Kemenkop Fasilitasi Kemitraan UMKM dan Industri Pariwisata
Padang - Kementerian Koperasi dan UKM, lewat Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, PHRI dan ASITA. Ini tindak lanjut dari keinginan Kementerian Pariwisata untuk ikut memasarkan produk UKM Indonesia.
“Kemitraan antara UKM Sumbar dengan industri pariwisata ini telah dilaksanakan kementerian di NTB. Sumbar juga memiliki potensi wisata yang didukung oleh produk kuliner dan kerajinannya,” ujar Asisten Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Hendrianto di Padang, Kamis (5/6).
Dikatakannya, kemitraan dengan semua pihak amanah undang-undang No. 20/2008. Di NTB ada homestay yang dikelola koperasi. Di sana dipromosikan produk UKM, terutama buatan anggota mereka. Kamar dihiasi dengan kerajinan di sana. Begitu juga makanan dan minuman yang disuguhkan diantaranya produk kuliner mereka.
Kementerian, kata Hendrianto, ingin hal yang sama terlaksana di Sumbar. NTB dan Sumbar diprioritaskan dalam kegiatan kementerian pada 2014. Diharapkan Pemerintah Provinsi Sumbar hendaknya bisa memayungi kemitraan UMKM dengan pelaku pariwisata ini dengan aturan pendukung.
Diungkapkannya bahwa UMKM yang hadir dalam temu mitra yang difasilitasi kementerian ini juga bakal dimitrakan dengan industri pariwisata lewat ASITA dan PHRI Sumbar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar, Burhasman menyambut baik program kemitraan itu. Dikatakannya, pengembangan UMKM membutuhkan kebijakan yang lintas sektoral. Dinas yang dipimpinnya bisa ikut dari segi desain, peningkatan kreatiftas dan promosi lewat industri pariwisata atau pun iven pariwisata.
Ruang gerak UMKM dan koperasi terbuka sekali di sistem kepariwisataan. Yang penting bisa mereka bisa menggali ide-ide kreatif, memanfaatkan momen/iven pariwisata. Dia mencontohkan TdS sebenarnya iven yang amat menguntungkan UMKM. Jadikan produk diminati, bisa karena keanehannya, unik atau rasanya yang sangat enak. “Galilah ide kreatif dan manfaatkan cerita keilmuan di balik objek pariwisata atau dibalik produk untuk mempromosikan produk,” tegasnya.
Dukungan juga diberikan Ketua ASITA, Ian Hanafiah. Menurutnya, sektor pariwisata butuh dukungan dari pelaku UMKM. Dia minta pelaku UMKM untuk tidak sembarangan terhadap wisatawan. Layanan hendaknya prima dan jangan mahal mengatakan terima kasih.
Ian kerap menemukan pengusaha rumah makan dan lainnya yang ‘rusak’ kalkulatornya. Diingatkannya jangan lakukan hal itu karena wisatawan bakal komplain kepada biro perjalanan. “Kami daripada dapat komplain dari tamu, lebih baik tidak bawa tamu ke restoran, outlet oleh-oleh itu,” tegasnya.
Ketua PHRI Sumbar, H. Maulana Yusran, menginformasikan hotel membuka kesempatan untuk UMKM memasok produknya. Namun hotel tentu menerapkan standar tertentu dan kontinuitas pasokan. Sebab pernah hotel di Sumbar mendapat komplain dari tamunya yang keracunan setelah mengonsumsi produk suatu UMKM. (zul)
“Kemitraan antara UKM Sumbar dengan industri pariwisata ini telah dilaksanakan kementerian di NTB. Sumbar juga memiliki potensi wisata yang didukung oleh produk kuliner dan kerajinannya,” ujar Asisten Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Hendrianto di Padang, Kamis (5/6).
Dikatakannya, kemitraan dengan semua pihak amanah undang-undang No. 20/2008. Di NTB ada homestay yang dikelola koperasi. Di sana dipromosikan produk UKM, terutama buatan anggota mereka. Kamar dihiasi dengan kerajinan di sana. Begitu juga makanan dan minuman yang disuguhkan diantaranya produk kuliner mereka.
Kementerian, kata Hendrianto, ingin hal yang sama terlaksana di Sumbar. NTB dan Sumbar diprioritaskan dalam kegiatan kementerian pada 2014. Diharapkan Pemerintah Provinsi Sumbar hendaknya bisa memayungi kemitraan UMKM dengan pelaku pariwisata ini dengan aturan pendukung.
Diungkapkannya bahwa UMKM yang hadir dalam temu mitra yang difasilitasi kementerian ini juga bakal dimitrakan dengan industri pariwisata lewat ASITA dan PHRI Sumbar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar, Burhasman menyambut baik program kemitraan itu. Dikatakannya, pengembangan UMKM membutuhkan kebijakan yang lintas sektoral. Dinas yang dipimpinnya bisa ikut dari segi desain, peningkatan kreatiftas dan promosi lewat industri pariwisata atau pun iven pariwisata.
Ruang gerak UMKM dan koperasi terbuka sekali di sistem kepariwisataan. Yang penting bisa mereka bisa menggali ide-ide kreatif, memanfaatkan momen/iven pariwisata. Dia mencontohkan TdS sebenarnya iven yang amat menguntungkan UMKM. Jadikan produk diminati, bisa karena keanehannya, unik atau rasanya yang sangat enak. “Galilah ide kreatif dan manfaatkan cerita keilmuan di balik objek pariwisata atau dibalik produk untuk mempromosikan produk,” tegasnya.
Dukungan juga diberikan Ketua ASITA, Ian Hanafiah. Menurutnya, sektor pariwisata butuh dukungan dari pelaku UMKM. Dia minta pelaku UMKM untuk tidak sembarangan terhadap wisatawan. Layanan hendaknya prima dan jangan mahal mengatakan terima kasih.
Ian kerap menemukan pengusaha rumah makan dan lainnya yang ‘rusak’ kalkulatornya. Diingatkannya jangan lakukan hal itu karena wisatawan bakal komplain kepada biro perjalanan. “Kami daripada dapat komplain dari tamu, lebih baik tidak bawa tamu ke restoran, outlet oleh-oleh itu,” tegasnya.
Ketua PHRI Sumbar, H. Maulana Yusran, menginformasikan hotel membuka kesempatan untuk UMKM memasok produknya. Namun hotel tentu menerapkan standar tertentu dan kontinuitas pasokan. Sebab pernah hotel di Sumbar mendapat komplain dari tamunya yang keracunan setelah mengonsumsi produk suatu UMKM. (zul)