Header Ads

  • Breaking News

    Dua Mahasiswa Universitas Bung Hatta Penelitian ke Jepang


    Mahasiswa yang terpilih untuk pertukaran pelajar ke ITB dan Jepang foto bersama dengan Wakil Rektor III, Dr Diana Kartika, Dekan FTI, Mulyanef dan dosennya Maria Ulfah usai silaturahim, di Kampus I Proklamator Ulak Karang, Rabu (9/11), (zulfadli)


    Padang - Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Bung Hatta makin mendapat kesempatan belajar di universitas ternama di Indonesia dan Jepang. Baru saja dua mahasiswa pulang dari tugas belajar di ITB, dua lagi akan berangkat ke Gifu University Jepang.

    Hebatnya lagi, mahasiswa yang akan berangkat ke Jepang ini, Redny Witri dan Sri Anggreini, bakal ikut dalam penelitian yang dilakukan oleh Sensei Yamada. Redny Witri bakal ikut dalam penelitian dan pembuatan alat penjernih air skala rumah tangga di Jepang. Sementara Sri berkesempatan ikut penelitian pemisahan hidrogen dengan plasma.

    Redny Witri dan Sri Anggreini tak menyangka bakal mendapat kesempatan ini. “Ini berkah bagi kami. Saya sejak awal masuk telah diberitahu Dr Eng Reni Desmiarti akan kesempatan ini, dan Alhamdulillah bisa terpilih untuk ke sana, meski sebulan,” ujar Redny Witri dengan mata berbinar bahagia, saat melaporkan hal ini kepada Wakil Rektor Bidang III, Dr Diana Kartika, Rabu (9/11).

    Menurut dia, alat yang dibuat Sensei itu amat bermanfaat. Bayangkan rumah tangga saja bisa mengolah air
    minum mereka sendiri. Mereka bisa seperti itu karena pemerintahnya mendukung kepemilikian mesin yang cukup mahal itu. Ada subsidi hingga 50 persen.

    Jika bisa diterapkan di Indonesia, akan lebih menjamin pasokan air bersih bagi warga kota. PDAM bakal lebih terpacu untuk memberikan layanan yang lebih baik lagi bagi pelanggannya. Dengan  alat itu, air dari riol bisa digunakan untuk air minum yang bebas dari bakteri salmonella.

    Senada dengan hal itu, Sri Anggreini merasa dapat berkah bisa kuliah di Jepang beberapa waktu lamanya. Di sana dia akan ikut penelitian pengembangan fuel cell. Dengan menggunakan plasma, hidrogen sebagai bahan bakar bisa dipisahkan dari udara bebas.

    Sementara dua teman Arshy Annisa Phoetry dan Muhammad Adittya telah menikmati kuliah di ITB melalui program Student Exchange tersebut. Selain mendapatkan perbandingan sistem kuliah di ITB dan kampusnya, mereka berkesempatan belajar pemanfaatan biogas pada Desa Binaan Teknik Kimia ITB.

    Dari sana mereka bisa belajar untuk memanfaatkan kotoran ternak untuk bahan bakar satu desa. Selain bahan bakar, pupuk organik pun didapatkan dari sisa biogas tersebut. Kegiatan itu kini dilakukan oleh himpunan mahasiswa di sana dan mereka telah terorganisir dengan baik.

    Dr. Diana Kartika tentu saja gembira dengan perubahan wawasan para mahasiswanya itu. Memang itulah yang diharapkan saat mahasiswa mendapat kesempatan keluar daerah, apalagi keluar negeri. Makanya, Universitas Bung Hatta memperluas kerjasama dengan universitas ternama di Indonesia dan luar negeri.

    “Upaya ini sejalan dengan visi dan misi universitas ini di bawah pimpinan Prof Dr. Niki Lukviarman untuk menjadikan Universitas Bung Hatta menjadi kampus berkelas dunia. Dari kini mahasiswa dilatih untuk berpikiran terbuka dan punya kemampuan berbahasa dan berkomunikasi yang baik,” ujarnya.
    Wakil Rektor III, Dr Diana Kartika, berdialog dengan mahasiswa yang mendapatkan kesempatan tugas belajar ke Jepang dan ITB. Mereka didampingi Dekan FTI, Mulyanef dan dosennya Maria Ulfah saat silaturahim, di Kampus I Proklamator Ulak Karang, Rabu (9/11). (zulfadli)

    Diana berharap kesempatan emas ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh mahasiswa. Pengalaman keluar negeri, ikut penelitian dosen, ikut dalam membina suatu desa untuk memanfatkan teknologi tepat guna bisa dimanfaatkan untuk memajukan Sumatera Barat. “Sangat membanggakan bila mahasiswa kami yang jadi pelopornya,” ujar perempuan yang kukuh memperjuangkan mahasiswanya bisa bekerja di Jepang tersebut.

    Sementara itu Dekan Fakultas Teknologi Industri Mulyanef dan Dr. Maria Ulfah yang mendampingi mahasiswanya itu berharap mahasiswanya mampu menggagas apa yang bisa diberikan mahasiswa untuk nagari-nagari di Sumbar. Misalnya Biogas ada di Tanjung Alam Tanah Datar tapi pengelolaannya kurang bagus. Alangkah bagusnya jika mahasiswa tampil untuk membantu masyarakat agar mampu mengelolanya secara ekonomis. Bisa jadi objek penelitian untuk skripsi bahkan bisa jadi mata pencaharian hingga mahasiswa tidak hanya mengandalkan ijazahnya menjadi pegawai negeri.

    Menurut dosen yang intens menganalisa katalis bagi biodisel ini, Jurusan Teknik Kimia merupakan Jurusan yang  Ilmu Teknik Kimia dapat merancang proses-proses kimia baik dalam skala kecil maupun skala industri. Sarjana Teknik Kimia bertanggung jawab terhadap perancangan dan perawatan proses kimia sehingga sering dikenal Process Engineer. Disamping itu, sarjana Teknik Kimia juga melakukan penelitian yang bertujuan untuk menemukan bahan-bahan dan teknik-teknik baru untuk menghasilkan bahan yang lebih berguna seperti menghasilkan bioetanol dari umbi talas liar.

    Mereka didukung oleh Laboratorium Komputasi Proses Industri Kimia yang dapat mensimulasikan proses pengolahan bahan baku menjadi produk yang bernilai jual tinggi. Serta sarana laboratorium lain yang mendukung proses pembelajaran.  Jurusan ini juga didukung oleh 50% dosen berkualifikasi Doktor/S3  tamatan luar dan dalam negeri  serta S2 yang berkompeten di bidang pengolahan bahan alam. Hal ini menjadikan mahasiswa S1 di Jurusan satu-satunya di Kopertis Wilayah X dan Terakreditasi B oleh BAN PT ini, hasil penelitian mereka  setara dengan mahasiswa magister (S2).

    Kesempatan belajar, meneliti sembari mencari peluang kuliah S2/S3 ataupun bekerja di Jepang pun terbuka luas di Teknik Kimia Universitas Bung Hatta. (zul)




    OKEBANA.COM merupakan anggota resmi dari Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) dengan nomor register 003/REG/DPN-ASANTARA/VII/2026.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728