Insinyur Minim, Jangan Harap Indonesia Bisa Saing
Padang - Keberpihakan pemerintah terhadap engineer yang masih kurang. Padahal,
tingginya daya saing suatu negara adalah salah satunya dicirikan oleh
berapa jumlah insinyur yang dimiliki. Jangan bandingkan dulu dengan
Singapura, apalagi Tiongkok dan Korea. Dengan Vietnam saja, Indonesia
masih tertinggal dalam ketersediaan insinyur.
Hal ini terungkap pada bedah buku yang dilakukan Keluarga
Alumni Teknik Universitas Andalas (Katua) di Hotel Balairung Jakarta,
Minggu (2/10). Buku yang sukses diluncurkan 14Mei tahun lalu, berisi
pemikiran bernas sejumlah eksponen Katua dari berbagai latar keilmuan
dan profesi berbeda dibedah tuntas dalam pertemuan bertajuk Katua
Inspiring 2016. Banyak yang terpana akan esensi buku tersebut.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas menyatakan saat
ini kita defisit 30 ribu insinyur per tahun untuk mengejar target
pembangunan sektor infrastruktur sebesar Rp5000 trilyun.
Arah kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga
diharapkan akan menjadi bandul pendorong akselarasi pertumbuhan
industri manufaktur. TKDN diskenariokan akan memacu keterlibatan
insinyur Indonesia dalam meningkatkan kinerja industri manufaktur.
Jumlah ketersediaan insinyur juga akan menjadi faktor menentukan dalam
mengejar target ini.
"Hal ini makin parah seiring kebijakan pemerintah kurang
memihak keberadaan insinyur. Tak heran jika persentase animo mahasiswa
yang kuliah dalam bidang ilmu teknik dan pertanian hanya 15 persen dari
seluruh anak negeri yang melanjutkan sekolah ke pendidikan tinggi, masih
kalah dari Korea 33 persen, Cina 38 persen, Malaysia 24 persen dan
Vietnam 25 persen. Bagaimana berharap negara bisa melakukan akselarasi
peningkatan daya saing?" pungkasnya, Senin (3/10).
Menanggapi pertanyaan para eksponen, Ketua Dewan Pakar
KATUA Surya Tri Harto, menjelaskan bahwa terdapat benang merah dalam
berbagai tulisan dalam buku KATUA INSPIRING 2015 yang pada dasarnya
menyangkut keberpihakan kebijakan publik terhadap kemanfaatan untuk
masyarakat banyak yang dilandasi analisis logis dan pendekatan
engineering. Ada yang menyampaikan 'kritikan' sopan berdasarkan
pengalaman dan keterlibatan dalam proses penyusunan dan implementasi
kebijakan, sampai tulisan memunculkan wacana melalui provokasi positif
hingga mempengaruhi pola kerja di lingkungan kerjanya," ujar eksponen
Teknik Sipil Angkatan 1985 Fakultas Teknik Universitas Andalas itu.(zul)