BPMPKB Padang Berdayakan Para Janda
Padang - Kehilangan
suami tercinta saat hamil muda, tentu sangat membuat sedih Rahmi
Juwita. Ia sangat terpukul dan merasa tuhan tak adil kepadanya. Namun,
keluarga, sanak famili dan teman-temannya menghibur dan coba
membangkitkan kesadarannya. Perlahan dia mampu menerima kenyataan tersebut. Dia bertekad akan membesarkan buah cinta dengan lelaki pujaannya tersebut. Dia akan besarkan anaknya sebagai bukti cinta tulus pada pria yang telah menggunggung tabang dirinya.
“Saya kebetulan pernah belajar jahit. Dan keterampilan itulah yang sedikit banyak menopang kehidupan saya dan anak,” ujarnya.
Rahmi yang malah sering dipanggil Dewi oleh tetangganya, menekuni usaha jahit tersebut. Hanya saja, pekerjaan tersebut bersifat musiman. Orang-orang banyak menjahit saat ada keluarganya yang baralek, atau tidak menemukan baju yang sesuai dengan ukuran badan mereka. Untuk menyiasatinya, Dewi menerima orderan dari penjahit lainnya. Dia bahkan menjemput jahitan ke penjahit-penjahit yang belasan kilometer dari daerah domisilinya di di RW 5 Kelurahan Parupuk Tabing.
“Ini agar mendapat tambahan untuk biaya dapur dan biaya anak sekolah pak,” katanya kepada Singgalang dengan suara serak.
Hingga kini usaha jahit tersebut terus dilakoninya untuk memperjuangkan masa depan anak satu-satunya lebih baik.
Begitu mendengar ada pelatihan dari Pemko Padang di daerahnya untuk para janda seperti dia, Dewi sangat gembira sebagaimana pelatihan-pelatihan terdahulu yang diselenggarakan sejumlah lembaga. Hanya saja, ada harapan tertumpang agar pelatihan itu tak terhenti begitu saja. Ada program baru ada kegiatan yang dilaksanakan. Dewi memeohon dengan sangat agar Pemko melakukan program lanjutan yang mampu mengangkat harkat dan martabat para wanita yang terpaksa menjadi kepala keluarga.
“Kok bisa Pemko membina kami sampai-sampai. Kini kami diberi keterampilan membuat kuliner berbasis ikan, kami dikelompokkan. Kami berharap benar Pemko mendampingi kami hingga kami bisa buka usaha sendiri,” ungkapnya.
Senada dengan Dewi, perempuan lain yang ditinggal cerai oleh suaminya, merasa senang dengan pelatihan yang diberikan Pemko apalagi jika Pemko membina dan mendampingi mereka hingga punya usaha yang bisa menopang hidup mereka sekeluarga.
“Jika itu yang dilakukan Pemko, kami yang janda ini merasa sangat dimanusiawikan. Masih ada juga teman kami yang menolak pelatihan ini karena merasa malu atas stigma negatif yang melekat pada para janda. Terima kasih Pak Wali, terima kasih BPMPKB,” ujar perempuan yang mengaku bernama Emi ini.
Kepala BPMKPB, Hj Muji Susilawati menjelaskan kegiatan yang dilakukan bersama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan ini berupaya mengangkat harkat dan martabat para perempuan yang terpaksa menjalani peran ganda. Jadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Bisa para janda atau perempuan yang suaminya sakit dan tak bisa menjalankan fungsi sebagai kepala keluarga.
Mereka kami berdayakan. Program P2WKSS dan perempuan kepala keluarga ini dulunya dilaksanakan untuk perempuan di 11 kecamatan. Tapi tahun ini diprioritaskan kepada Parupuk Tabing setelah daerah ini jadi pelaksanaan progam Kampung KB. Dan Pemko memberi perhatian penuh untuk mengangkat harkat masyarakat di daerah itu. Bahkan program perempuan tangguh pun mungkin bisa diarahkan ke Parupuk Tabing.
Seluruh SKPD dilibatkan. Berbagai program dilaksanakan di bawah koordinasi BPMPKB Padang. “Kami bahu-membahu dengan SKPD lain untuk membuat masyarakat daerah ini tersenyum cerah. Ini amanah Pak Wali,” ujar Susi.
Susi menyatakan, program ini akan disinergikan dengan program lainnya. Jadi satu program jalin berkelindan dengan program lainnya. Saat ini BPMPKB bergandengan tangan dengan Dinas Perikanan dan Kelautan. Bisa saja dinas tersebut menjalankan program penunjang gemarikan mereka di sana.
Kepala Bidang P2HP Dinas Perikanan dan Kelautan, Entri Sofia yang jadi narasumber di acara itu, menyatakan dinas yang dipimpin Zalbadri itu akan memberikan pelatihan tersendiri untuk para wanita kepala keluarga ini. Pada kegiatan dari BPMPKB ini dia dan pengusaha kuliner berbasis ikan binaan dinasnya, Novi Zahira melatih perempuan itu membuat kerupuk ikan dan samosa. Kerupuk ikan hampir tak ada di Padang bahkan Sumbar. Bisa jadi daerah ini jadi sentra kerupuk ikan.
Dia dengan persetujuan kepala dinas bakal mengarahkan program pelatihan pembuatan produk berbasis ikan lainnya di Parupuk Tabing.
Novi Zahira pun mengaku siap membagikan ilmu dan pengalamannya membuat kuliner berbahan ikan. Dan memang Novi terlihat begitu semangat melayani mencontohkan dan menjawab pertanyaan kaum ibu itu seputar rahasia gurih dan renyahnya samosa. (zul)