Ayam Antarkan Firda Arlina Meraih Gelar Doktor

Ayam Kokok Balenggek, telah menjadi ikon Kabupaten Solok. Namun unggas endemik ini berada di
ambang kepunahan. Hal itu menjadi perhatian Firda Arlani.
Keanekaragaman Fenotipe dan DNA Mikrosatelit Ayam Kokok Balenggek untuk Strategi Awal Konservasi di Sumatera Barat, menjadi bahan disertasi Firda guna menyelesaikan program doktornya dan dipertahankan pada Ujian Terbuka Program Doktor Ilmu Peternakan, di aula Gedung Pascasarjana Unand, Kamis (26/2).
Di hadapan Tim Penguji dan Promotor, Firda Arlina mempresentasikan hasil penelitiannya tentang Ayam Kokok Balenggek yang telah menjadi ikon Kabupaten Solok, meskipun unggas endemik tersebut sudah di ambang kepunahan.
“Medan yang berat dan sulitnya mengumpulkan bahan di lapangan menjadi kendala tersendiri, termasuk juga melakukan pengambilan sampel untuk diteliti di labor,” kata Firda Arlina ketika mengawali presentasinya.
Menurut Firda, Ayam Kokok Balenggek yang hanya terdapat di Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok merupakan satu-satunya di dunia yang mampu berkokok bertingkat. Berbeda dengan hewan sejenis yang ada di beberapa daerah di nusantara, meskipun di Indonesia ada 31 jenis ayam yang berbeda.
“Kemampuan kokok balenggek yang dianugrahkan kepada ayam hutan tersebut, berasal dari habitatnya yang berada di hutan merah di kawasan Bukit Barisan. Saat kekinian, hewan tersebut juga diambang kepunahan karena adanya penyakit dan penjualan dalam skala besar-besaran, karena nilai ekonominya yang cukup tinggi,” jelasnya.
Firda berharap dengan adanya penelitian yang telah dilakukan tersebut, ke depannya diharapkan adanya database tentang Ayam Kokok Balenggek ini. Termasuk juga, penelitian dari sejumlah pakar peternakan untuk melestarikan kekayaan hayati nusantara itu.
Menurut istri dari Pengelola ICT ISI Padang Panjang, Sastra Munafri itu, ini merupakan gerbang awal untuk melakukan penelitian-penelitian tentang keberadaan Ayam Kokok Balenggek. Termasuk juga usaha konservasi dengan melibatkan pemerintah daerah, masyarakat setempat dan perguruan tinggi.
Sementara itu, Promotor Ujian Program Doktoral Prof. M.Ifl Abbas ketika ditemui menyebutkan, penelitian yang dilakukan Firda Arlina dalam menyelesaikan program doktoralnya merupakan harapan baru dalam kelangsungan Ayam Kokok Balenggek di Kabupaten Solok.
“Sebenarnya, penelitian ini telah lama dilakukan Firda. Sebelum dia memulai program doktoralnya, termasuk juga harus bolak-balik ke lokasi yang masih terisolir saat itu,” katanya.
Dengan adanya penelitian tersebut, lanjut M. Abbas, kepekaan dari pemerintah daerah juga sangat dibutuhkan dalam pelestarian Ayam Kokok Balenggek ini. Sehingga, kawasan hutan sebagai lokasi berkembang biak dari hewan ini bisa tetap dipertahankan, termasuk juga dalam meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat setempat.
Dengan tingginya nilai ekonomi dari ayam ini, cukup banyak ayam yang dijual ke daerah luar maupun dipindahkan dari habitat aslinya. Apalagi, harga satu ekor ayam kokok balenggek ini bisa mencapai Rp5 juta, tergantung tingkatan kokoknya.
Sementara itu, Tim Penguji Eksternal Prof. Cece Sumantri dari IPB Bogor menyebutkan, keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia sebenarnya cukup banyak. Termasuk juga Ayam Kokok Balenggek yang menjadi bahan penelitian dari Firda Arlina, sehingga bisa menambah khasanah kebudayaan bangsa.
Kepedulian dari masyarakat sekitar terhadap kelestarian ekosistem hutan sebagai faktor utama keberadaan Ayam Kokok Balenggek itu, juga sangat penting. Apalagi, perkembangan dan pertumbuhan penduduk juga mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Dia berharap, “Mudah-mudahan di sini itu tidak terjadi, apalagi kepedulian kalangan akademisi terhadap kelangsungan Ayam Kokok Balenggek ini juga cukup tinggi. Kita harapkan akan ada Firda-Firda lainnya yang akan melanjutkan estafet ini. Apalagi, bisa mewujudkan penangkaran Ayam Kokok Balenggek seperti yang diidamkan oleh Firda Arlani ini.” (zul)