Putra Diselamatkan Guru dan YSO Adabiah
Padang - Tak terkira gembiranya hati Putra Fil Anando. Harapannya yang nyaris pupus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kini serasa bangkit kembali. Dia bertekad kuliah dengan baik agar tidak mengecewakan guru, teman dan yayasan dimana dia menuntut ilmu.“Alhamdulillah, saya bisa juga menapakkan kaki di Universitas Andalas. Terima kasih buk kepala sekolah, wali kelas, teman-teman dan pimpinan yayasan Syarikat Oesaha Adabiah atas bantuan dan semangatnya. Saya akan kuliah sebaik-baiknya,” ujar Putra dalam perbincangan dengannya di ruang Kepala Sekolah Adabiah Padang, Senin (23/6).
Putra menceritakan, awalnya memang dia gembira bisa menjadi mahasiswa salah satu universitas ternama, Universitas Andalas. Betapa tidak, kawan-kawannya harus berjuang keras untuk mendapatkan kursi di kampus itu lewat SBMPTN.
Sementara dia hanya bersiap-siap mendaftarkan diri saja. Terbayang di ruang matanya bisa membahagiakan ibunya yang kini sakit-sakitan di Simpang Empat Sungai Limau, Padang Pariaman.
Namun, asa yang mulai muncul itu harus dia hapus seketika. Berganti air mata saat keluarganya menyatakan belum sanggup membiayai kelanjutan pendidikannya.
Anak kesepuluh ini, harus menerima kenyataan betapa tujuh kakaknya yang mungkin bisa menolong, ternyata angkat tangan juga. Bukan soal uang masuk, namun biaya lainnya yang dipikirkan keluarga yang umumnya mengambil upah di sawah-sawah milik orang sekampungnya tersebut.
Mereka takut pendidikan Putra yang ditinggal sang ayah sejak kelas enam ini terputus di tengah jalan. Sementara uang yang didapat dari pinjam sana sini jadi terbuang percuma jika kondisi yang mereka khawatirkan benar-benar terjadi.
Lama Putra merenungi nasib. Air mata jatuh meleleh membasahi pipi. Hatinya hancur. Dulu dia juga harus melupakan cita-citanya menjadi polisi lantaran ketiadaan biaya. Hatinya bertanya, haruskah hal yang sama kembali dialaminya.
Dia harus menyadari kenyataan, saat sekolah di SMA Adabiah guru-guru ikutan susah memikirkan bagaimana caranya agar dia mendapat beasiswa, bantuan dana BOS. Teman-teman pun ikut membantu lewat infak yang mereka kumpulkan tiap hari Jumat guna membantu teman-teman mereka yang kesulitan membayar uang SPP.
Putra pun harus membantu tantenya Nurmayeni jualan kelapa kukur di Pasar Ulak Karang sepulang sekolah. Dia membantu hingga jelang Maghrib.
Akhirnya tanya tak berjawab itu diakhirinya. Dia tidak ingin menyusahkan lagi orang-orang yang telah membantunya selama ini. Kalau bersikeras tentu membuat ibunya makin bersedih.
Putra pun menemui wali kelasnya di IPS 3, Jusmaini. Wali kelasnya tak setuju dia mengundurkan diri alias tidak mendaftar ke Universitas Andalas. Sang walikelas ini membawa masalah Putra ke Kepala SMA Adabiah, Novri Elida.
Kepala sekolah yang terkenal sangat disiplin ini pun tidak setuju. Minimal mereka harus bisa memikirkan kebutuhan Putra selama enam bulan.
Kepala sekolah dan wali kelas Putra mendapat dukungan dari rekan-rekan guru lainnya. Para guru berlomba menyumbang agar Putra bisa kuliah. Alhasil terkumpullah dana dan dengannya Putra bisa mendaftar ke Universitas Andalas.
Satu persoalan selesai, namun sepatu, baju dan buku-buku Putra bagaimana. Yayasan pun tak tinggal diam. Mereka turun tangan. Bahkan Ketua Yayasan, Ali Asmar yang baru menjabat sejak Februari 2014, ikut merogoh kocek pribadinya.
Bantuan itu diserahkan Ali ke pihak sekolah, Putra harus ikut acara di Universitas Andalas pada Sabtu (21/6) dalam acara pemberian penghargaan pada pelajar berprestasi di lingkungan yayasan. Bantuan buat Putra diterima wakil kepala sekolah, Siti Bahari.
Pihak sekolah lalu menyerahkannya pada Putra Senin Siang (23/6). Segurat senyum mengembang di wajah putra. Saat itulah dia menyatakan tekadnya untuk belajar dengan baik. Dia tidak ingin mengecewakan almamaternya.
Novri Elida membenarkan cerita Putra. Dia sudah dalam pengawasan pihak sekolah. Dan selama ini dia bisa menjawabnya dengan prestasi. Paling tinggi dia hanya rangking 6. Namun Novri Elida salut dengan kegigihan anak itu.
“Perhatian lebih, kesabaran dan keikhlasanlah modal para guru sekolah swasta dalam mendidik anak-anak yang bersekolah di sini. Kita bentuk mereka dengan perhatian dan kedisiplinan tinggi,” ujar Novri Elida.
Dia mengakui anak-anak didiknya punya kemampuan jauh berbeda satu sama lainnya. Beda dengan sekolah favorit di Padang. Kendati demikian, Novri Elida bangga siswanya yang 314 lulus 100 persen dengan rata-rata yang menggembirakan. (zul)