Kembangkan Shiatsu agar Hidup Netra Kian Bermutu
Padang -Tahun 2013 menjadi berkah bagi Boy Hakiki, penyandang netra yang sukses
meraih gelar sarjana di Universitas Negeri Bandung. Dia menjadi satu-satunya penyandang disabilitas netra yang diterima sebagai CPNS Pemprov Sumbar.
Boy menduduki posisi yang diperuntukkan bagi sarjana
pendidikan luar biasa yang menguasai komputer wicara. Komputer itu bisa
membantu penderita cacat netra belajar. Sebab, layarnya bisa
memberitahukan apa saja perubahan yang terjadi di layar saat program
dibuka atau kala si netra memencet keyboard.
"Alhamdulillah saya diterima untuk mengisi posisi itu dan
ditempatkan di PSBN Tuah Sakato. Saya hanya ingin berbuat yang terbaik
agar para disabilitas netra bisa menatap dunia dengan kepala tegak,"
ujar pria yang akrab dipanggil Boy, Senin (2/3).
Penempatan di PSBN pun ternyata memberi berkah pula
baginya. Boy bisa berkontribusi agar para temannya bisa hidup lebih
bermutu. Salah satunya lewat pengembangan keterampilan pijat shiatsu
yang didapatnya dari pelatihan dua bulan di Wiyata Guna Bandung. Dari
hasil pembicaraannya dengan para senior di PSBN masih ada alumni yang
terpaksa melakoni hidup di jalanan. Pagi dia membuka klinik pijat namun
sore atau malam mereka meminta belas kasihan sesama di pusat-pusat
keramaian.
Dari para seniornya pula, Boy dapat pencerahan, alumni
melakukan hal yang seperti ini lantaran tak banyak yang datang minta
jasa pijat mereka. Sebab untuk pijat mereka kalah bersaing dengan mereka
yang awas (bermata normal), begitu juga dengan ketrampilan pijat
refleksi.
"Jika mengandalkan pijat atau message, para netra juga
harus mengusai refleksi dan pijat segmen agar mereka bisa bersaing
dengan klinik pijat yang bukan netra. Lagipula banyak yang lebih memilih
urut kampung dibanding pijat ke tuna netra," ungkapnya.
Sementara untuk shiatsu yang berasal dari Jepang ini, kaum
netra bisa berbangga. Melalui pemindahan berat badan mereka bisa
memberikan relaksasi dan bisa pula untuk pengobatan. Pasien
diseimbangkan energi positif dan negatifnya (im dan you). Dan
keterampilan ini hanya diajarkan kepada para netra.
Ditegaskan Boy inilah satu-satunya teknik pijat yang
islami. Hampir tak ada kontak kulit antara pemijat dan pasiennya. Pasien
bisa dipijat dengan memakai pakaian lengkap. Bagian yang dipijat pun
dibatasi dengan handuk. Tak ada minyak. Dengan demikian pasien bisa
pijat sepulang kerja atau saat istirahat.
Singgalang menyaksikan sendiri saat mereka diberi
kesempatan praktek oleh manajemen Hotel Grand Inna Muara akhir tahun
lalu. Banyak tamu atau karyawan yang memanfaatkan jasa para penyandang
netra yang dididik di PSBN (kelayan). Tamu dari luar Sumatera banyak
yang familiar dengan shiatsu. Di Bandung, kata Boy, pasiennya pakai
nomor antrian.
"Jadi ini peluang bagus bagi para kelayan PSBN. Di Jawa
shiatsu begitu diminati. Ini berkat efek relaksasi dan penyembuhannya.
Yakinlah ini peluang, bisa jadi konsultan kesehatan dan biaya pijatnya
pun lebih mahal dibanding message atau refleksi," ujar Boy sambil
tertawa.
Kepala UPTD PSBN Tuah Sakato, Heni Yunida membenarkan dia dan jajarannya sedang mencari instruktur baru yang bisa melanjutkan keterampilan pijat, terutama shiatsu. Regenerasi ini dipandang cukup mendesak atas pertimbangan bisa melanjutkan pembelajaran shiatsu pada panti sosial di kawasan Kalumbuk Padang itu.
Kepala UPTD PSBN Tuah Sakato, Heni Yunida membenarkan dia dan jajarannya sedang mencari instruktur baru yang bisa melanjutkan keterampilan pijat, terutama shiatsu. Regenerasi ini dipandang cukup mendesak atas pertimbangan bisa melanjutkan pembelajaran shiatsu pada panti sosial di kawasan Kalumbuk Padang itu.
Satu instrukturnya, Arifin Daulay akan menjalani pensiun
dua tahun lagi. Sementara instruktur yang satu lagi, Nurmiwati pun sudah
menurun staminanya akibat jatuh beberapa waktu lalu.
Kehadiran instruktur muda ini bisa jadi harapan para
seniornya. Shiatsu sudah diajarkan belasan tahun lalu di PSBN. Namun
kurang berkembang, kelayan tak banyak yang mau belajar dan banyak pula
yang tak mengaplikasikannya di klinik pijat mereka.
Makanya, seizin Kepala Dinas Sosial Sumbar,Heni mengirim dua instruktur, Boy dan Harismen ke Bandung khusus untuk belajar shiatsu. "Kita akan kembangkan ini sebaik mungkin sehingga dengan aneka keterampilan kelayan kami bisa meraih simpati perusahaan swasta atau BUMN membantu PSBN. Dengan demikian dana pembinaan dinas bisa lebih dinikmati panti lainnya yang lebih membutuhkan," tegas Henny. (zul)