu sebelum berbicara seperti menggunakan pertanyaan terbuka (open questions) bukan pertanyaan tertutup (closed questions), melakukan komunikasi appresiasi dengan kata-kata pujian, tidak langsung bersikap reaktif menanggapi perilaku anak, berkomunikasi dengan menggunakan prinsip kesantunan, tidak berkomunikasi dengan tindakan yang mengancam muka (Face Threatening Acts), dan (10) meningkatkan kemahiran menggunakan teknik simulasi dalam menjelaskan pola asuh anak yang baik, penuh cinta dan kasih sayang.
Wati me jelaskan, pada seminar tersebut narasumber Prof. Dr. Irwan Prayitno, Dr. Aan Rohana, Ny. Hj. Nevi Irwan Prayitno menegaskan orang tua haruslah menerapkan pola asuh anak yang benar. Anak aset untuk akhirat makanya etika dan budaya harus diajarkan dengan benar. Orang tua, nenek, kakek, saudara dalam keluarga menjadi model. Keluarga terdekat, bertanggung jawab terhadap keberhasikan mendidik anak.
Tim Penggerak PKK secara berjenjang dimulai dari provinsi, kabupaten/kota sampai ke desa diharapkan menggerakkan semua ibu-ibu agar sepakat mendidik anak berbasis karakter melalui kegiatan-kegiatan yang positif dengan komitmen yang tinggi, sepakat mempunyai visi dan misi menjadikan lingkungan bersih dari bahaya video games, tindakan pornografi dan lingkungan bebas narkoba.
Upaya yang dilakukan tentu saja harus didukung oleh pemerintah/SKPD dan komitmen masyarakat untuk membersihkan akses situs pornografi, meningkatkan peran keluarga serta masyarakat untuk mengajak seluruh anggota keluarga meramaikan mesjid/mushola untuk kegiatan-kegiatan positif, mengajak anak-anak dan keluarga untuk sholat berjamaah terutama pada waktu subuh dan isya agar kebiasaan ini terbentuk dari kecil sampai akhir hayat.
Pada kesempatan tersebut narasumber lainnya, Dr. Hj. Yusrita Yanti, S.S.,M.Hum., menegaskan juga bahwa cara orang tua berinteraksi dengan anak sangat penting diperhatikan. Gunakan strategi komunikasi positif sehingga mampu membentuk karakter dan mengembangkan kepribadian anak yang positif. Strategi komunikasi positif akan melahirkan emosi positif, membuat anak akan terlatih berbicara santun, memilih kata-kata yang tepat, dan mampu mengembangkan kosakata yang dimilikinya sehingga keterampilan komunikasi anakpun terasah dari kecil sampai dewasa.
Hj. Jumaiyah memberikan contoh teknik bermain simulasi pola asuh anak yang baik, penuh cinta dan kasih sayang. Teknik simulasi merupakan salah satu cara yang efektif atau metode penjelasan yang digunakan dalam menjelaskan dan membeberkan kasus-kasus yang ada beserta solusinya sehingga dapat dipahami dan dilaksanakan oleh keluarga dan masyarakat.
Wati Nasrul Abit sebagai Ketua panitia seminar itu mengharapkan semoga hasil seminar berupa sepuluh rekomendasi dapat dilaksanakan oleh semua orang tua/keluarga dan seluruh masyarakat. Tidak saatnya lagi kita acuh dan cuek terhadap lingkungan. Semua kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk melindungi dan menumbuhkembangkan anak di era digital berbasis karakter dan agama yang kuat, tumbuh kembang dalam lingkungan yang bersih melalui pola asuh orang tua cerdas - anak-anak cerdas -- bangsa cerdas (smart parents -- smart children -- smart nations). (zul)