Header Ads

  • Breaking News

    PCMM Memajukan Minangkabau dari Malaysia


    Padang - Kemajuan ekonomi dan perdagangan masyarakat minangkabau menjadi perhatian utama para cendekiawan asal minangkabau di Malaysia. Mereka yang tergabung dalam Pertubuhan Cendekiawa Minangkabau Malaysia(PCMM) mengajak Alumni Malaysia Sumatera Barat bersinergi mewujudkan hal itu.

    "PCMM telah mengundang Persatuan Alumni Malaysia Sumatera Barat (Persalam) untuk menghadiri pertemuan di Kuala Lumpur. Dalam pertemuan pada 1-3 September itu dibicarakan segala hal seputar kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di Sumbar untuk memajukan minangkabau di masa depan," ujar Prof. Nasfryzal Carlo, salah satu delegasi yang menghadiri undangan PCMM kepada Singgalang, Minggu (6/9).

    Dikatakan Carlo, PCMM mengharapkan para Alumni Malaysia Sumatera Barat untuk membantu kemudahan pelaksanaan kegiatan yang bakal dilakukan PCMM di Sumbar. Dia bersama empat anggota Persalam dan sejumlah ahli dari berbagai bidang kepakaran berbincang seputar jalinan kerjasama yang diperlikan untuk memajukan Sumbar.

    Carlo dalam pertemuan itu diberi kesempatan memaparkan arah dan tujuan pendidikan tinggi Indonesia saat ini, khususnya pendidikan tinggi di Sumbar. Di hadapan peserta seminar pemikiran alam Minangkabau itu, Carlo menjelaskan rencana pembangunan jangka panjang nasional 2005-2024. Dijelaskan juga kerangka logis pilar utama di kemenristek dikti yang meningkatkan daya saing Indonesia lewat lembaga dan sumberdaya berkualitas yang didukung penelitian dan pengembangan yang inovatif.

    Sekaitan pendidikan di Sumbar, Carlo menguraikan Sejarah pendidikan tinggi di Sumbar. Sebelum masa penjajahan Belanda pendidikan berbasis surau yang dibangun pada Masa Adityawarman (1396). Di saat Belanda menjajah Indonesia, di Sumbar muncul sekolah raja (1856), pendidikan pamongpraja (1920). Di 1920 itu juga lahir pendidikan agama (PGAI) yang didirikan Syech Abdullah Ahmad dan Syech M Jamil Jambek beserta ulama besar Sumbar lainnya. Diikuti munculnya Thawalib dan Diniyyah Puteri di Padang Panjang (1923), INS (1926).

    Setelah kemerdekaan muncul Unand (1956), IKIP (1964, kini UNP), IAIN Imam Bonjol (1966).  Universitas swasta: Universitas Muhammadiyah Sumbar (1955), ITSB (1964, pada 1981 jadi Universitas Bung Hatta). Ada juga ATP (1973) yang kini jadi ITP.

    Hingga kini ada 15 Institusi pendidikan negeri dan 74 swasta. Namun keberadaannya belum mampu melahirkan banyak tokoh nasional seperti dulu. "Hal ini yang hendaknya jadi pemikiran kita bersama. Bung Hatta pun bersiap untuk hal ini, bahkan tokoh berkelas dunia," tegas Direktur Program Pascasarjana UBH.
    Carlo membanggakan Program Pascasarjana yang dia pimpin telah menggalang kerjasama dengan perguruan tinggi Hawk, Hildesheim (Jerman, sejak 1991), UTM (Malaysia sejak 1994), Senoda Women University (Jepang sejak 1998) dan UUM (Kedah Malaysia sejak 2006).

    Untuk S1 saja, ada program unggulan Quantity Surveying yang didirikan pada 2002. Prodi yang bekerjasama dengan UTM ini satu-satunya di Indonesia. School profesional and continuing education bisa dimanfaatkan untuk pelatihan profesional termasuk entrepreneur. (zul)
    OKEBANA.COM merupakan anggota resmi dari Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) dengan nomor register 003/REG/DPN-ASANTARA/VII/2026.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728