Universitas Bung Hatta Usung Reformasi Koperasi
Padang - Kebanggaan berbagai kalangan terhadap sosok Bung Hatta, jadi beban
tersendiri bagi bagi Universitas Bung Hatta. Sebagai penyandang nama
proklamator itu, universitas ini harus mampu berkontribusi nyata
mewujudkan cita-cita Bapak Koperasi itu, menjadikan koperasi sebagai
sokoguru perekonomian Indonesia.
"Kami Universitas Bung Hatta berkewajiban ikut
memperjuangkan cita-cita Bung Hatta. Kita siap bantu Pemprov Sumbar,
Pemko Padang dan bersinergi dengan pegiat koperasi di daerah ini. Saya
secara pribadi saat kuliah dulu sudah bersentuhan dengan koperasi, dan
gregetan meliah melihat masyarakat kita di pelosok dipermainkan pemodal
besar," ujar Rektor Universitas Bunh Hatta, Prof Niki Lukviarman, Rabu
(20/7).
Prof Niki mencontohkan betapa petani kita dibuat tak
berdaya karena kesulitan pupuk, gabah, pembasmi hama dan kebutuhan
pertanian lainnya. Salah satu jalan mereka harus meminjam kepada orang
yang punya kelebihan modal, akibat ketiadaan uang jelang panen. Setelah
panen, gabah disetor dan si petani bertanya tentang berapa hasil yang
bisa dia bawa pulang dari gabah hasil panenannya.
"Kita bisa bayangkan, betapa gundahnya sang petani saat
tahu hasil usaha bertanam padinya selama ini hanya sedikit yang bisa
dibawa pulang. Lantaran pinjaman sekian bulan dihitung berikut bunganya.
Itu tak akan terjadi jika koperasi ada dan hidup seperti masa 80-an
dulu," ujarnya.
Mau tak mau, keluarga besar Bung Hatta harus siap berperan
aktif. Dikatakan Niki, dalam momen hari koperasi, bukan peringatan yang
diusung UBH. Bukan lomba atau acara bersifat seremoni belaka. Harus ada
aksi nyata dalam membangun koperasi yang tangguh, maju dan mandiri. Bisa
dibuktikan dengan koperasi di lingkungan universitas, bisa juga
koperasi di kalangan masyarakat.
Universitas punya koperasi yang cukup unik. Reformasi
koperasi di sana menghasilkan hanya satu koperasi yakni Koperasi
Keluarga Besar Bung Hatta. Semuanya ikut, unsur pimpinan, karyawan,
dosen dan mahasiswa jadi satu di koperasi itu. Simpanan pokoknya sama
dan saat ada pembagian beras bagi pimpinan, karyawan dan dosen, semua
dapat beras berkualitas sama.
"Soal kualitas ini saya tekankan betul
kepada pengurus koperasi. Jika ada satu orang saja mengeluhkan beras
yang dia terima, pengadaan beras yang 20 kg untuk yang sudah berkeluarga
dan 10 kg untuk single, akan ditarik. Begitu juga dengan pengadaan
kebutuhan universitas," tegas dewan pakar Dekopinwil Sumbar itu.
Bahkan Niki merencanakan, jika ada kelebihan rezeki, maka
ditingkatkan kesejahteraan karyawan dengan menambahkan 5 kg gula dan
lima liter minyak goreng. Dengan dukungan ini, diharapkan koperasi itu
bertambah besar dan menyumbang PAD dan cita-cita menjadikan Sumbar
Provinsi Koperasi.
Salah satu dosen, Dr. Wellya Roza pun kini tengah memimpin
mahasiswa KKN-PPM Universitas Bung Hatta untuk membudidayakan limau
tradisional berbasis koperasi. Limau kapeh, puruik, sundai, kunci,
kesturi yang biasanya jadi kelengkapan bumbu masak dan obat-obatan saat
ini ditanam besar-besaran di Nagari Tanjung Raya. Uniknya penanaman ini
berbasis sekolah dan pondok pesantren.
Nantinya, sekolah dan pondok pesantren (pontren) itu
mengelolanya melalui koperasi sekolah/pontren mereka. Ini peluang besar
teutama diera masyarakatekonomi ASEAN (MEA).
Universitas pun sangat berpartisipasi aktif menyokong
kegiatan international conference on cooperative bussiness and social
sciences. Konferensi Koperasi Internasional ini dialksanakan bersama
Pemprov Sumbar dan Pemko Padang di Inna Muara Hotel, 25 Juli 2016.
Konferensi bertema "Co-operative Bussiness: Mapping
Prosperity in the Economic Challenge" ini merupakan kebanggaan
universitas Bung Hatta. Niki berterima kasih dan mendukung penuh saat
Plt Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Zirma Yusri menawarkan
peluang ini dulunya. Apalagi Prof SriEdi Swasono sangat meng-endorse
universitas ini. (zul)
