Akhir Pekan Bersama Anak Surga
![]() |
| Ketua Tim Penggerak PKK, Harnelli Mahyeldi bernyanyi bersama anak-anak down syndrome. Nyanyian bernada gembira itu, membuat anak-anak tersebut berjoget, Sabtu (13/8). (zulfadli) |
Padang - Fito Fajares kini sudah enam belas tahun. Dia baru kelas 1 SMP lantaran baru masuk SD pada umur 10 tahun. Keterbatasan fisik dan sayang berlebih orang tuanya yang jadi penyebab.
Meski demikian, dia ingin menjadi hafidz quran. Sekolah di IAIN dan menjadi dai. Makanya dia begitu bersemangat ikut lomba puisi yang diadakan BPMPKB Padang di SLB Negeri 2, Padang Sarai Padang. Apalagi dia tampil perdana, disaksikan dan dapat pujian dari Ketua PKK Padang, Ny. Harnelli Mahyeldi. “Ganteng dan santun ya,” puji Harnelli menyambut uluran tangan takzimnya.
Fito sempat salah tingkah sesaat sebelum memulai puisinya dan sempat ditawarkan pakai teks braille. Namun dia bisa menguasai keadaan dan sukses membacakan puisinya.
Fito terlahir dengan mata normal. Hanya saja karena saat mengandung dia, mamanya harus istirahat total (bedrest)dan Fito lahir saat kandungan mamanya berusia 6,5 bulan. Lantaran harus mendapat perlakuan khusus, Fito dibawa dari rumah bersalin ke rumah sakit yang memiliki fasilitas inkubator.
Namun tiga bulan kemudian, tampak kelainan pada Fito. Dia seperti tak bereaksi dengan lingkungan sekitarnya. Dari pemeriksaan, diketahui matanya tak bisa melihat.
“Saat itu saya merasa shock. Manusiawi ya karena saat dari rumah bersalin normal kenapa setelah di inkubator tak bisa lagi melihat,” ungkapnya.
Meisya pun berusaha mencari tahu kenapa anaknya bisa seperti itu. Akhirnya didapat keterangan yang masuk akal. Berkemungkinan besar sang anak terkena sinar yang menyilaukan atau terdampak oksigen berlebihan. Gundah, kesal, tak mampu menerima kenyataan nasib anaknya ditambah rasa terlalu sayang membuat Fito lambat mendapatkan hak pendidikannya.
Setelah Meisya Yunita ketemu dengan teman-teman senasib, muncul kesadarannya. Kehidupan anaknya harus berlanjut. Akhirnya Fito dimasukkan sekolah pada umur 10 tahun.
“Alhamdulillah Fito tak seperti yang saya bayangkan. Dia menemukan dunianya. Bahkan dia bercita-cita jadi hafidz quran,” ujar Meisya.
Ketua PKK, Ny Harnelli Mahyeldi mengapresiasi lomba yang diadakan BPMPKB Padang ini. BPMPKB mendahulukan lomba buat anak disabilitas dalam rangkaian memeriahkan Hari Anak Indonesia yang puncaknya bakal diselenggarakan 28 Agustus.
Harnelli juga membanggakan kaum ibu yang terus mendukung anak-anak mereka yang terlahir jauh dari harapan mereka. Anaknya tidak seperti anak normal lainnya. Bahkan ada yang down syndrome, tapi orang tuanya tetap bangga mengantar anak mereka ikut lomba.
Itulah sebabnya tak hanya Fito yang dapat perhatian Harnelli. Anak-anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan berbahagia di hari itu. Mereka bernyanyi dan berjoget bersama isteri Walikota itu. Bahkan Harnelli memberi kesempatan para keluarga yang ikut memeriahkan lomba melukis, baca puisi, joget balon dan lainnya untuk foto bersama. Alhasil pelaksanaan lomba sedikit molor demi memberi kebahagiaan pada keluarga-keluarga itu.
Kepala BPMPKB, Muji Susilawati menegaskan pihaknya mendahulukan lomba bagi kaum disabilitas dibanding lomba bagi anak normal lainnya. “Ini bentuk perhatian kita, perhatian Pemko terhadap kaum disabilitas,” ujarnya.
Perhatian itu juga sekaligus dukungan terhadap warga kota yang punya anak disabilitas. Padang sebagai kota layak anak memberi hak yang sama bagi anak-anak, baik yang normal maupun berkebutuhan khusus. Seluruh SKPD terkait sudah menerapkan hal ini. (zul)
(Diterbitkan di Harian Singgalang Edisi Senin 15 Agustus 2016 di halaman B-14)
