Muhammadiyah Makin Meningkatkan Kepedulian Terhadap Umat
Padang - Lembaga amil zakat infak dan sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) di bawah PWM Sumbar makin berkembang. Amal usaha Muhammadiyah Sumbar pun membuka kantor layanan Lazismu Masjid Taqwa Muhammadiyah yang diresmikan Rabu (21/12).
"Alhamdulillah semangat membayar zakat, infak dan sadaqah lewat lazismu kian meningkat. Ini yang kita kelola agar pemberdayaan umat dapat kita lakukan secara terpadu dan menyeluruh," ujar Kepala Kantor Layanan Lazismu Masjid Taqwa Muhammadiyah, Solsafad
Diungkapkan Solsafad ada beberapa program yang dilaksanakan program ayo sekolah, peduli guru, mini market lazismu, mendukung dakwah di daerah tertinggal, tanggap bencana dan lainnya. Khusus rencana mini market ini dua profesor dan dua dokter telah menyatakan kesediaan untuk menjadi donatur bagi usaha yang separo labanya untuk kemaslahatan umat.
Selain peresmian kantor layanan Masjid taqwa, juga diserahkan school kit bagi anak sekolah dan bantuan gempa untuk korban bencana gempa Pidie Jaya Aceh. Bantuan korban gempa ini merupakan wujud antusiasme masyarakat untuk berinfak dan bersadaqah.
Ketua Pengurus Masjid Taqwa Muhammadiyah, Abdurrahman S. Chan memaparkan keberadaan kantor layanan merupakan tuntutan organisasi dan keinginan meningkatkan layanan terhadap umat umumnya dan warga Muhammadiyah khususnya.
Abdurrahman mengapresiasi program yang dikembangkan oleh kantor layanan. Berkat efisiensi dan transparansi membuat banyak pihak makin percaya dengan lazismu.
Dulu kita hanya bisa membantu school kit bagi anak sekolah di Padang. Tiga tahun terakhir kita mampu mengembangkannya. Anak keluarga kurang mampu di Sumbar telah banyak yang kita bantu. Bahkan kita akan membuka mini market pula.
Ketua PWM Sumbar, Dr Shofwan Karim Elhusein memberikan penegasan pula. Zakat infak dan sadaqah mencegah kita dari kebangkrutan.
Apa yang dilakukan Lazismu ini bukan hanya dikenal dalam Islam. Di dunia ada dua cara orang untuk berbuat bagi umat manusia. Lewat charity dan filantropi. Mereka kebanyakan memperuntukkan kekayaan bagi charity atau filantropi 20 persen.
"Pantas lembaga amal mereka kaya. Kita yang hanya diwajibkan 2,5 persen, masih banyak yang enggan membayarnya," ujarnya.
Makanya jangan heran lembaga-lembaga Islam selalu kekurangan dana. Jika ingin melaksanakan kegiatan, dana dihimpun dulu. Shofwan berharap hadirnya kantor layanan ini makin membuat warga makin cinta berfastabiqul khairat karena dalam Islam ada dua manfaat, dapat pahala dan bisa membantu sesama. (zul)
"Alhamdulillah semangat membayar zakat, infak dan sadaqah lewat lazismu kian meningkat. Ini yang kita kelola agar pemberdayaan umat dapat kita lakukan secara terpadu dan menyeluruh," ujar Kepala Kantor Layanan Lazismu Masjid Taqwa Muhammadiyah, Solsafad
Diungkapkan Solsafad ada beberapa program yang dilaksanakan program ayo sekolah, peduli guru, mini market lazismu, mendukung dakwah di daerah tertinggal, tanggap bencana dan lainnya. Khusus rencana mini market ini dua profesor dan dua dokter telah menyatakan kesediaan untuk menjadi donatur bagi usaha yang separo labanya untuk kemaslahatan umat.
Selain peresmian kantor layanan Masjid taqwa, juga diserahkan school kit bagi anak sekolah dan bantuan gempa untuk korban bencana gempa Pidie Jaya Aceh. Bantuan korban gempa ini merupakan wujud antusiasme masyarakat untuk berinfak dan bersadaqah.
Ketua Pengurus Masjid Taqwa Muhammadiyah, Abdurrahman S. Chan memaparkan keberadaan kantor layanan merupakan tuntutan organisasi dan keinginan meningkatkan layanan terhadap umat umumnya dan warga Muhammadiyah khususnya.
Abdurrahman mengapresiasi program yang dikembangkan oleh kantor layanan. Berkat efisiensi dan transparansi membuat banyak pihak makin percaya dengan lazismu.
Dulu kita hanya bisa membantu school kit bagi anak sekolah di Padang. Tiga tahun terakhir kita mampu mengembangkannya. Anak keluarga kurang mampu di Sumbar telah banyak yang kita bantu. Bahkan kita akan membuka mini market pula.
Ketua PWM Sumbar, Dr Shofwan Karim Elhusein memberikan penegasan pula. Zakat infak dan sadaqah mencegah kita dari kebangkrutan.
Apa yang dilakukan Lazismu ini bukan hanya dikenal dalam Islam. Di dunia ada dua cara orang untuk berbuat bagi umat manusia. Lewat charity dan filantropi. Mereka kebanyakan memperuntukkan kekayaan bagi charity atau filantropi 20 persen.
"Pantas lembaga amal mereka kaya. Kita yang hanya diwajibkan 2,5 persen, masih banyak yang enggan membayarnya," ujarnya.
Makanya jangan heran lembaga-lembaga Islam selalu kekurangan dana. Jika ingin melaksanakan kegiatan, dana dihimpun dulu. Shofwan berharap hadirnya kantor layanan ini makin membuat warga makin cinta berfastabiqul khairat karena dalam Islam ada dua manfaat, dapat pahala dan bisa membantu sesama. (zul)
