SD BU Semen Padang Tak Menyangka Bisa Jadi Sekolah Adiwiyata
Padang - Gurat gembira terpancar dari wajah Kepala SD Busthanul Ulum (BU) Semen Padang, Rismayetti. Penghargaan itu diserahkan Walikota Mahyeldi Ansyarullah dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.Dia gembira lantaran prestasi yang baru saja diraih oleh sekolah yang dia pimpin. Sekolah di Lambung Bukit sana, Kelurahan Batu Busuk ini bisa berbicara di tingkat Padang, meraih penghargaan sekolah adiwiyata.
Rismayetti bersama kepala sekolah lainnya di Sumatera Barat menerima penghargaan yang sama di Taman Budaya, pekan lalu. “Kami tak menyangka sekolah kami bisa menorehkan prestasi di tingkat kota. Terima kasih para guru, anak-anak, orang tua murid, Direksi PT Semen Padang dan pimpinan Yayasan Igasar beserta jajarannya atas dukungan sehingga predikat adiwiyata bisa kami raih,” ujarnya, Jumat (27/6).
Dikatakannya, betapa dia dan semua pihak di sekolahnya tidak akan bangga, mereka yang jauh di pelosok dengan anak-anak muridnya berasal dari keluarga kurang mampu bisa menjadikan sekolahnya peduli lingkungan hidup.
Sekolah yang full CSR Semen Padang itu bisa berkontribusi dengan program peduli dan ramah lingkungan yang dicanangkan Dirut pabrik semen tertua di Indonesia itu.
Yang paling membahagiakan, Kepala Bagian CSR Semen Padang, Iskandar Lubis yang juga menerima penghargaan di hari dan tempat yang sama berbisik kepadanya, “Saya sangat bangga dengan ibuk dan kawan-kawan di SD BU. Atas nama segenap pimpinan, saya mengucapkan salam sukses.”
Lagi pula, banyak yang tak menyangka SD BU bisa meraih adiwiyata. Dan itu dijawab setelah dua tahun mengupayakannya. Keberhasilan itu menggenapi seluruh sekolah dalam naungan Yayasan Igasar yang sudah berpredikat adiwiyata.
“Dalam hal ini kami sangat berterima kasih pada Ketua Yayasan, Yuzri Boy yang mencurahkan perhatiannya pada SD BU, bahkan ikut menyingsingkan lengan baju bekerja bersama pihak sekolah,” ujarnya.
Prestasi itu, kata Ris jelas membuat semua elemen di sekolahnya gembira. Namun dia menganggap prestasi itu sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik lagi di masa datang. Bisa meraih adiwiyata tingkat provinsi seperti SMK Semen Padang, nasional seperti SD dan SMA Semen Padang bahkan mandiri.
Kalau bisa seperti SMP Semen Padang yang berpredikat adiwiyata mandiri dan sedang bersiap menjadi ASEAN Eco School.
Diceritakannya betapa sulitnya menanamkan sikap peduli lingkungan pada guru, apalagi pada anak didiknya. Sejak digagas SD BU menuju adiwiyata pada 2012, umumnya penyiapan sarana yang dilakukan dipandang sebelah mata oleh sebagian besar warga sekolah.
Saat sebagian lain menanam bunga, menatanya, memeliharanya yang lain hanya memandang dari jauh.
Jangankan memperhatikan kebersihan halaman sekolah, ruang kelas pun kadang tidak disapu lantaran murid terlambat ke sekolah akibat rumahnya jauh dan mereka berjalan kaki naik turun bukit. Namun itu jadi kisah masa lalu.
Saat ini, para murid itulah yang aktif. Mereka berlomba menjadikan kelasnya yang terbersih setiap harinya. Bila melihat tanah di pot mulai keras, mereka seta merta menggemburkannya. Bunga yang rusak mereka bawa dan rawat di green house.
“Sekarang mereka pandai menegur temannya, jika tindakan mereka mengotori kelas atau merusak tanaman. Anak-anak tersebut, selesai bermain apa saja, cuci tangan dulu sebelum mereka makan kue. Benar-benar membahagiakan,” ungkap Ris.
Ris buka rahasia, ternyata nilai 76,25 yang mereka raih lantaran perilaku peduli lingkungan yang diterapkan anak, pemakaian tong atau kaleng bekas sebagai pot, pemisahan sampah organik dan an organik, mengolah sampah organik jadi pupuk tanaman mereka, daur ulang sampah an organik serta pemanfaatan halaman belakang sekolah yang sempit dan berbatasan dengan bukit secara optimal. Anak-anak menjadikan taman sekolah untuk tempat belajar.
Menurut Ris, dari pengalamannya menghadapi tim penilai adiwiyata, tiap sekolah bisa mengarah ke sekolah adiwiyata asalkan segenap elemen di sekolah itu punya kemauan, kesabaran, keikhlasan dalam memupuk kepedulian terhadap lingkungan. (zul)