Syamsu Rahim Ingin Membangun Sumbar Lewat Pembinaan Karakter
Padang - Bupati Solok, Syamsu Rahim juga mendaftarkan diri sebagai bakal calon gubernur ke DPD Partai Syamsu Rahim menyebutkan kedatangannya ke Hanura karena menilai partai ini diharapkannya bisa menjembatani nurani rakyat saat ini. Hanura Sumatera Barat. Dia datang bersama rombongan ke kantor partai itu di Asratex, Selasa (10/2)
Sesuai namanya, seharusnyalah Hanura memperjuangkan calon-calon pemimpin daerah yang memiliki nurani, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Apalagi saat ini rakyat amat berharap hadirnya pemimpin yang benar-benar mau memperjuangkan mereka. Mereka terhimpit secara ekonomi dan digerogoti hak politiknya oleh oknum-oknum yang memanfaatkan politik sebagai alat kekuasaan semata.
“Saya berharap Partai Hanura mau bersama-sama mewujudkan hal ini sebagai wujud dukungan dan perjuangan mereka terhadap hati nurani rakyat. Memperjuangkannya karena berharap ridha Allah SWT. Bukan demi kekuasaan,” ungkapnya.
Syamsu Rahim menilai banyak kemajuan yang dialami daerah ini. Namun jika dibandingkan dengan daerah lain, Sumbar tetap jauh tertinggal. Banyak aturan yang dihasilkan, namun melupakan pemberdayaan manusia yang bakal menjalankan aturan itu.
“Kita bangga dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi kitabullah. Banyak perda yang dihasilkan. Tapi kita lupa membina karakter manusianya sehingga banyak yang tega mengorbankan orang lain demi kepentingan diri, keluarga dan golongan,” katanya lagi.
Fakta memperlihatkan Syamsu Rahim berjuang men cari jalan keluarnya lewat musyawarah tungku tigo sajarangan- tali tigo sapilin (MTTS-TTS).
Dia sukses menerapkannya di daerah yang dia pimpin, Kabupaten Solok. Masyarakat dipahamkan makna tungku tigo sajarangan dan tali tigo sapilin itu. Tungku di sini jangan diartikan tempat tiga batu yang disusun untuk menopang periuk untuk memasak nasi atau air. Melainkan ada tiga unsur di masyarakat yang harus seiring sejalan. Ketiganya unsur niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai.
Sedangkan tali merupakan nilai-nilai yang menjadi pengikat bagi ketiga unsur tadi. Ketiga tali yang dimaksud adalah nilai agama, nilai adat dan nilai yang berlaku di masyarakat (aturan-aturan kepemerintahan).
Menurut Syamsu Rahim, jika ketiga unsur ini mengacu pada tiga tali maka mudah-mudahan kehidupan bermasyarakat akan harmonis dan apapun program pembangunan bisa dilaksanakan sebaik-baiknya.
Sambil bercanda, Syamsu Rahim menyatakan, jika partai Hanura pun menilai pembinaan karakter manusia Sumbar amat penting, maka dia calon yang tepat untuk itu.
Begitu pula jika Hanura berkeyakinan salah satu dari pasangan kepala daerah sebaiknya orang yang mengerti tata kelola pemerintahan, maka dia pun calon kuat yang patut dipertimbangkan untuk memimpin daerah ini lima tahun ke depan.
Ketua DPD Partai Hanura, Marlis kepada anggotanya membenarkan Syamsu Rahim punya pengalaman yang banyak. Lulusan APDN Bukittinggi ini bekerja di pemerintahan dari bawah. Kepiawaiannya menjadikan dia sukses menapak menjadi camat bahkan didapuk menjadi Asisten II di Sawahlunto.
Dia pun berani mengambil keputusan demi sesuatu yang dia yakini benar.
“Syamsu Rahim meninggalkan PNS dan jabatannya dan berkecimpung dalam dunia politik. Ternyata pilihannya tepat, hingga dia bisa meraih posisi Ketua Partai Golkar dan sukses menjadi Ketua DPRD Sawahlunto,” ujar Marlis.
