Hikasmi Ingin Hidupkan Pesona Teluk Bayur
Padang - Pelabuhan Teluk Bayur yang penuh kenangan bagi sejumlah kalangan dihidupkan lagi gezahnya oleh Himpunan Keluarga Seniman Minang (Hikasmi). Mereka mengemasnya dalam bentuk Festival Teluk Bayur.
Kegiatan itu digelar 4-6 Juni di GOR H. Agus Salim Padang dan memperebutkan sepeda motor dan aneka hadiah lainnya selain tropi dan piagam.
“Kami ingin menghidupkan lagi nostalgia para perantau dan sanak keluarga yang mengantar mereka pergi merantau lewat Teluk Bayur dulunya. Ada nilai historis, budaya, ekonomi dan pembinaan karakter di pelabuhan yang sebelumnya bernama Emmaheaven itu,” ujar Ketua Hikasmi, H. Syamsurizal didampingi Wakil Ketua Panitia Festival Teluk Bayur, H. Ali Hanafiah dan Bendahara; Emalia di Kantor Hikasmi kawasan GOR H. Agus Salim Padang, Selasa (1/6).
H. Syamsurizal dkk yakin bahwa perjuangan mereka mengembalikan pesona Teluk Bayur ini harus terus dilanjutkan. Keyakinan Hikasmi didasarkan dukungan dan antusiasme peserta serta berbagai elemen masyarakat pada festival pertama dan kedua kian melihatkan hasil yang menggembirakan.
Tak dinyana, ini sudah festival ketiga. Festival yang awalnya diikuti peserta dari Padang dan sekitarnya pada festival perdana. Pada yang kedua, sudah meliputi Sumbar dan sekitarnya. Dan tahun ini peserta sudah meliputi Sumatera. Sebagian peserta dari berbagai usia sudah mendaftar dan melakukan pengambilan nada dasar. Bahkan ada peserta yang sudah berumur 70-an.
Dalam talk show di RRI beberapa waktu lalu, ada penelpon dari Jakarta. Dia bukan orang Minangkabau, tapi dia menegaskan dukungannya bahwa festival ini amat layak digulir. Dia mengaku tahu tentang pesona dan Teluk Bayur dulunya. Diingatkannya, festival ini harus mampu memberitahukan nya pada generasi sekarang.
Ditegaskan Syamsurizal, Hikasmi menilai Teluk Bayur bukan legenda, melainkan hal nyata dan bisa dikatakan merupakan salah satu ikon Kota Padang. Banyak perantau atau orang dari daerah lain yang belum merasa ke Padang jika belum melihat Teluk Bayur. Salah satunya dari Bukit Lampu. Selain itu, banyak pesona dan nilai yang bisa dikembangkan dari daerah itu.
Pelabuhan ini berfungsi sebagai pintu gerbang antar pulau serta pintu gerbang arus keluar masuk barang ekspor-impor dari dan ke Sumatera Barat. Satu hari saja Teluk Bayur terhenti kegiatannya, cukup fatal akibatnya bagi perekonomian Sumbar.
“Itu sebabnya, Pelindo II Cabang Teluk Bayur memberi dukungan penuh atas acara ini. Hadiah disediakan mereka,” ujarnya diamini Emalia.
Terkait nilai sejarah Teluk Bayur, H. Ali Hanafiah mengungkapkan kenangannya pada 1971 lalu. Dimana dia mengantarkan kawannya yang sama-sama tamat STM. Di Teluk Bayur mereka berjanji, jika dia pulang beberapa tahun lagi, Ali tak ingin melihat melihatnya seperti itu juga. Begitu sebaliknya. “Pada 2000 sang teman kembali, dan hal pertama yang dilakukannya mencari saya dan mengajak ke Teluk Bayur,” urai Ali.
Menurut Ali, ini sama halnya dengan orangtua saat melepas anaknya merantau. Si anak tak boleh kembali sebelum berhasil di rantau. (*)
