Barongsai Punya Kepedulian Sosial
Padang - Belasan tahun aktif menggeluti barongsai, baru di Imlek 2566, Freddy Tan, pelatih tim Barongsai Tjoa Kwa tak tahan menahan air mata. Begitu juga dengan anggota timnya.
“Saya hampir menangis melihat bapak itu menitikkan air mata menerima jeruk mandarin dari salah satu singa barongsai. Mengabadikan momen itu saja sata tak sanggup,” ujar Freddy saat mengungkapkan momen berkesan hingga hari keenam imlek, Rabu (25/2).
Diceritakannya juga kejadian itu usai bermain di Dobi Da lam pada Minggu (22/2) pagi.
Tim Barongsai Tjoa Kwa harus bersiap untuk tampil di tempat lainnya. Namun saat berkemas, itulah datang seorang perempuan yang juga keturunan Tionghoa menghampiri salah seorang dari mereka.
Perempuan itu berharap tim bermain di tempatnya saat itu juga. Freddy Tan, sang pelatih minta pengertian perempuan paruh baya itu agar mereka datang sore hari saja ke rumahnya karena ada janji pula main barongsai di tempat lainnya yang berjarak cukup jauh.
Namun si perempuan yang berusia 60-an itu bersikeras, barongsai harus main segera. Dia beralasan, jika siang suaminya harus tidur. Begitulah rutinitas yang dijalani sejak sakit setahun lalu.
“Setelah bermusyawarah dengan anggota tim, kami pun main di tempat nenek itu. Tak tahan melihat air muka yang penuh harap itu,” ujar Freddy.
Sambil berjalan ke rumahnya, sang nenek menceritakan perihal suaminya. Ia ingin menggembirakan suaminya di momen imlek ini. Dia pun menanyakan berapa angpau yang harus disediakan untuk kedua singa barongsai.
Mendengar penuturan sang nenek, Freddy pun menyatakan tak usah disediakan angpau.
“Di momen imlek ini ajang berbagi. Menurut ceritanya, singa mengantarkan rezeki ke rumah-rumah di awal tahun, dilambangkan dengan daun selada, jeruk mandarin dan nenas,” ujar pria yang belajar barongsai hingga ke Malaysia ini.
Sang singa yang biasanya tetap berdiri di depan tuan rumah usai menyerahkan nampan berisi perlambang rezeki dan kesehatan itu, langsung mundur.
“Biasanya tenang sebentar untuk memberi kesempatan pada tuan rumah menyelipkan angpau. Namun re kan-rekan yang mengusung singa pun sama pikirannya dengan Freddy. Ini saatnya mereka menunjukkan kepedulian,” ungkap Freddy.
Tanpa disangka, si nenek mengejar dan berusaha menyelipkan angpau ke singa. Katanya dia bahagia melihat perubahan di wajah suaminya.
Freddy dan kawan-kawan erasa jalan mereka ke tempat pertunjukan seolah dimudahkan. Mereka yang semula khawatir bakal terlambat, merasa lega bisa datang sesuai janji. (zul)
“Saya hampir menangis melihat bapak itu menitikkan air mata menerima jeruk mandarin dari salah satu singa barongsai. Mengabadikan momen itu saja sata tak sanggup,” ujar Freddy saat mengungkapkan momen berkesan hingga hari keenam imlek, Rabu (25/2).
Diceritakannya juga kejadian itu usai bermain di Dobi Da lam pada Minggu (22/2) pagi.
Tim Barongsai Tjoa Kwa harus bersiap untuk tampil di tempat lainnya. Namun saat berkemas, itulah datang seorang perempuan yang juga keturunan Tionghoa menghampiri salah seorang dari mereka.
Perempuan itu berharap tim bermain di tempatnya saat itu juga. Freddy Tan, sang pelatih minta pengertian perempuan paruh baya itu agar mereka datang sore hari saja ke rumahnya karena ada janji pula main barongsai di tempat lainnya yang berjarak cukup jauh.
Namun si perempuan yang berusia 60-an itu bersikeras, barongsai harus main segera. Dia beralasan, jika siang suaminya harus tidur. Begitulah rutinitas yang dijalani sejak sakit setahun lalu.
“Setelah bermusyawarah dengan anggota tim, kami pun main di tempat nenek itu. Tak tahan melihat air muka yang penuh harap itu,” ujar Freddy.
Sambil berjalan ke rumahnya, sang nenek menceritakan perihal suaminya. Ia ingin menggembirakan suaminya di momen imlek ini. Dia pun menanyakan berapa angpau yang harus disediakan untuk kedua singa barongsai.
Mendengar penuturan sang nenek, Freddy pun menyatakan tak usah disediakan angpau.
“Di momen imlek ini ajang berbagi. Menurut ceritanya, singa mengantarkan rezeki ke rumah-rumah di awal tahun, dilambangkan dengan daun selada, jeruk mandarin dan nenas,” ujar pria yang belajar barongsai hingga ke Malaysia ini.
Sang singa yang biasanya tetap berdiri di depan tuan rumah usai menyerahkan nampan berisi perlambang rezeki dan kesehatan itu, langsung mundur.
“Biasanya tenang sebentar untuk memberi kesempatan pada tuan rumah menyelipkan angpau. Namun re kan-rekan yang mengusung singa pun sama pikirannya dengan Freddy. Ini saatnya mereka menunjukkan kepedulian,” ungkap Freddy.
Tanpa disangka, si nenek mengejar dan berusaha menyelipkan angpau ke singa. Katanya dia bahagia melihat perubahan di wajah suaminya.
Freddy dan kawan-kawan erasa jalan mereka ke tempat pertunjukan seolah dimudahkan. Mereka yang semula khawatir bakal terlambat, merasa lega bisa datang sesuai janji. (zul)