Dia pun sukses mengalahkan incumbent Walikota Solok. Lalu sukses pula menjadi Bupati Solok. Kini Syamsu Rahim, yang hampir meng akhiri jabatannya sebagai bupati , berencana pula ikut bertarung dalam pemilihan gubernur. (zul)
Sesuai namanya, seharusnyalah Hanura memperjuangkan calon-calon pemimpin daerah yang memiliki nurani, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Apalagi saat ini rakyat amat berharap hadirnya pemimpin yang benar-benar mau memperjuangkan mereka. Mereka terhimpit secara ekonomi dan digerogoti hak politiknya oleh oknum-oknum yang memanfaatkan politik sebagai alat kekuasaan semata.
“Saya berharap Partai Hanura mau bersama-sama mewujudkan hal ini sebagai wujud dukungan dan perjuangan mereka terhadap hati nurani rakyat. Memperjuangkannya karena berharap ridha Allah SWT. Bukan demi kekuasaan,” ungkapnya.
Syamsu Rahim menilai banyak kemajuan yang dialami daerah ini. Namun jika dibandingkan dengan daerah lain, Sumbar tetap jauh tertinggal. Banyak aturan yang dihasilkan, namun melupakan pemberdayaan manusia yang bakal menjalankan aturan itu.
“Kita bangga dengan filosofi adat basandi syarak syarak basandi kitabullah. Banyak perda yang dihasilkan. Tapi kita lupa membina karakter manusianya sehingga banyak yang tega mengorbankan orang lain demi kepentingan diri, keluarga dan golongan,” katanya lagi.
Fakta memperlihatkan Syamsu Rahim berjuang men cari jalan keluarnya lewat musyawarah tungku tigo sajarangan- tali tigo sapilin (MTTS-TTS).
Dia sukses menerapkannya di daerah yang dia pimpin, Kabupaten Solok. Masyarakat dipahamkan makna tungku tigo sajarangan dan tali tigo sapilin itu. Tungku di sini jangan diartikan tempat tiga batu yang disusun untuk menopang periuk untuk memasak nasi atau air. Melainkan ada tiga unsur di masyarakat yang harus seiring sejalan. Ketiganya unsur niniak mamak, alim ulama dan cadiak pandai.
Sedangkan tali merupakan nilai-nilai yang menjadi pengikat bagi ketiga unsur tadi. Ketiga tali yang dimaksud adalah nilai agama, nilai adat dan nilai yang berlaku di masyarakat (aturan-aturan kepemerintahan).
Menurut Syamsu Rahim, jika ketiga unsur ini mengacu pada tiga tali maka mudah-mudahan kehidupan bermasyarakat akan harmonis dan apapun program pembangunan bisa dilaksanakan sebaik-baiknya.
Sambil bercanda, Syamsu Rahim menyatakan, jika partai Hanura pun menilai pembinaan karakter manusia Sumbar amat penting, maka dia calon yang tepat untuk itu.
Begitu pula jika Hanura berkeyakinan salah satu dari pasangan kepala daerah sebaiknya orang yang mengerti tata kelola pemerintahan, maka dia pun calon kuat yang patut dipertimbangkan untuk memimpin daerah ini lima tahun ke depan.
Ketua DPD Partai Hanura, Marlis kepada anggotanya membenarkan Syamsu Rahim punya pengalaman yang banyak. Lulusan APDN Bukittinggi ini bekerja di pemerintahan dari bawah. Kepiawaiannya menjadikan dia sukses menapak menjadi camat bahkan didapuk menjadi Asisten II di Sawahlunto.
Dia pun berani mengambil keputusan demi sesuatu yang dia yakini benar.
“Syamsu Rahim meninggalkan PNS dan jabatannya dan berkecimpung dalam dunia politik. Ternyata pilihannya tepat, hingga dia bisa meraih posisi Ketua Partai Golkar dan sukses menjadi Ketua DPRD Sawahlunto,” ujar Marlis.
Dia pun sukses mengalahkan incumbent Walikota Solok. Lalu sukses pula menjadi Bupati Solok. Kini Syamsu Rahim, yang hampir meng akhiri jabatannya sebagai bupati , berencana pula ikut bertarung dalam pemilihan gubernur. (zul)
