Mereka Berbaur di Sate Mak Ujang
Padang - Ada yang menggelitik di ajang Bazar HBT/WHBT 2566. Di salah satu sudut ruang kuliner, seorang pribumi bernama asli Nazri asyik memotong ketupat, sesekali dia mengipasi daging satenya. Sementara yang menghidangkannya ke konsumen adalah warga keturunan Tionghoa. Mereka penuh canda dalam bekerja.Peran Nazri pun terkadang digantikan remaja putra maupun putri yang juga keturunan Tionghoa. Meski mereka kurang terampil memotong ketupat, sehingga diketawakan konsumen yang mengenal mereka, semua tetap terlihat senang asal konsumennya terlayani.
“Kami aktif melayani konsumen yang ingin menikmati sate Mak Ujang agar terlihat beda. Biar banyak yang tertarik makan sate sahabat kami ini. Dia yang memasak seluruhnya,” ujar Anggota Sri Bakti Padang Panjang Lucia Yaputra sambil memperkenalkan ketuanya, Gut Eng, Rabu (25/2)
Menurut Lucia, Mak Ujang diajak ke Bazar HBT/WHBT untuk ikut meramaikan iven yang digelar di Imlek 2566. Sebagai anggota WHBT mereka bertanggung jawab untuk menyemarakkannya. “Kami mengundang kuliner yang bisa jadi ikon Padang Panjang. Saat ini sate diantaranya. Kami ingin mempromosikannya,” ujanya.
Lucia menegaskan dalam memilih partner, Sri Bakti sangat selektif. Soal kualitas rasa dan daging sate menjadi tuntutan utamanya. Mak Ujang satenya juga dikenal enak dan nikmat masyarakat Padang Panjang dan dia bisa menerima masukan dari kita tentang satenya.
Daging sate tanpa gemuk (lemak) pun dipenuhinya. Sebab umumnya konsumen pasti menghindari makanan berlemak. Terbukti kerja sama yang erat telah terjalin empat tahun. Jadi sudah empat kali bazar WHBT yang menjadi saksi harmonisnya hubungan dua etnis itu.
“Ini wujud betapa harmonisnya hubungan antar etnis di Padang Panjang,” katanya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Singgalang, Mak Ujang dan Sri Bakti sudah seiring sejalan dalam bisnis kuliner pada iven tahunan ini. Sebelum bersama Mak Ujang, Sri Bakti sebenarnya sudah menjalin kerjasama dengan pengusaha/pedagang sate lainnya di Padang Panjang. Namun tidak berjalan sukses.
Selain kurang bisa memenuhi persyaratan kerja sama, umumnya mereka terkendala waktu. Sebab, mereka harus bolak-balik antara Padang dan Padang Panjang setiap hari.
Berangkat jelang sore dan harus pulang tengah malam. Hanya Pak Ujang yang bertahan cukup lama,” katanya.
Nazri yang akrab dipanggil bujang ini gembira dengan sebentuk perhatian, buah dari perkenalannya dengan warga keturunan Tionghoa di Padang Panjang. Diakuinya semua dari pergaulan sehari-hari. Hubungan baik dari pembaurannya dari 2008 lalu dengan warga keturunan inilah yang menjadi sebab perkumpulan wanita Sri Bakti itu mau membina usahanya.
“Alhamdulillah masukan, info hingga bantuan promosi seperti ini amat membantu perkembangan usahanya. Rasa dan kualitas masakannya makin baik,” ujarnya.
Bujang menyatakan banyak berkah yang dia dapat dari hubungan baik sesama manusia sebagaimana yang dituntunkan Islam. Bujang berprinsip bukankah dari segi muamalah kita tidak dilarang bekerjasama dengan siapa saja. (zul)