Unes Tingkatkan Produktivitas Petani Tebu
Padang - Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti-AAI (Unes-AAI) ikut prihatin dengan nasib petani tebu di Bukit Batabuah, Kecamatan Canduang, Agam.
Gula tebu yang dihasilkan daerah ini berkualitas, potensi lahan tebunya pun lebih dari 680 hektare. Namun nasib petani tebu di sana tak semanis produk yang dihasilkannya.
Tim dari Iptek Bagi Masyarakat (IbM) Unes-AAI mendapatkan fakta bahwa petani tebu di daerah itu cuma punya penghasilan Rp20.000 per hari. Gula tebu yang mereka hasilkan cuma 10 Kg/hari.
“Kita berpendapat produktivitas petani tebu harus ditingkatkan agar mereka memperoleh pendapatan yang lebih layak. Kita dari Unes-AAI coba membantu mereka lewat pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita berikan nilai tambah dari segi proses,” ujar Ketua Pelaksana IbM Unes-AAI, Ketut Budaraga, Rabu (3/6).
Menurut Ketut, petani tebu di Bukit Batabuah mempunyai nilai tambah yang cukup bagus jika penanganan hulu ke hilirnya dibuat lebih baik. Petani harusnya memakai bibit unggul, sehingga rendemen gula bisa lebih tinggi, melakukan pemeliharaan atau teknik budidaya yang baik dan meningkatkan pengolahan hasilnya lewat penggunaan kilang dan pres yang lebih modern.
Untuk pengolahan, Ketut menegaskan, telah banyak teknologi tepat guna yang dihasilkan lembaga Litbang maupun perguruan tinggi. Namun kebanyakan masih sebatas penelitian, belum sampai kepada pemakai. “Melihat kondisi inilah, kami dari Unes-AAI tergerak mensosialisasikannya kepada mereka. Kami terpanggil untuk ikut memberdayakan petani tebu itu,” ujar Ketut.
Sedangkan untuk kendala pupuk mahal dan sulit didapat, Ketut dan teman-temannya dari IbM dan LPPM Unes-AAI juga mengajarkan pembuatan pupuk dan pestisida organik. “Kami gunakan rotan dan roma. Rotan itu ramuan obat tanaman sedangkan roma itu ramuan obat hama,” kata Ketut sambil tersenyum.
Ketut bersama Tim IbM dan LPPM Unes-AAI pun menerapkannya ke Kelompok Petani Tebu Sirangkak Gadang dan Sarunai Maimbau pada pertengahan Mei lalu. Mereka mengajarkan pembuatan rotan dan roma kepada dua kelompok itu. Tak pernah lupa, Ketut selalu mensosialisaikan pemanfaatan asap cair bagi tanaman.
Cara yang mereka kembangkan lebih menguntungkan petani. Karena bisa lebih menghemat biaya produksi dengan menekan bahkan menghilangkan biaya untuk pembelian pupuk dan bahan pembasmi hama dan penyakit dan lainnya.
Ketut dan kawan-kawan berharap agar masyarakat terus melakukan teknik budidaya tebu yang baik, memakai pupuk organik dan asap cair tersebut pada budidaya tebu, menularkan ilmunya kepada kelompok lain yang sejenis. (*)