Anak Limau Manis Dirut Perusahaan Amerika
Padang - Mauritius adalah surga dunia di Barat Daya Lautan Hindia. Sekitar 900 km di Timur Madagaskar. Pantai-pantai indahnya seperti Grand Bay, Pereybere, Belle Mare, Blue Bay, La Morne, Tamarin serta Flic en Flac diburu banyak orang dari berbagai belahan dunia sebagai tempat menghabiskan waktu romantis mereka alias bulan madu.Ternyata ada putra Minang di sana, di negara terpadat ke-17 di dunia ini yang berada sekitar enam jam dari Sumatera dan empat jam dari Afrika Selatan.
Dia memimpin Laurelton Diamond, salah satu anak perusahaan perhiasan terkenal Amerika, Tiffany. Sejak dua tahun lalu dia didapuk jadi direktur utama, pas di usia 40 puluh tahun.
Aslim namanya. Dia adalah putra asli Limau Manis, Padang yang hobi main bola di sawah dan mandi-mandi di sungai hingga kerap bacakak dan lupa pergi ke surau. Lantaran kebiasaan jelek ini, bajunya disembunyikan oleh guru sekolahnya yang kebetulan lewat di lokasi Aslim biasa mandi bersama teman sepermainan.
Kebiasaan itu pun dinikmatinya setelah berada di Mauritius. Bermain bersama keluarga setiap ada kesempatan. “Kerja di sini seperti menikmati liburan,” ujarnya pada Singgalang.
Bisa tiap hari menikmati pantai-pantai indah di sana yang umumnya berpasir putih. Aslim berada di Mauritius sejak 2014. “Saya diminta perusahaan Amerika yang bergerak di bidang luxury goods,” ujarnya.
Diakuinya ini sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya, bisa berada di tampuk pimpinan perusahaan itu. Yang dia tahu, hanya berusaha melakukan yang terbaik di tempat bekerja. Kebiasaannya meng-upload hal-hal positif membuat daya tarik tersendiri bagi perusahaan-perusahaan kelas dunia.
Sejumlah perusahaan meminta kesediaan anak Awalludin dan Syafiah ini karena menguasai konsep clean manufacturing. Ini konsep manufacturing system yang moderen, mirip Toyota way yang mengembangkan budaya contiuous improvement.
Tawaran berdatangan meski dia tak pernah mengajukan lamaran ke perusa haan tersebut. “Mereka rupanya tertarik dengan profile ambo di Linkedln,” ungkap Aslim.
Dari sekian tawaran, pilihan jatuh ke Laurelton yang bergerak dalam pengolahan batu-batu mulia dari Afrika dan lainnya. Itu pun setelah dia berwisata dulu ke Mauritius.
“Alhamdulillah, ternyata Mauritius ko sabana rancak. Nagarinyo maju dan urang-urangnyo ramah-tamah. (ternyata Mauritius indah sekali, negerinya maju dan penduduknya ramah),” ujarnya.
![]() |
| Bersama istri dan anak di Fort Adelaide Mauritius |
Pilihan jatuh ke sana setelah bisa memastikan sekolah yang disukai anaknya Asyfa Huwaida Aslim. Itu pun disetujui istrinya Yelnawati yang harus melepas jabatannya sebagai Manager HRD di sebuah perusahaan migas di Batam. Yelnawati yang tak lain teman kecilnya dulu ikut memberi motivasi ditambah doa tulus ibu nun jauh di Limau Manis sana.
Berkah Allah itu tidak datang serta merta. Aslim termasuk murid yang pintar dan selalu langganan juara saat SMP dan SMA. Semua berkat doa dan bimbingan sang ibu yang harus menjalani hidup sebagai single parent sejak Aslim berumur 7 bulan. Kecintaan terhadap ibu dan ketabahan beliau membesarkan Aslim dan kakak perempuannya, membuat dia ini ingin cepat menamatkan pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Andalas.
Mengawali karir sebagai asisten dosen. Dia membantu pembimbing tugas akhirnya di Unand itu untuk mempersiapkan peralatan praktikum di Jurusan Mesin Universitas Eka Sakti. Kebetulan, sang dosen yang bernama Nusyirwan jadi tenaga pengajar pula di sana. Aslim pun terkadang membantu Nusyirwan memberikan asistensi kepada mahasiswa Unand. Bahkan kepada teman seangkatannya Mesin 93.
