Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UBH Bantu Persiapkan Pengajar Kurikulum 2013
Padang - Kurikulum 2013 yang harus diterapkan mulai Juli tahun ini hendaknya disambut gembira para pendidik. Sebab tak ada yang berbeda dari kurikulum-kurikulum sebelumnya sejak GBPP 1984.
Hal itu diungkapkan Prof. Dr Bambang Kaswanti Purwo dari Unika Atma Jaya Jakarta pada seminar nasional pembelajaran Bahasa Indonesia dan pengembangan literasi yang diadakan Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta.
“Saya sepakat dengan apa yang diungkapkan Prof. Bambang. Yang berbeda hanya orientasinya. Dalam kurikulum 2013 pembelajaran berorientasi pada pemakaian bahasa supaya terwujud kecakapan berkomunikasi bagi peserta didik secara lisan maupun tulis,” tegas Prof. Agustina dari Universitas Negeri Padang.
Dikatakan Agustina, para guru diminta lebih memerhatikan fungsional bahasa. Fungsionalisme dan konsep-konsep yang melandasi penggunaan bahasa seperti sosiolinguistik, pragmatik dan anasisis wacana harus tetap dipahami guru seoptimal mungkin meski tidak ada dalam buku ajar.
Tanpa kompetensi ini mus tahil guru bisa mewujudkan tujuan pembelajaran bahasa tersebut. Artinya guru tetap harus terus mengulang materi perkuliahan dulu dan menambah kompetensinya dengan banyak membaca dan ikut seminar.
“Mulailah pelajaran menulis dengan membuat karangan deskriptif. Anak didik diajak menulis tentang apa yang dilihat dari gurunya, temannya atau orang tua mereka,” ujar Dr. Taufina.
Bila murid telah punya kebiasaan membaca, ajarlah dia membaca yang tersirat dari bacaan, perkataan atau wacana yang berkembang. Sebab, kata Ketua Yayasan yang menaungi UBH, Prof. Fachri Ahmad, membaca yang tersirat amat dibutuhkan generasi sekarang. Di zaman dimana banyak wacana yang berkembang dari waktu ke waktu.
Kemampuan membaca yang tersirat menambah kemampuan anak didik untuk punya filter dalam dirinya. Mereka punya kearifan dan nilai-nilai yang muncul tumbuh dalam dirinya.
Menurut Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UBH Dr. Yusrita Yanti, berfikir kritis beda dengan kemampuan mengkritik. Berfikir kritis yang muncul karena kepandaian berbahasa bisa menyebabkan seseorang mam- pu memahami bidang keilmuan dengan lebih baik. Sebab mereka bisa mensintesa dari berbagai referensi yang dibacanya.
Yusrita menegaskan kemampuan berbahasa dan berfikir kritis inilah yang menjadi latar belakang mereka mengadakan seminar. Selain itu program pasca sarjana UBH ingin berkontribusi dalam sosialisasi bagi kesuksesan kurikulum 2013.
Yusrita hanya ingin para guru bahasa Indonesia mengambil sikap hadapi, hayati dan nikmati saja kurikulum 2013 agar sukses dalam pembajalaran di sekolah masing-masing. Sebagai pendukung, Yusrita juga menyiapkan ajang lokakarya sehari bagi para guru, dosen dan mahasiswa tersebut, pada Minggu (1/6). (zul)