Usai membantu dosennya, Aslim pun melakoni ritual anak Minang. Merantau, merasakan pahit getirnya hidup di negeri orang mulai 1999. Di sini ujian disediakan Allah baginya.
Batam yang ditujunya pada masa awal reformasi Indonesia itu belum seperti sekarang banyak yang menyebutnya sebagai daerah baru Anda tiba Anda menangis tersebut. Masih banyak hutan di sana.
Di sana, tak ada kenalan atau keluarga. Dari Padang naik bus ke Dumai dan menyeberang ke Batam. Untung bertemu saudara jauh dari salah seorang teman yang sama-sama pergi ke sana. Dua hari tidur di gudangnya.
Aslim bertemu dengan senior yang akrab disapa Uda Pro. Dia diterima tinggal di rumah sang senior yang ternyata sudah ada rekan sesama aumni teknik lainnya yang juga coba mengadu nasib di Batam. Ada 10 orang yang ditanggung senior Mesin angkatan 86 itu.
Dua minggu di sana sungguh penuh perjuangan. “Kami sangat berterima kasih pada Uda Pro. Dapat tempat berteduh saja Alhamdulillah, meski tidur sekadarnya karena keterbatasan ruangan,” kata Aslim.Berkat bantuan Alizar alias Uda Pro tersebut, akhirnya terpanggil juga bekerja di perusahaan elektronik skala kecil milik orang Singapura. Hanya bertahan sebulan karena suasana kerja yang tidak baik.
Lagi-lagi menganggur dan kembali berburu pekerjaan. Di puncak penyerahan dirinya, datanglah panggilan kerja di Panasonic. Panasonic membuatnya nyaman dan bisa belajar banyak. Aslim dipercaya sebagai engineer, lalu dipercaya di bagian maintenance dan akhirnya jadi asisten manager pada 2005.
Kenakalan di masa kecil pun ternyata berguna. Sebab lantaran nakal itu dia dapat ‘perhatian khusus’ dari guru mengaji. Gurunya maklum dia ditinggal sang ayah sejak masih bayi dan hanya dibesarkan seorang ibu.
Cara guru mengajinya yang bijak menangani kenakalan Aslim, membuat Aslim merasa punya sosok yang jadi pe nuntunnya. Kehidupan surau di masa kecil itu membuatnya bijak menyikapi berbagai keadaan. Terutama dalam menangani pekerjaan, dan berhadapan dengan atasan atau membina bawahan.
“Setelahnya karir ambo (saya) alhamdulillah naik terus sampai menjadi manager tahun 2008. Jabatan ini bertahan sampai ambo keluar dari Panasonic pada 2012,” katanya.
Keluar dari sana, Aslim disambut perusahaan aerospace milik Amerika, EATON. Aslim hijrah ke perusahaan aerospace yang ada di Batam. Di sini dia berguru lebih banyak.
EATON membuat beberapa komponen pesawat untuk Boeing, Airbus dan lain-lain. Tiga tahun dilaluinya dengan penuh kebahagiaan lantaran banyak dapat ilmu pengetahuan yang memperkaya wawasan.
Menurut Aslim, perusahaan Amerika pada umumnya sangat mendidik karyawannya jadi orang yang bisa kerja di seluruh lini perusahaannya. Karyawan dihargai dan dibebaskan berkreasi untuk mencapai tujuan perusahaan.
Di situ Aslim ditunjuk menjadi business system assessor. Selain mengepalai area produksi, ia juga ditugasi melakukan penilaian atau assessment untuk menentukan apakah perusahaan sesuai dengan nilai-nilai atau konsep bisnis yang dipakai induk perusahaan.
Di sinilah awalnya Aslim berkesempatan berkeliling dunia terutama di Asia Pasifik untuk melakukan penilaian atau kunjungan dalam tugas di sejumlah cabang perusahaan. Pengetahuan dan keterampilan Aslim kian komplet. Selama tiga tahun dia digembleng di perusahaan aerospace.
Dia mendapat banyak ilmu terutama konsep-konsep manufacturing modern. Aslim juga bisa menamatkan pendidikan S-2 di Surabaya.
Berbekal kegigihan dan sikap cepat kaki ringan tangan yang dia tunjukkan, Aslim bisa mengakses dan menentukan tingkat kemajuan perusahaan itu. Ilmu ini yang kemudian mengantarkannya ke jajaran direksi.
Dia dilirik produsen permata dari Amerika yang punya pengolahan industri tambang batu mulia di Mauritius. Dia pun jadi direktur utamanya hingga sekarang. (*)
